Pustaka Herbal

Archive for December, 2007

Kunyit

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:39 am

kunir.jpg

KUNYIT

Nama latin: Curcuma domestica

Nama daerah: Kunir; Kunyir; Koneng; Kunyet; Kuning; Kuneh

Deskripsi tanaman: Tumbuhan berbatang basah, tingginya sampai 0,75 m, daunnya berbentuk lonjong, bunga majemuk berwarna merah atau merah muda. Tanaman herba tahunan ini menghasilkan umbi utama berbentuk rimpang berwarna kuning tua atau jingga terang. Perbanyakannya dengan anakan

Habitat: Tumbuh di ladang dan di hutan, terutama di hutan jati. Banyak juga ditanam di perkarangan. dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 2000 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Tumeron; Zingiberon; Seskuiterpena alkohol; Kurkumin; Zat pahit; Lemak hars; Vitamin C

Khasiat: Kholagog; Stomakik; Antispasmodik; Anti inflamasi; Anti bakteria; Kholeretik

Nama simplesia: Curcumae domesticae Rhizoma

Resep tradisional:

Luka dan kurap

Rimpang kunyit 1 jari; Daun asam 1 genggam; Air sedikit, Dipipis, Tempelkan pada luka dan diganti setiap 3 jam

Mencret

Rimpang kunyit 1/2 jari; Rasuk angin 1/2 sendok teh; Ketumbar 3 biji; Buah kayu ules 1 biji; daun trawas 1 helai, Campuran ditumbuk; ditambah air 115 ml dan dididihkan; kemudian disaring, Diminum pagi dan sore; tiap kali minum 100 ml

Nyeri haid

Rimpang kunyit 1 jari; Ketumbar 7 butir; Cengkih 1 butir; Asam kawak; Biji pala, Campuran ditumbuk; ditambah air 110 ml; dan dididihkan; kemudian disaring, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Sakit perut

Kunyit dibakar 1 jari; Kulit batang pulosari 1 jari; Ketumbar 7 biji; Seluruh tanaman patikan cina 1 genggam; Air 1 cangkir, Campuran ditumbuk; ditambah air dan dididihkan sampai diperoleh secangkir; disaring, Bayi umur 5-7 bulan; 1 sendok teh/jam; Anak umur 1-2 tahun; diminum 2 kali sehari; 2 sendok makan; Dewasa; sehari minum 3 kali; 1/2 cangkir

Kumis Kucing

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:38 am

 kumiskucing.jpg

KUMIS KUCING

Nama latin: Orthosiphon stamineus Benth

Nama daerah: Kumis ucing; Brengos kucing; Songot koceng; Remujung; Sesaseyan

Deskripsi tanaman: Tumbuhan berbatang basah, tinggi sampai 1,5 m, daunnya berbentuk bulat telur, bunganya berwarna putih seperti kumis kucing, batangnya berbentuk empat persegi dan mudah di patahkan

Habitat: Tumbuh liar diladang, di tepi sungai dan di tempat-tempat yang tanahnya agak lembab sampai ketinggian 700 m dpl, ada juga yang ditanam sebagai tanaman hias

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Genkosid orthosifonin; Zat lemak; Minyak atsiri; Minyak lemak; Saponin; Sapofonin; Garam kalium

Khasiat: Anti inflamasi; Diuretik

Nama simplesia: Orthosiphonis Herba


Resep tradisional: 


 


Susah kencing


Daun kumis kucing segar 1/4 genggam; Air 1 gelas, Direbus hingga memperoleh cairan 1/2 gelas, Diminum setiap hari 2 kali dan tiap kali minum 1/2 gelas


 


Batu ginjal


Herba kumis kucing 6 g; Herba meniran 7 pohon; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 100 ml


Kencing manis, Daun kumis kucing 20 helai; Daun sambiloto 20 helai; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari; 100 ml


 


Sakit pinggang


Daun kumis kucing segar 1 genggam; Kulit batang pepaya seluas 4 cm2; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Kremah

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:37 am

 kremah.jpg

KREMAH

Nama latin: Alternanthera sessilis (L)

Nama daerah: Daun rusa; Kremak; Sayur udang; Jukuk demah; Kremek; Kremi; Matean

Deskripsi tanaman: Semak, merambat, batang masif, beruas-ruas, warna hijau kekuningan. Daun majemuk berhadapn, bentuk lonjong, ujung dan pangkal runcing, warna hijau. Perbungaan bentuk bulir, diketiak daun dan diujung batang, mahkota bunga berwarna putih kehijauan. Buah kotak, warna cokelat, biji bulat, hitam

Habitat: Tumbuh baik pada tempat terbuka dan cukup air pada ketinggian 1-1000 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Zat lendir; Kalium oksalat

Khasiat: Anti inflamasi; Diuretik; Galaktagog; Kholagog; Antipruritik

Nama simplesia: Alternantherae sessilidis Herba


Resep tradisional: 


 


Peradangan perut :


Herba kremah 3 pucuk; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 3 kali sehari; tiap minum 100 ml



Mencegah uban


Herba kremah beberapa pucuk; Air secukupnya, Diseduh, Setelah dingin digosokkan pada kulit kepala

Komfrey

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:37 am

 konfrei.jpg

KOMFREY

(Symphytum officinale L. )

Famili :   Boroginaceae

Daerah : 

Asing :  Comfrey, knit bone, K’ang fu li (Cina)

Sifat Kimiawi

Kandungan kimia tumbuhan ini yaitu symphytine, echimidine, anadoline, alkaloid pyrrolizidine (Pas), tanin, minyak atsiri, allatonin dan vitamin B1, B2, C dan E.

Efek Farmakologis :   Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisio-nal lain disebutkan, bahwa tanaman ini memiliki sifat dingin, agak sedikit pahit.

Bagian tanaman yang digunakan :   Daun dengan tanpa tangkai atau akar.
Cara budidaya :   Perbanyakan tanaman dengan  menggunakan anakan. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan  cara penyiraman yang  cukup menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar. Tanaman herba, membentuk rumpun, tinggi 20-50 cm. Batang semu, tidak berkayu, bertangkai. Daun tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan kasar, panjang 27-50 cm, lebar 4-14 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk corong, bertaju lima, warna putih kekuningan. Buah bulat, tiap buah terdiri atas 4 biji.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

TEKANAN DARAH TINGGI : Daun segar 4 lembar dilalap, setelah dilemaskan dengan garam dan dicuci. untuk 2 kali atau daun segar 4 lembar di juice, sarinva diminum. untuk 2 kali. atau.

Daun 4 lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas. minum airnya 2 kali sehari.

DIABETES / KENCING MANIS : Daun segar 4 lembar dilalap, setelah dilemaskan dengan garam dan dicuci. untuk 2 kali, Daun segar 4 lembar di juice, sarinya diminum, untuk 2 kali. atau,

Daun 4 lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas, minum airnya 2 kali sehari

TEKANAN DARAH RENDAH : Daun segar 4 lembar dilalap. setelah dilemaskan dengan garam dan dicuci. untuk 2 kali. Atau Daun segar 4 lembar di juice, sarinya diminum, untuk 2 kali, atau Daun 4 lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa : gelas, minum airnya 2 kali sehari.

KOLESTEROL TINGGI : Daun segar 4 lembar dilalap, setelah dilemaskan dengan gamin dan dicuci. untuk 2 kali, Daun segar 4 lembar di juice, sarinya diminum, untuk 2 kali, atau, Daun 4  lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas. minum airnya 2 kali sehari.

LEUKEMIA (RENDAH HB) : Daun segar 4 lembar dilalap, setelah dilemaskandengan garam dan dicuci untuk 2 kali Daun segar 4 lembar di juice, sarinya diminum, untuk 2 kali, atau, Daun 4 lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas, minum airnya 2 kali sehari

PNEUMONIA, ASTHMA, GANGGUAN  PENCERNAKAN BATU GINJAL / KENCING DARAH, GANGGUAN EMPEDU. TUMOR DAN KANKER, AMBEIEN DAN PRURITUS ANI DIARE , ANEMI, PATAH TULANG, LUKA / ALERGI KULIT KEMANDULAN PADA WANITA, REMATIK, PEGAL LINU.  : Daun segar 4 lembar dilalap, setelah dilemaskan dengan garam dan dicuci untuk 2 kali Daun segar 4 lembar di juice, sarinya diminum, untuk 2 kali, atau,Daun 4 lembar direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas, minum airnya 2 kali sehari.

Kola

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:36 am

 cola.jpg

KOLA

Nama latin: Cola Sp

Nama daerah: Kola; Khole; Kolaan

Deskripsi tanaman: tanaman berupa pohon, tinggi lebih kurang 20 meter. Batang bulat, berkayu, keras, permukaan kasar, warna hijau kecokletan. Daun tunggal, tersebar, bertangkai, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 7-19 cm, lebar 2-6 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, mahkota bentuk bintang, bertaju lima, warna kuning keputihan. Buah kotak, bulat memanjang, panjang 8-15 cm, diameter 5-9 cm, warna hijau

Habitat: Tumbuh liar di perkebunan yang cukup lembab pada dataran tinggi 700-1100 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Biji

Kandungan kimia: Alkaloid kafenia; Teobromina; Teofilina; Kolanina; Kolatanin; Kola; Katekol; Kolatin; Kolatein; Merah kola; Minyak lemak; Zat pati; Gula

Khasiat: Stimulan; Antidepresif; Diuretik; Kardiotonik

Nama simplesia: Colae Semen

Resep tradisional: 
 
Penyegar badan dan Migrain :
Biji kola 5 g; Buah cabai jawa 3 g; Rimpang lempuyang 3 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Ki Saat

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:34 am

 ki-saat.jpg

KI SAAT

( Valeriana officinalis L.)

Famili : Valerianaceae.

Daerah :  Jawa : valerian , Sunda : kisaat

Asing :  

 Sifat Ki miawiTumbuhan ini memiliki kandungan kimia yang sudah diketahui antara lain è Minyak atsiri yang berisi ester borneol (campuran asam valerianat, butirat, asetat dan formiat), terpen, dipenten, terpineol dan bonilalkohol. Alkaloida‑alkaloida katinina dan valerianina, Zat penvamak, lemak dan abu. 

Efek Farmakologis :  Tanaman ini memiliki sifat è Rasa agak pedas, agak pahit dan hangat. Akar bersifat penenang.

Bagian tanaman yang digunakan :  Akar dan daun

Budi daya :  Perbanyakan tanaman dengan  menggunakan anakan. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

KEPUTIHAN Daun setengah genggam di rebus dengan 4 gelas air menjadi    2 gelas, saring, minum 2 kali sehari.

GELISAH :Akar sedikit di tumbuk, tambahkan air minum saring, minum

Ki Tajam

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:33 am

 ki-tajam.gif

KI TAJAM

 (Clinacanthus nutans Lindau )

Famili : Acanthaceae 

Daerah :  Sunda : Ki Tajam, Jawa : Dandang Gendis, Jawa Tengah : Gendis

Asing :  

Sifat Kimiawi :   Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia, yang sudah diketahui a. l. saponin, polifenol

Efek Farmakologis : Tanaman ini memiliki sifat Mengefektifkan fungsi kelenjar tubuh, Meningkatkan sirkulasi Diuretic, anti demam, anti diare

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun Segar

Budi Daya : Perbanyakan tanaman dg menggunakan  stek batang. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar. Perlu cukup matahari.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

SUSAH KENCING : Daun segar 15 gram, direbus dengan air 1 gelas selama 15 menit, dinginkan kemudian disaring. minum sekaligus.

DISENTRI : Daun segar segenggam direbus dengan 5 gelas air jadi 3 gelas, minum 3 x 1 gelas

KENCING MANIS : Daun segar 7 lembar ( sakit ringan / gejala awal) atau 21 lembar (sakit  berat ) di rebus dengan air 2 gelas  sampai tinggal satu gelas, dinginkan, minum dua kali sehari.

Catatan :  Resep untuk Kencing manis  tidak tercatat dalam literatur tetapi biasa digunakan di Jawa. Efek abortivurn tanaman ini belum diketahui oleh karena itu wanita hamil sebaiknya tidak menggunakan obat ini.

Ki Tolod

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:32 am

 kitolod.jpg

KI TOLOD

(Isotoma longiflora (L.)Presl )

Famili :  Campanulaceae.

Daerah :  Ki tolod, daun tolod (Sunda), Kendali, sangkobak (Jawa);

Asing :  Ster van Bethlehem karena mahkota bunganya berbentuk bintang.

Sifat KimiawiTumbuhan  ini kaya kandungan kimia yang sudah diketahui a.l. Senyawa alkaloid yaitu lobelin, lobelamin dan isotomin. Daunnya mengandung alkoloid, saponin, flavonoid dan poliferol. PERHATIAN – tanaman ini beracun, untuk setiap kali minum tidak boleh lebih dari 3 lembar daun.

Efek Farmakologis : Getahnya beracun, anti radang, anti neoplastik, anti inflamasi (anti peradangan), analgesik (penghilang nyeri) dan hemostatik (menghentikan perdarahan).

Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh liar di pinggir saluran air atau sungai, pematang sawah, sekitar pagar dan tempat-tempat lainnya yang lembab dan terbuka. Ki tolod dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.100 m dpl. Terna tegak, tinggi mencapai 60 cm, bercabang dari pangkalnya, bergetah putih yang rasanya tajam dan mengandung racun. Daun tunggal, duduk, bentuknya lanset, permukaan kasar, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi melekuk ke dalam, bergigi sampai melekuk menyirip. Panjang daun 5-17 cm, lebar 2-3 cm, warnanya hijau. Bunganya tegak, tunggal, keluar dari ketiak daun, bertangkai panjang, mahkota berbentuk bintang berwarna putih. Buahnya berupa buah kotak berbentuk lonceng, merunduk, merekah menjadi dua ruang, berbiji banyak. Perbanyakan dengan biji, stek batang atau anakan.

Bagian tanaman yang digunakan : Daun, bunga dan seluruh tanaman.
Cara budidaya :    Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan cara penyiraman yang  cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
1. 
SAKIT GIGI : Dua lembar daun dicuci bersih lalu ditumbuk halus, taruh pada lubang gigi yang sakit.
2. 
ASMA, BRONCHITIS, RADANG TENGGOROKAN : Tiga lembar daun dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa satu gelas. Setelah dingin di saring lalu di minum. Lakukan 2 kali sehari, pagi dan sore
3.
 LUKA : Daun secukupnya dicuci bersih lalu ditumbuk sampai halus, tempelkan pada luka lalu di balut dengan kain bersih.  Ganti 2 ‑ 3 kali sehari.
4.
OBAT KANKER : Daun 3 lembar berikut batangnya, di rebus dengan 5 gelas air hingga menjadi 1 – 2  gelas dengan api kecil. Air rebusan di minum beberapa kali hingga habis dalam sehari
5. KATARAK : 1 lembar daun yang sudah bersih ditambah 5 sendok makan air bersihkemudian tulang daun ditekan tekan dengan sendok. Daunnya dibuang, airnya 3-5 tetes diteteskan kemata, didiamkan sejenak, kototan mata dibuang kemudian mata dicuci dengan air rebusan daun sirih.

Ketepeng

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:31 am

 ketepengkebo.jpg

KETEPENG

Nama latin: Cassia alata L.

Nama daerah: Ketepeng China; Ketepeng badak; Daun kupang; Daun kurapa; Kupang-kupang; Ki manita

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi 1-5 meter. Daun menyirip genap, poros daun tanpa kelenjar, daun penumpu lama tetap tinggal dengan pangkal lebar dan ujung meruncing seperti kulit merah cokelat, panjang 6-9 mm. anak daun 8-24 pasang, sepasang yang terbawah langsung terletak diatas pangkal tangkai daun hampir memeluk ranting. Ukuran anak daun 3,5-15 cm kali 2,5-9 cm. Tandan bunga tidak bercabang, tangkai bunga 10-20 cm. Daun pelindung pendek dan rontok sebelum mekar, warna jingga ukuran 3×2 cm. Kelopak berbagi 5. Daun mahkota kuning cerah. Buah polong yang gepeng, bersayap pada kedua sisinya, memecah bila telah masak dan bijinya dapat 50-70 butir.

Habitat: 1-1400 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan : Daun

Kandungan kimia: Glikosida anthrakinon; Resin; Asam krisofanat; Zat samak; Aloe emodin

Khasiat: Laksatif; Parasitisida

Nama simplesia: Cassiae alatae Folium


Resep tradisional: 


 


Kapalan dan Herpes


Daun ketepeng China muda 7 helai; Akar kelembak 1 jari tangan; Buah asam sedikit; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.  


 


Kurap dan Panu :
Daun ketepeng Cina secukupnya; Kapur sirih atau Tawas sedikit; Air sedikit, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

Ketapang

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:30 am

 ketapang.jpg

KETAPANG

Nama latin: Terminalia cattapa L

Nama daerah: Katapang; Ketapa; Gentapang; Hatapang; Lahafang; Katafa; Ketapas

Deskripsi tanaman: Tumbuhan berbatang besar, tingginya sampai 20 m lebih, Daunnya selebar tangan, berbentuk bulat telur, dan dua kali setahun, daunnya runtuh. Bunganya tidak berwarna tetapi harum baunya

Habitat: Tumbuh di hutan dan di tepi pantai sampai ketinggian 800 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Biji ; Kulit kayu ; Daun

Kandungan kimia: Minyak lemak; Tanin; Saponin

Khasiat: Laksatif; Diuretik; Diaforetik

Nama simplesia: Terminaliae Semen


Resep tradisional: 


 


Pelancar ASI dan Pencahar:


Biji ketapang (serbuk)3 biji; Tepung garut 2 sendok makan; Gula aren secukupnya; Air secukupnya, Dibubur, Dimakan seperti makan bubur; di samping untuk melancarkan ASI; dapat juga untuk pencahar ringan.

Kesumba

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:29 am

 kesumba.jpg

KESUMBA

Nama latin: Bixa orellana L.

Nama daerah: Kasumbo; Kasumba; Kasumba keling; Kasombha; Kasupa

Deskripsi tanaman: Tumbuhan perdu, tinggi 2-9 m, mempunyai daun tunggal bertangkai panjang, bentuknya bulat telur, ujung runcing, pangkal rata kadang berbentuk jantung, tepi rata, panjang 8-20 cm, lebar 5-12 cm, dan warna hijau berbintik merah. Bunga tumbuhan ini berwarna merah muda atau putih, diameter 4-6 cm. Buahnya seperti buah rambutan, tertutup rambut sikat berwarna merah tua atau hijau, pipih, panjang 2-4 cm dan berisi banyak biji kecil berwarna merah tua

Habitat: Tumbuh liar di ladang dengan cahaya yang cukup pada dataran rendah hingga 1200 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun

Kandungan kimia: Tannin; Kalsium oksalat; Saponin; Lemak; Glukosida; Damar

Khasiat: Diuretik; Antipiretik

Nama simplesia: Bixi Folium

Resep tradisional: 

Masuk angin :

Daun kesumba 15g; Gula jawa 30 g; Air 500 ml, Direbus selama mendidih selama 15 menit, Diminum pagi dan sore

Demam :

Daun kesumba 10 g; Air 400 ml, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum 3-4 kali sehari

Kemuning

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:29 am

 kemuning1.jpg

KEMUNING

Nama latin: Murraya paniculata (L.)JACK

Nama daerah: Kamuning; Kamuri; Kamoni; Kamone; Kemuning; Kajeri

Deskripsi tanaman: Tanaman berupa pohon, tinggi 3-7 m. Batang berkayu, beralur, warna kecokelatan kotor. Daun majemuk, anak daun 4-7, permukaan licin, bentuk corong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk tandan, panjang mahkota 6-27 mm, lebar 4-10 mm, warna putih. Buah buni, diameter lebih kurang 1 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua merah.

Habitat: Tumbuh liar di ladang pada daerah lembab dengan cahaya cukup di dataran dari 950 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Glukosida murayin; Minyak atsiri; Kadinena

Khasiat: Analgesik; Diuretik; Stomakik

Nama simplesia: Murrayae Folium

Resep tradisional: 

Haid tidak teratur:

Daun kemuning 3 g; Daun pacar kuku 3 g; Rimpang temu lawak 4 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Menguruskan badan:

Daun kemuning 1 genggam; Daun pace 1 genggam; Bangle 1/2 jari kelingking; Air secukupnya, Dipipis, Diulang selama 7 hari; untuk pemeliharaan diminum 2 kali seminggu; tiap kali minum 1/4 cangkir

Keputihan:

Daun kemuning 3 g; Daun pacar kuku 3 g; Herba tapak liman 2 g; Rimpang temu kunci 2 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Reumatik, Daun kemuning 3 g; Akar tembelekan 6g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Kembang Teleng

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:28 am

 kembangteleng01.jpg

KEMBANG TELENG

(Clitoria ternatea L.,)

KLASIFIKASI  – Kembang Telang biasa disebut Clitoria ternatea L.,  termasuk famili tumbuhan Papilionaceae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah Bunga biru, Kembang teleng, bunga talang atau bisi.

SIFAT KIMIAWI - Memiliki berbagai kandungan kimia, yang sudah diketahui a.l : Saponin, flavonoid, alkoloid, ca-oksalat dan sulfur, khusus daunnya : kaemferol 3-glucoside serta triterpenoid. bunganya mengandung delphinidin 3.3′.5′ serta triglucoside, fenol. Akarnya beracun.

 EFEK FARMAKOLOGIS
Akar :  Toksik (beracun), laxative (pencahar), diuretik, perangsang muntah, pembersih darah.
Daun : Mempercepat pematangan bisul
Biji : Obat Cacing, pencahar ringan

BAGIAN TANAMAN YANG BERGUNA - Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan seluruh tanaman.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

1

Abses, bisul :
- Bunga berwarna biru ditumbuk halus, ditambahkan gula jawa secukupnya dipakai menutup bisul/abses.

- Minum air godokan kembang telang putih untuk pencuci darah.
- Setengah genggam daun kembang telang dicuci bersih lalu digiling halus dan tambahkan garam secukupnya untuk ditaruh di bisul.

2

Radang mata merah : Rendam bungaberwarna biru sampai airnya biru dan gunakan sebagai pencuci mata.

3

Busung perut, pembesaran organ perut : Ekstrak akar 5 – 10 gram dalam alkohol.

4

Sakit Telinga : Daun dicuci bersih lalu dilumatkan, air perasannya ditambah garam, hangat-hangat dioleskan kesekitar telinga yang sakit

5

Menghilangkan dahak pada bronchitis kronis : minum godokan akar.

6

Demam: akar kering 0.3 gram, direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi 2 gelas, dinginkan lalu saring dan minum 2 x 1 gelas.

7

Iritasi kandung kemih dan saluran kencing : aturannya sama dengan no 6.


BUDI DAYA – Perbanyak tanaman dengan biji. Biji disemai kemudian tanaman muda dipindahkan ketempat penanaman. Pemeliharaan tanaman ini mudah, seperti tanaman lain dibutuhkan cukup air dengan penyiraman atau dengan menjaga kelembabab tanah. Disamping itu juga dibutuhkan pemupukan terutama pupuk dasar.

Kembang Coklat

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:27 am

 kembangcoklat01.jpg

KEMBANG COKLAT

( Zephyranthes candida Herb.)

Famili :  Amaryllidaceae.

Daerah : 

Asing : Zhong Lan (Cina)

Sifat Kimiawi :  Tumbuhan ini kaya  kandungan kimia, yang sudah diketahui antara lain  Lycorine, Tazettin, Haemanthidne, Nerinine

Efek Farmakologis :

Tanaman ini memiliki sifat: Rasa agak manis, penurun panas.

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun, biji, batang dan akar.

 Budi Daya : Perbanyakan tanaman dengan  menggunakan umbi atau anakan (bisa juga biji). Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan  cara penyiraman yang  cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

GANGGUAN FUNGSI HATI TERUTAMA UNTUK GEJALA HEPATITIS TAHAP AWAL : 10 gram tanaman di rebus, minum.

AYAN / EPILEPSY : 10 gram herba tambah gula batu, di rebus, minum.

KEJANG PADA ANAK : Daun segar 10 ‑ 15 gr. tambah gula batu, di rebus, minum dan atau Herba 10 ‑ 15 gram tambah garam, di lumatkan, untuk ditempelkan pada pelipis.

Kembang Bugang

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:26 am

 kembangbugang.jpg

KEMBANG BUGANG

(Clerodendrum calamitosum L. )

Famili :  Verbenaceae

Daerah :  Melayu : kayu gambir , Sunda : kembang bugang

Asing :  

Sifat Kimiawi : Tumbuhan ini kaya kandungan kimia, yang sudah diketahui antara lain saponin, flavonoida, polifenol, alkaloid dan kalium.

Efek Farmakologis :  Tanaman ini memiliki sifat: menghentikan pendarahan, penghancur batu ginjal.

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun dan akar.

Budi Daya :  Perbanyakan tanaman dg menggunakan biji atau stek batang. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dgn cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

DEMAM : Daun segar 10 g di cuci lalu di rebus dengan 1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin di saring, minum sekaligus.

WASIR : Daun 9 lembar dicuci bersih dan di potong‑potong seperlunya, rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin di saring, minum dengan madu seperlunva.

DIGIGIT ULAR. : Sepotong akar sebesar ibu jari di cuci bersih dan di bilas dengan air matang, lalu di kunyah, airnva di telan, ampasnya di letakkan pada luka gigitan.

KENCING BATU : Daun 8 lembar dicuci lalu di potong‑potong seperlunva, rebus dengan 3 gelas air sampai  tersisa  2 1/4gelas. Setelah dingin di saring, minum dengan madu seperlunya. Sehari 3 kali 3/4 gelas.

KENCING NANAH : Daun kembang bugang 6 lembar , daun pegagan 10 lembar, daun picisan 20 lembar, daun  jintan 25 lembar, daun meniran 12 sirip, daun murbei 9 lembardaun sendok 8 lembar, daun kumis kucing 50 lembar, daun bengang 8 lembar, gula enau 3 jari, dicuci dan di potong ‑ potong  seperlunya. Rebus dengan 4 gelas air bersih sampai airnya tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum.  Sehari 3 x 3/4 gelas.

Kemangi

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:25 am

 kemangi.jpg

KEMANGI

 

Nama latin: Ocimum basilicum L

Nama daerah: Kemangi; Kemangen; Surawung

Deskripsi tanaman: Tanaman semak yang tegak dengan bau khas, tinggi mencapai 1,5 meter. Bunganya berbibir berbentuk bulir warna putih dan merah muda. Bijinya bila kena air menggelembung seperti agar-agar.

Habitat: Tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 1300 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Eugenol; Sineol; Metilkhavikol; Protein; Kalsium

Khasiat: Diaforetikum

Nama simplesia: Ocimume Folium


Resep tradisional: 
 


Perut kembung :
Daun kemangi secukupnya, Dicuci bersih, Dimakan sebagai lalapan

Kelor

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:23 am

 kelor.jpg

KELOR

Nama latin: Moringa oliefera Lamk

Nama daerah: Kilor; Celor; Kerol; Kelo; Keloro

Deskripsi tanaman: Tanaman berupa pohon yang tingginya lebih kurang 8 meter. Batang berkayu, bulat, bercabang, berbintik hitam, warna putih kotor. Daun majemuk, panjang 20-60 cm, anak daun bulat telur, tepi rata, ujung berlekuk, tulang menyirip ganjil, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, letak di ketiak daun, panjang 10-30 cm, mahkota warna putih. Buah polong, panjang 20-45cm, berisi 15-25 biji, warna cokelat kehitaman.

Habitat: Tumbuh liar di ladang pada daerah cukup air, dengan cahaya matahari penuh pada ketinggian 300-900 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Akar

Kandungan kimia: Pterigospermin; minyak atsiri; Alkaloid moringin; Moringinin; Minyak lemak

Khasiat: Diuretik; Stimulan; Ekspektoran; Analgesik

Nama simplesia: Moringae Radix


Resep tradisional:


 


Bengkak dan Beri-beri :


Kulit akar kelor secukupnya; Masoyi secukupnya; Kuncup cengkih secukupnya; Akar pepaya; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian yang bengkak


 


Sakit kepala dan Rematik:


Akar kelor secukupnya; Air sedikit, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada pelipis dan di belakang telinga. Pada penderita rematik, pasta tersebut dioleskan pada bagian yang terasa nyeri; Diborehkan 3 kali sehari.

Keladi Tikus

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:22 am

 keladitikus.jpg

KELADI TIKUS  ( Coleus amboinicus Lour.)

Famili : Araceae

Daerah : bira kecil, daun panta susu, ki babi, trenggiling mentik, ileus, kalamoyang.

Asing :  Rodent tuber

Sifat Kimiawi :  Belum banyak diketahui atau tidak dipublikasikan.

Efek Farmakologis :  Hasil penelitian menunjukkan  Membunuh / menghambat pertumbuhan sel kanker.  Menghilangkan efek buruk chemoterapi Bersifat antivirus dan anti bakteri

Bagian tanaman yang digunakan : Umbi dan seluruh tanaman, daun sampai akar, yang terbaik digunakan segar dalam bentuk juice (sari tanaman) dan langsung diminum sesudah diolah. ***LIHAT PERINGATAN ***
Cara budidaya :   Perbanyakan tanaman dg menggunakan umbi. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yang  cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
KORENG : Umbi secukupnya di tumbuk halus, tempelkan ke tempat sakit.

FRAMBUSIA : Umbi secukupnya di tumbuk halus, tempelkan ke tempat sakit,

MENETRALISIR RACUN NARKOBA : Umbi sebesar ujung jari di cuci bersih dengan air matang, dikeprek dan di telan. Lakukan beberapa kali sehari. (Cara penggunaan ini berdasarkan informasi lisan dari seorang pemakai)

KANKER: PAYUDARA, PARU-2, USUS BESAR, RECTUM, LIVER, PROSTAT, GINJAL, LEHER RAHIM, TENGGOROKAN, TULANG, OTAK, LIMPA, LEUKEMIA, EMPEDU DAN PANKREAS.

Tanaman lengkap 3 batang (50 gr.) di rendam setengah jam, di cuci, ditumbuk halus, peras dengan kain, tambahkan 1/2 sendok madu, campur, minum. Lakukan 3 kali sehari. Air perasan harus segera diminum, tidak boleh disimpan.

PERINGATAN

  1. WANITA HAMIL DILARANG MINUM TANAMAN OBAT INI.

  2. TANAMAN DIHALUSKAN DENGAN CARA DITUMBUK TIDAK BOLEH DIBLENDER.

  3. BILAMANA TANGAN GATAL TERKENA BUBUK INI, CUCILAH DENGAN AIR GULA.

  4. HINDARKAN MATA DARI TUMBUKAN BAHAN INI.

  5. AIR SARI KELADI TIKUS, HARUS DIMINUM SEGERA, TIDAK BOLEH DISIMPAN.

  6. TANAMAN KELADI TIKUS MUDAH BUSUK BILA BASAH, JADI HARUS DISIMPAN DIKULKAS, DENGAN CARA, TANAMAN DIBUNGKUS DENGAN KERTAS DULU, DIMASUKKAN KEDALAM PLASTIK, SIMPAN DI KULKAS.

  7. MINUM RAMUAN KELADI TIKUS SAAT PERUT KOSONG, SEKURANG-KURANGNYA SEJAM SEBELUMNYA.

  8. PASIEN YANG BARU OPERASI, TUNGGU 2 MINGGU BARU BOLEH MINUM RAMUAN INI.

  9. PENGARUH MINUM RAMUAN INI, 2 HARI PERTAMA MUAL, SEDIKIT DIARE, TINJA BERWARNA HITAM DAN BADAN LESU.

  10. KADANG PASIEN MUAL DAN MUNTAH SETELAH LAMA MINUM RAMUAN INI, HENTIKAN PEMAKAIAN SAMPAI GEJALA HILANG BARU MINUM LAGI ATAU DOSIS DIKURANGI.

Keji Beling

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:21 am

 kejibeling.jpg

KEJI BELING

Nama latin: Reulla napifera Zoll Mor

Nama daerah: Daun picah beling; Keci beling; Enyoh kelo

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, tinggi 1-2 meter. Batang beruas, bula, berbulu kasar, percabangan monopodial, warna hijau. Daun tunggal, berhadapan, bentuk lanset atau lonjong, tepi beringgit, ujung dan pangkal runcing, [anjang 9-18 cm, lebar 3-8 cm, bertangkai pendek, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, mahkotabentuk corong, berambut, warna ungu. Buah bulat, warna coklat.

Habitat: Tumbuh liar di ladang pada daerah ternaungi di ketinggian 1-750 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Garam alkali; Asam silikat; Karbonat; Triterpena

Khasiat: Diuretik

Nama simplesia: Reullaea Folium


Resep tradisional: 
 


Kencing batu :


Daun Keji beling 1 gram; daun tembuyung 10 gram; Air 100 ml, Dibuat infus; diseduh; dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml; Apabila dipipis diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir 


 

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

KENCING KURANG LANCAR  : Daun segar 25 gram dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air bersih selama 15 merit. Setelah dingin disaring lalu minum sekaligus. Lakukan pada pagi atau siang hari.

BATU KANDUNG KENCING : Segenggam daun keji beling dan 1 tongkol jagung muda dicuci, lalu direbus dengan 2 liter air bersih sampai tersisa 1 liter. Setelah dingin disaring, lalu diminum. Lakukan pagi dan sore hari, masing­-masing I/2 gelas.

BATU KANDUNG EMPEDU : Daun keji beling  segar 5 lembar, daun ungu segar 7 lembar, dicuci bersih lalu di rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 2 gelas Minum seperti teh

KENCING MANIS : Daun segar 20 ‑ 50 gram, direbus dengan 6 gelas air sampai tersisa 3 gelas, dinginkan, disaring. Minum 3 kali 1 gelas per hari.

BATU GINJAL : Daun keji Beling 50 gram, meniran segar 7 batang, daun ungu 7 lembar.  Dicuci dulu direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi 2 gelas dinginkan, saring, minum 3 kali 2/3 gelas per hari. ATAU Daun keji beling 5 lembar, daun tempuyung segar 5 lembar tongkol jagung 6 buah, dicuci lalu direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum, habis dalam sehari.  Lakukan setiap hari sampai rasa sakit menghilang.

SEMBELIT : Ambil 1/2 genggam daun keji  beling segar, cuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum.

WASIR : Daun segar 20 ‑ 50 gram, di rebus dengan 6 gelas air sampai tersisa 3 gelas, dinginkan, saring. Minum 3 kali 1 gelas per hari.

Kecubung

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:20 am

 kecubung.jpg

KECUBUNG

Nama latin: Datura metel L

Nama daerah: Kecubung; Kacubung; Kacobhung cobung

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu batang berkayu, bentuk batang bengkok tinggi dapat mencapai 1,5 m. Percabangan membentang lebar dan biasanya ke arah satu sisi saja. Daun berhadapan, bentuk bulat bercangap. Bunganya berwarna ungu atau putih berbentuk terompet. Buahnya kotak bulat berduri, bijinya banyak berwarna coklat bulat pipih

Habitat: Tumbuh liar di hutan dan di pekarangan

Bagian tanaman yang digunakan: Bunga ; Daun ; Buah

Kandungan kimia: Alkaloid(skopolamina, hiosiamina, atropina); Flavonoid

Khasiat: Spasmolitik; Antitusif; Analgesik

Nama simplesia: Daturae albae Flos


Resep tradisional: 


 


Bengkak:


Daun kecubung segar secukupnya; Minyak kelapa secukupnya, Daun dibasahi dengan minyak kelap, kemudian dipanggang lalu diremas, Ditempelkan pada kulit yang bengkak


 


Kuping kopok:


Buah kecubung 1 buah; Minyak jaitun/kelapa secukupnya, Buah kecubung dikeluarkan isinya lalu dipipis halus dan dicampur dengan minyak tadi lalu dimasukkan kembali pada kelontongannya lalu dipanasi sebentar hingga minyaknya panas; lalu diperas dengan kain, Minyak yang keluar kita gunakan untuk menetesi kuping yang sakit.


 


Sembelit:


Daun kecubung beberapa helai; Minyak kelapa sedikit, Diremas-remas, Letakkan remasan daun tersebut di perut.


Ketombe, Daun kecubung (kering)7 helai; Minyak kelapa 5 sendok makan, Masukkan dalam botol dan tutup; kemudian dipanaskan di bawah sinar matahari selama 7 hari, Dioleskan pada kulit kepala 2 kali sehari; pagi; sore.


 


Reumatik:


Daun kecubung segar 14 helai; Minyak kelapa 10 sendok makan, Daun kecubung dirajang dan dijemur kemudian ditambah minyak kelapa, simpan campuran tersebut selama 3 hari. Peras dan pisahkan minyaknya kemudian dihangatkan, Gosokkan pada bagian yang nyeri; bila perlu; tambahkan sedikit minyak kayu putih.


 


Terkilir:


Daun kecubung 14 helai; Sereh (dicacah halus)2 buah; Minyak kelapa 2 gelas, Campuran dididihkan lalu disimpan semalam di tempat tertutup. Campuran dipisahkan; minyaknya dihangatkan, Gosokkan pada bagian yang nyeri

Kayu Ules

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:19 am

 kayuules.jpg

KAYU ULES

Nama latin: Helicteres isora L

Nama daerah: Jelumpang; Dlumpang; Puteran; Kayu mules

Deskripsi tanaman: Tumbuhan perdu, tinggi sampai 4 m. Berbatang basah, kulit kayu berserat-serat. Buah berbentuk dari 5 helai daun yang mengumpul seperti pilin. Tiap-tiap buah bertabung dan mempunyai satu baris biji kecil-kecil warna coklat tua.

Habitat: Tumbuh di daerah kering pada semak belukar, di hutan-hutan pada dataran rendah sampai 1200 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan:  Buah ; Akar ; Kulit kayu

Kandungan kimia: Pigmen kloroplas; Pitosterol; Saponin; Gula; Flobatanin; Asam hidroksikarboksilat

Khasiat: Stomakik; Antipiretik

Nama simplesia: Isorae Frustus, Isorae Cortex


Resep tradisional: 
 


Obat cacing:


Buah kayu ules 11 biji; air 110 ml, Direbus mendidih 15 menit, Diminum pagi dan sore.


 


Rematik:


Kulit kayu ules 10 g; Akar 10 g; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum pagi sore.

Kayu Rapat

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:18 am

 kayurapet.jpg

KAYU RAPAT

Nama latin: Parameria laevigata

Nama daerah: Kayu rapet; Megat sih; Pegat sih; Madak si

Deskripsi tanaman: Semak menjalar, batang membelit, berkayu, berambut, cokelat. Daun tunggaal, lanset, berhadapan, pangkal dan daun meruncing, daun muda berwarna hijau kemerahan setelah tua berwarna hijau. Perbungaan bentuk malai, mahkota bentuk corong, warna putih. Buah polong. Biji bulat, warna cokelat kehitaman.

Habitat: Tumbuh liar di hutan pada dataran rendah samapai 1200 dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Kulit kayu

Kandungan kimia: Tanin; Asam protokatekol

Khasiat: Stomakik; Antipiretik; Desinfektan

Nama simplesia: Parameriae Cortex


Resep tradisional: 
 


Mengecilkan rahim:


Kayu rapat 2 jari tangan; Rimpang Kunci pepet 7 buah; Kayu Mesoyi 1 jari tangan; Air 100 ml , Direbus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Keputihan:


Kayu rapat 1 jari tangan; Kayu Mesoyi 1 jari tangan; Majakan 1/2 butir; Rimpang kunci pepet 2 buah; Kemukus 6 butir; Cengkih 2 buah; Jahe Sukun 1 buah; Jintan Putih 5 butir; Air 110 ml., Direbus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Kayu Putih

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:17 am

 kayuputih.jpg

KAYU PUTIH  

Nama latin: Melaleuca leucadendra L.

Nama daerah: Kayu gelam; Gelam; Ghelam; Waru gelang; Ilano

Deskripsi tanaman: tanaman berupa pohon tinggi lebih kurang 10 m. Batang berkayu, bulat, kulit mudah mengelupas, bercabang, warna kuning kecokletan. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan berbulu, pertulangan sejajar, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, panjang 7-8 cm, mahkota 5 helai, warna putih. Buah kotak, beruang tiga, tiap ruang terdapat banyak biji.

Habitat: Tumbuh di daerah berawa-rawa bahkan dalam air, dataran rendah ataupun di pegunungan.

Bagian tanaman: Daun ; Minyak dari daun ; Buah

Kandungan kimia: Minyak atsiri (Kayuputol, terpineol); Tanin

Khasiat: Diaforetik; Analgesik; Desinfektan; Ekspektoran; Antispasmodik

Nama simplesia: Melaleucae leucadendrae Folium, Oleum Malaleucae leucadendrae aethereum


Resep tradisional: 
 


Batuk, Demam, Nyeri haid:


Minyak kayu putih secukupnya; Jeruk nipis 1 buah; Kapur sirih 2 jari tangan, Peras buah jeruk nipis, kemudian tambahkan Kapur sirih dan Minyak kayu putih kemudian diaduk sampai tercampur, Dioleskan pada punggung dan dada; Untuk nyeri haid dioleskan pada perut.

Nyeri sendi, Akar pepaya 10 potong; Garam 1 sendok makan; Minyak kayu putih 2 sendok makan, Masukkan ramuan tersebut dalam botol sirup, tambahkan arak atau alkohol, tutup rapat. Botol tersebut dijemur di sinar matahari selama 10 hari.

Kayu Manis Cina

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:16 am

KAYU MANIS CINA ( Cinnamomum cassia Presl.)  

Famili :  Lauraceae

Daerah : 

Asing :  Chinesse Cinnamomum, Rou gui (Cina)

Sifat Kimiawi :  Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia, yang sudah diketahui antara lain  Kulit Kayu : Cinnamic aldehyde, cinnamyl acetate, cinnzcylanol cinnzcylanine. phenypropyl acetate, tanin, saffrol. Buah mentah: Cinnamic aldehyde. cournarin, traps‑cinnamic acids, beta sitosterol, Choline, protoca-techuric acid, syringe acid.

 Efek Farmakologis :  Tanaman ini memiliki sifat  Kulit kayu : Pedas. manis. panas. Sedikit beracun (toksik). Masuk meridian ginjal, limpa dan kandung kemih. Menguatkan “Yang”, menghangatkan limpa dap ginjal, melancarkan peredaran darah, menghilangkan sakit­menambah napsu makan (stomakik) peluruh kentut (karminatif). Ranting muda : Pedas. manis. hangat. Masuk merindian kandung kemih. jantung  dan paru‑paru, Peluruh keringat (diaforetik) mengendurkan otot (muscle relaxant), menghangatkan dan melancar-kan sirkulasi di meridian, melancarkan pernapasan.

Bagian tanaman yang digunakan : Kulit kayu dan ranting, dikeringkan untuk penyimpanan.
Cara budidaya :
 Perbanyakan tanaman dg menggu-nakan biji. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pe-mupukan terutama pupuk dasar. Tanaman ini. menghendaki tempat yang cukup matahari atau sedikit terlindung.   

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
SAKIT LAMBUNG, DIARE, GANGGUAN PENCERNAKAN : Bubuk kulit kayu 1,5 gram diseduh dengan air hangat, Minum, lakukan 2 kali sehari.

SHOCK, DEMAM, KAKI TANGAN BERKERINGAT. BATUK KARENA PARU‑PARU DINGIN, SESAK NAPAS, REMATISM, NYERI HAID (DYSMENORRHEA), TIDAK DATANG HAID (AMENORRHEA) TEKANAN DARAH TINGGI, NYERI PADA UJUNG JARI (FROST‑BITE), TUMOR DALAM PERUT (TUMOR ABDOMEN) : Bubuk kulit kayu 0,5 ‑ 2,5 gram diseduh dengan air hangat, Minum, lakukan 2 kali sehari.

DEMAM, FLU KARENA ANGIN DINGIN, BATUK SESAK BENGKAK  MENAHAN CAIRAN, BENGKAK KARENA JANTUNG DAN GINJAL. SAKIT OTOT (RHEUMATISM), NYERI HAID, TIDAK DATANG HAID. EPILEPSI : Bubuk ranting muda 1,5 ‑ 6 g  digodok atau digiling menjadi bubuk, diseduh dengan air hangatMinum.

KONTRA INDIKASI : Sedikit beracun dan wanita hamil, penderita demam, Yin lemah, Yang kuat, penyakit pendarahan, dilarang minum.

Kayu Manis

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:15 am

 kayumanis.jpg

KAYU MANIS

Nama latin: Cynamomum aromaticum Nees

Nama daerah: Sinamon; Keningar

Deskripsi tanaman: Tinggi tanaman 6-12 m, akan tetapi pada tempat yang cocok bisa mencapai 18 m. Batang berwarna keabu-abuan dan berbau harum, percabangan dekat tanah, pada ranting tua sering tidak tumbuh daun-daun baru (gundul), tajuk kekar, dan mahkotanya berbentuk kerucut. Daun berbentuk bulat telur, agak memanjang dengan ujung bulat/tumpul, meruncing dan lokos (licin dan mengkilap), dan berwarna merah pada waktu masih muda, dan berubah menjadi hijau tua di permukaan atas dan pucat keabu-abuan di bagian bawah. Bunga kecil, tidak menarik, berbentuk lonceng dengan bau yang tidak enak, dan tumbuh dalam ketiak daun dan dipucuk-pucuk ranting, warnanya putih kekuning-kuningan, dan berbunga pada bulan Juli hingga September. Buah buni memanjang berwarna merah coklat.

Habitat: Tumbuh liar di ladang dan hutan pada dataran 1-1200 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Kulit kayu

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Tanin; Damar; lendir

Khasiat: Analgesik; Stomakik; Aromatik

Nama simplesia: Cinnamomi aromatici Cortex


Resep tradisional: 


 


Mencret


Kayu manis(Padang)3 g; Buah kayu ules 2 g; Rasuk angin 2 g; Rimpang kencur segar 8 g; Ketumbar 3 g; Jintan hitam 2 g; Mungsi 2 g; Rimpang lempuyang 10 g; Pulosari 2 g; Buah adas 2 g; Biji kedaung 4 butir; Air sedikit, Dipipis hingga menjadi pasta, Ditapalkan di seluruh bagian perut; dan pakailah gurita

Katu

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:14 am

 katu01.jpg

KATU

Nama latin: Sauropus androgynus L. Merr

Nama daerah: Katuk; Daun katu; Katukan; Katuk manuk; Babing; Memata; Cekop manis; Simani; Keratur

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu tinggi sampai 3,5 m. Daun berbentuk bulat telur berwarna hijau, menyirip ganda dan jumlahnya banyak. Buah berwarna putih, kecil dan melekat pada cabang dan rantingnya.

Habitat: Tumbuh liar dihutan-hutan dan ladang-ladang yang terbaik di daerah dengan ketinggian 1300 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Akar

Kandungan kimia: Zat protein; Lemak; Kalsium; Posfor; Besi; Vitamin A; Vitamin B1; Vitamin C

Khasiat: Antipiretik; Laktagog

Nama simplesia: Sauropi Folium


Resep tradisional: 


 


Demam:


Akar katu 4 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 100 ml; diulang selama 4 hari.


 


Pelancar ASI:


Daun katu segar beberapa helai; Daun bayam; Daun lembayung; Daun Sawi; Kacang panjang; Kacang koro; Jantung pisang; Buah labu air; Buah labu merah, Dijadikan sayuran, Dimakan secara bergantian

Kasingsat

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:13 am

 kasingsat.jpg

KASINGSAT (Cassia occidentalis Linn )

Famili :   Caesalpiniaceae

Daerah :   Sunda : kasingsat, Jawa : menting,  Melayu : kopi andelan, Simalor : bulinggang alas

Asing :  

Sifat Kimiawi :  Tumbuhan ini kaya kandungan kimia yang sudah diketahui. antara lain : Daun :   Demeric anthrone glikosida, suatu pencahar yang sangat poten. Akar  :  alfa-hydroxy‑anthraquinone 1,8‑dihydroxy-anthraquinone ,  quercetin, emodin, heterodi-anthrone, chrysophanol.

Efek Farmakologis :  Rasa pahit, dingin, agak beracun. Pengobatan radang mata, perangsang nafsu makan. pencahar (laxans), anti radang.

 Bagian tanaman yang digunakan :   Daun, biji, batang dan akar dikeringkan dibawah sinar matahari.
Cara budidaya :  
Perbanyakan tanaman dg menggunakan biji. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

SAKIT KEPALA BERULANG : Daun 30 gram direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi dua gelas, dinginkan. Saring, minum 2 kali 1 gelas.

DIGIGIT ULAR : Segenggam daun segar dilumatkan, kemudian diperas, airnya diminum dan ampasnya dibubuhi pada luka gigitan.

SULIT BUANG AIR BESAR, DYSENTRI, DIARE KRONIS, NYERI ULU HATI : Tanaman kering 10 ‑ 15 gram direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi dua gelas. dinginkan saring,  minum 2 kali 1 gelas.

BATUK, SESAK NAPAS, RADANG PARU-PARU : Tanaman kering 10 ‑ 15 gram direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi dua gelas. Dinginkan saring, minum 2 kali 1 gelas.

KEPUTIHAN (FLOUR ALBUS) : Daun muda yang dikukus sebagai lalap berkhasiat terhadap keputihan.

HEPATITIS : Tanaman kering 10 ‑ 15 gram direbus dengan 4 gelas air sampai  menjadi dua gelas dinginkan, saring, minum 2 kali 1 gelas.

Kapulaga

In Tanaman Herbal Kategori K on December 16, 2007 at 6:12 am

 kapulogo.jpg

KAPULAGA

Nama latin: Amamum campactum soland 

Famili : Zingiberaceae

Daerah :  Bali :  Kapolagha, Jawa :  Kapulaga, Madura: Kapulaga, Sunda : Palago, Minangkabau : Pelaga puwar

Asing : Ronde Kardemon

Sifat Kimiawi :  Tumbuhan ini kaya kandungan kimia, yang sudah diketahui a.l. minyak terbang‑sineol, terpineol dan alfaborneol, beta-kamper, protein, gula, lemak dan silikat.

Efek Farmakologis :  Tanaman ini memiliki sifat  Rasa agak pahit, hangat. Penurun panas, anti tusif, peluruh dahak dan anti muntah.

Bagian tanaman yang digunakan :  Seluruh tanaman dan buah.
Cara budidaya : Perbanyakan tanaman dg menggunakan rimpang. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar.

Wilayah :
Kapulaga berasal dari hutan tropis di daerah India Selatan dan Srilangka. Kapulaga diperkenalkan ke negara Eropa oleh bangsa Arab sebagai bumbu. Tanaman ini juga tumbuh dinegara Thailand, Kamboja, Malaysia Barat, dan Filipina, terutama di wilayah berbukit yang dingin, didaerah lembah dan terlindung. Di Indonesia kapulaga ditemukan tumbuh liar dan ditanam di wilayah perbukitan di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Ukuran :
Tumbuh-tumbuhan ini tumbuh berumbi akar dengan tinggi antara 2 – 3 m. Daunnya lonjong berujung runcing dengan panjang sekitar 30 cm dan lebar 10 cm. Bunganya (simetris dua sisi, berwarna kemerah-merahan dan terbagi menjadi 3 bagian) dapat dibedakan menurut perbedaan jenis varietas setempat. Dari sana akan dihasilkan buah kotak berwarna putih yang harum sehingga bisa digunakan sebagai obat maupun bumbu. Kapulaga yang diperdagangkan terdiri atas kapsul kering, bersisi tiga, lonjong atau bundar, berwarna abu-bu coklat, yang terbagi atas tiga ruang, berisi padat dengan benih bersudut yang berwarna coklat. Biji-biji tersebut mempunyai rasa pedas, kamfer, berbau wangi, dan terasa dingin pada lidah jika dimamah. Buahnya berada dalam tandan berbentuk bulat kecil , kadang berbulu dan berwarna kuning kelabu. Kapulaga sabrang (Elettaria cardamomum L.) Maton yang berasal dari lran lebih harum baunya.Jika terlalu banyak mengunakan kapulaga maka akan mengganggu kerja cairan lambung.

Kandungan & Manfaat :
Ekstrak (dimasak dengan air) dari seluruh tumbuh-tumbuhan dipakai sebagai obat terhadap flatulensi atau meteorismus (penimbunan gas dalam usus), kolik dan kelemahan. Tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk halus bersama air dipakai sebagai obat gosok untuk penyakit encok. Ekstrak dari umbi akar dipergunakan sebagai obat demam. Bijinya adalah bahan mamah, dipakai juga sebagai bumbu (untuk kue) dan sebagai obat, contohnya untuk mengobati kesulitan bernapas, mulut berbau (futor exore) dan untuk mengobati batuk dan gatal ditenggorokan dengan memamahnya. Dalam bahan biji terdapat minyak kardamon yang mengandung terpineol, terpinylasetat, sineol, borneol dan sabinen, zat putih telur, calcium-oksalat dan silisium. Selain itu juga mengandung minyak atsiri (alfaborneol dan betakamfer) yang berkhasiat untuk mengencerkan dahak, memudahkan pengeluaran angin dari perut, menghangatkan, membersihkan darah, menghilangkan rasa sakit, mengharumkan.


Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
1.  KEJANG PERUT, REMATIK : Semua bagian tumbuhan ini termasuk akarnya direbus selama lebih kurang lebih seperempat jam dengan disaring, airnya diminum.

2.  DEMAM, PANAS : Batang direbus selama lebih kurang seperempat jam kemudian disaring. airnya diminum.
3.  Batuk : Buah dikunyah.
4.  Mencegah Mual : buah direbus dan dimakan.
5.  Bau Badan : rimpang direbus secukupnya dan diminum airnya.
6. 
RADANG AMANDEL, GANGGUAN HAID, KEJANG PERUT, OBAT KUMUR, INFLUENZA, RADANG LAMBUNG, SESAK NAPAS, BADAN LEMAH (SEBAGAI TONIKUM) : Buah direbus, makan dan masih banyak yang lainnya.

Srigading

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:07 am

 srigading.jpg

SRIGADING

Nama latin: Nyctanthes arbor tritis Linn.

Nama daerah: Sari gading; Suruh gading; Sirih gading; Kembang Pengantin

Deskripsi tanaman: Srigading tumbuhan asli India, tersebar luas di seluruh dunia yang beriklim panas. Tumbuh liar di semak-semak atau pinggir hutan, namun sering ditanam sebagai tanaman hias dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m dpl. Perdu atau pohon kecil, tinggi ± 9 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, berambut, kasap, putih kotor. Daun tunggal, bulat telur, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, permukaan kasap, tulang menyirip, panjang 4 – 11 cm, lebar 2 – 8 cm, duduk berhadapan, hijau. Bunga majemuk bentuk malai, harum, kelopak bentuk corong, berambut, panjang ± 7 mm, tabung mahkota silindris, jingga, mahkota 3 – 5, putih, mekar waktu malam hari dan berjatuhan pada pagi hari. Buah kotak, bulat telur, pipih, panjang ± 1,5 m, cokelat. Biji keras, cokelat. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.

Habitat: Tumbuh liar di hutan dan di ladang pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl.

Bagian tanaman: Bunga ; Daun

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Alkaloid niktantina; Manit; Safron; Asam tanat; Metil salisilat; Resin; Gula

Khasiat: Emenagog; Ekspektoran

Nama simplesia: Nyctanthi Flos


Resep tradisional: 


Demam


Bunga (daun)Sri gading 7 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Sosor Bebek

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:06 am

 sosorbebek.jpg

SOSOR BEBEK

Nama latin: Kalanchoe pinnata (Lamk.)Pers

Nama daerah: Cocor bebek; Ceker bebek; Suru bebek; Daun sejuk; Kicongcorang

Deskripsi tanaman: Semak semusim, batang segi empat, lunak, beruas, warna hijau. Daun tunggal, tebal, bentuk lonjong, tepi bergerigi, warna hijau. Perbungaan bentuk malai, mahkota bentuk corong warna merah. Buah kotak, warna ungu bernoda putih

Habitat: Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Glikosida; Briofilin; Lendir; Magnesium malat; Damar

Khasiat: Antipiretik; Diuretik; Ekspektoran; Antibakteri

Nama simplesia: Kalanchoe pinnatae Folium


Resep tradisional: 


 


Demam


Daun sosor bebek secukupnya, Dipotong-potong, Ditempelkan pada perut.


 


Luka

daun sosor bebek secukupnya; Air sedikit, Diparut dan ditambah air sedikit, Dibobokkan pada luka; diperbaharui setiap 3 jam

Sirih

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:05 am

 sirih.jpg

SIRIH

(Piper betle L.)

Famili :  Piperaceae ; Chavica auriculata Miq.; C. betle Miq.

Indonesia : Sirih / Seureuh
English : Kind of plant, betel vine

 Uraian tanaman : Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 – 8 cm dan lebar 2 – 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 – 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 – 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

Kandungan & Manfaat:
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan.

Kegunaan :
1. Batuk
2. Sariawan
3. Bronchitis
4. Jerawat
5. Keputihan
6. Sakit gigi karena berlubang (daunnya)
7. Demam berdarah
8. Bau mulut
9. Haid tidak teratur
10. Asma
11. Radang tenggorokan (daun dan minyaknya)
12 Gusi bengkak (getahnya)

Pemakaian Luar :
1. Eksim
2. Luka bakar
3. Koreng (pyodermi)
4. Kurap kaki
5. Bisul
6. Mimisan
7. Sakit mata
8. Perdarahan gusi
9. Mengurangi produksi ASI
10. Menghilangkan gatal

Keterangan :
-Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam Iubang hidung.

Sidaguri

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:04 am

 sidaguri.jpg

SIDAGURI
(Sida rhombifolia L. )

Famili : Malvaceae 

Sidaguri (Sida rhombifolia Linn atau Sida retusa Linn.) Sidaguri tumbuh liar di tepi jalan, halaman berrumput, hutan, ladang, dan tempat-tempat dengan sinar matahari cerah atau sedikit terlindung. Tanaman ini tersebar pada daerah tropis di seluruh dunia dari dataran rendah sampai 1.450 m dpl. Perdu tegak bercabang ini tingginya dapat mencapai 2 m dengan cabang kecil berambut rapat. Daun tunggal, letak berseling, bentuknya bulat telur atau lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pertulangan menyirip, bagian bawah berambut pendek warnanya abu-abu, panjang 1,5-4 cm, lebar 1–1,5 cm. Bunga tunggal berwarna kuning cerah yang keluar dari ketiak daun, mekar sekitar pukul 12 siang dan layu sekitar tiga jam kemudian. Buah dengan 8–10 kendaga, diameter 6–7 mm. Akar dan kulit sidaguri kuat, dipakai untuk pembuatan tali. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.

 Bagian yang digunakan sebagai obat adalah akar, daun dan bunga, tapi lebih sering akarnya.  Sidaguri digunakan sebagai obat untuk sakit gigi, mulas, gatal, kudis, cacing kerawit dan sengatan lebah.

Daerah :  Saliguri, Kahindu.

Asing :   Sida hemp, Yellow barleria atau walis-walisan

Sifat Kimiawi :  Daun – alkoloid, calsium oksalat, tanin, saponin, phenol, asam amino, minyak terbang. Zat phlegmatic untuk expectorant dan lubricant. Batang – Calsium oksalat dan tanin. Akar – alkoloid, steroid dan efedrine.

Efek Farmakologis :  Tanaman – manis, pedas dan sejuk. Masuk meridien jantung, hati, paru, usus besar dan kecil. Anti radang (anti inflamasi), peluruh kencing (diuretik) dan menghilangkan sakit (analgetik). Akar – manis tawar, sejuk.

Cara budidaya : Dengan biji atau stek, pemeliharaannya mudah.   Semak, batang berkayu, bulat, warna putih kehijauan. Daun tunggal, berseling, bentuk jantung, ujung bertoreh, berbulu rapat, warna hijau. Bunga tunggal, bulat telur, di ketiak daun, mahkota bunga berwarna kuning. Buah batu, buah muda berwama hijau, buah tua berwarna hitam.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
1.  Perut mulas : Akar dan jahe dikunyah dan ditelan airnya.
2.  Rhematik : Seluruh tumbuhan termasuk akar sebanyak 60 gr kering, digodok dan diminum.
3.  Asam urat tinggi : Lima batang akar, cuci, potong kecil dan rebus dengan 2 gls air sampai mendidih, tuang kegelas berikut akar dan tutup semalaman, esoknya diminum sebelum sarapan. rebus sekali lagi untuk sorenya.
4.  Cacing Kremi : Daun 1/5 genggam dicuci dan digiling halus, tambah 3/4 cangkir air matang dan sedikit garam, peras dan minum 2x sehari.
5.  Sakit gigi : Akar dikunyah.
6.  Sengatan lebah : Bunga dilumatkan dan tempel.
7.  Asma : Akar 60 gr ditambah 30 gr gula pasir, godok dan airnya diminum.

RAMUAN DAN TAKARAN

Cacing Keremi
Ramuan:
Daun Sidaguri 9 helai, Bunga Sidaguri 3 kuntum, Air 110 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus.

Cara pemakaian:
Diminum 2 kali sehari, tiap kali minum 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang selama 4 hari.

Disentri
Ramuan:
Herba Sidaguri 5 gram, Herba daun Sendok 4 gram, Air 110 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus.

Cara pemakaian:
Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang selama 14 hari.

Disengat Lebah
Gosokkan bunga Sidaguri pada tempat yang disengat.

Ketombe dan Kurap
Ramuan:
Daun Sidaguri (senbuk) 1 sendok makan, Minyak Kelapa 100 ml

Cara pembuatan:
Dididihkan sebentar kemudian dienaptuangkan.

Cara pemakaian:
Digosokkan pada kulit kepala.

CATATAN : Wanita hamil dilarang minum. 

Serai

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:03 am

 seraiwangi.jpg

SERAI

Nama latin: Andropogon nardus Linn.

Nama daerah: Sereh; Sereh seri; Sorani

Deskripsi tanaman: Semak tahunan, batang tidak berkayu, putih kotor. Daun tunggal, bentuk lanseet, berpelepah, pangkal pelepah memeluk batang, warna hijau. Perbungaan bentuk malai, karangan bunga berseludang, warna bunga kuning keputihan. Buah bulat panjang, pipih, warna putih kekuningan.

Habitat: Tumbuh liar di tepi sungai atau tempat ynag cukup air, cukup sinar matahari pada dataran rendah 900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Minyak atsiri (geraniol, sitronelal, dan eugenolmetileter)

Khasiat: Antiinflamasi; Diaforetik; Stomakik; Emenagog; Analgesik

Nama simplesia: Andropogonae Herba


Resep tradisional: 


 


Rematik


Akar serai 15 g, Diambil minyaknya, Oleskan pada tempat yang nyeri pada pagi dan sore hari.


 


Haid tidak teratur


Akar serabut 7 g; Daun muda 12 g; Air 110 ml, Rebus hingga mendidih, Diminum pagi dan sore

Senggugu

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:02 am

 senggugu.jpg

SENGGUGU

(Clerodendrum serratum  (L.) Moon) Tumbuh liar pada tempat-tempat terbuka atau agak terlindung, bisa ditemukan di hutan sekunder, padang alang-alang, pinggir kampung, tepi jalan atau dekat air yang tanahnya agak lembap dari dataran rendah sampai 1.700 m dpl. Senggugu diduga tumbuhan asli Asia tropik. Perdu tegak, tinggi 1 – 3 m, batang berongga, berbongkol besar, akar warnanya abu kehitaman. Daun tunggal, tebal dan kaku, bertangkai pendek, letak berhadapan, bentuk bundar telur sampai lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi tajam, pertulangan menyirip, kedua permukaan berambut halus, panjang 8 – 30 cm, lebar 4 – 14 cm, warnanya hijau. Perbungaan majemuk bentuk malai yang panjangnya 6 – 40 cm, warnanya putih keunguan, keluar dari ujung-ujung tangkai. Buah buni, bulat telur, masih muda hijau, setelah tua hitam. Perbanyakan dengan biji.

Famili :  Verbenaceae

Nama lain : Singgugu (Sunda). srigunggu, sagunggu (Jawa).; Kertase, pinggir tosek (Madura). senggugu (Melayu).; Sinar baungkudu (Batak Toba), tinjau handak (Lampung),; San tai hong hua (China).;

Sifat Kimiawi :   Daun : mengandung kalium, sedikit Natrium dan Alkoloid ; Kulit Akar : glikosida fenol ; Kulit Batang : senyawa triterpenoid, asam oleanolat, asam quertaroat dan asam serratogerat ; Kulit akar : Glikosida fenol, manitol dan sitosterol.  Efek Farmakologis : Sifatnya pahit, pedas dan sejuk serta menghilangkan rasa sakit.

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun, kulit batang dan bunga.

Cara Budidaya : Dengan cara stek.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Tulang patah, Luka terpukul, digigit ular, bisul : Tanaman ditumbuk lumat lalu tempelkan ke yang luka

Borok berair, Rematik  : daun segar ditumbuk lalu digodok dan direndamkan ke bagian yang sakit

Perut busung, Cacingan : Daun diseduh dangan temulawak dan garam lalu diminum

Asma, bronchitis, Susah kencing : Minum seduhan akarnya.

Malaria, Memulihkan tenaga sehabis melahirkan, Menjernihkan suara

Sembung

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 6:00 am

 sembunglegi.jpg

SEMBUNG

Nama latin: Blumea balsamifera (L.)DC

Nama daerah: Sembung legi; Sembung utan; Sembung Gantung; Sembung mingsa; Kamandhin

Deskripsi tanaman: Pohon, tinggi lebih kurang 2 m, batang tegak, bagian atas berbulu, bau aromatis, warna hijau kotor. Daun tunggal, tersebar, helai daun lonjong, pangkal dan ujung meruncing, tepi bergerigi, berbulu. Perbungaan bentuk tandan, tumbuh diketiak daun dan ujung batang, mahkota berwarna putih kekuningan. Buah kotak, bentuk silindris, berambut warna putih kecokelatan. Biji pipih, warna putih.

Habitat: Tumbuh pada daerah cukup cahaya, tidak terlalu kering, tersebar di pulau Jawa mulai dataran rendah sampai 2000 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Akar

Kandungan kimia: Minyak atsiri (sineol, borneol, kamfer); Glikosida; Flavanol; Tanin

Khasiat: Diaforetik; Ekspetoran; Diuretik; Antirematik

Nama simplesia: Blumeae Folium


Resep tradisional: 


 


Meningkatkan empedu


Daun sembung 4 helai; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Selesma


Daun sembung 5 helai; Daun sembukan 1 genggam; Air 110 ml, Dibuat infus atau dipipis, Diminum 2 kali sehari, tiap kali minum 100 ml; apabila dipipis diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 1/4 cangkir.


 


Demam

Daun sembung secukupnya; Air 1 panci, Direbus sampai mendidih, Basahi handuk kecil dengan ramuan tersebut; kemudian digunakan untuk membasuh badan; muka; kaki; dan tangan

Sembukan

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:59 am

 sembukan.jpg

SEMBUKAN

Nama latin: Paederia foetida L.

Nama daerah: Daun kentut; Kahitutan; Kasembukan; Bintaos; Gumi siki

Deskripsi tanaman: Semak semusim, membelit, batang masif beruas, berakar, dari buku-buku tumbuh akar, warna cokelat. Daun tunggal, berhadapan, bulat telur, berbulu. Perbungaan bentuk malai, mahkota putih. Buah batu, warna kuning

Habitat: Tumbuh liar di pagar dan tebing sungai pada ketinggian 1-1000 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkaloid indol; Paederina; Asperulosina; Paederosida; Skandosida; Desasetilasperulosida

Khasiat: Antiinflamasi; Stomakik; Antirematik; Diuretik; Karminatif

Nama simplesia: Paederiae Folium


Resep tradisional: 


 


Maag


Daun sembukan segar 1 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir


 


Perut kembung


Daun sembukan segar 1 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir


 


Herpes

Daun sembukan segar 1 genggam; Daun lampes 1 genggam; Air sedikit, Dipipis, Diborehkan pada kulit yang sakit

Semanggi

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:58 am

 semanggi.jpg

SEMANGGI

Nama latin: Hydrocotyle sibthorpiodes Lamk.

Nama daerah: Daun asam kecil; Calincing; Mala-mala; Cembicenan

Deskripsi tanaman: Semak menjalar atau merayap, berongga beruas-ruas, ruas yang bersentuhan, dengan tanah keluar akar, warna hijau. Daun bulat, ujung rompang, warna hijau. Bunga kecil keluar di ketiak daun, mahkota bentuk corong, warna kuning keputihan. Buah buni, lonjong, buah muda berwarna hijau, dan buah tua berwarna hitam

Habitat: Tumbuh pada tempat yang terkena sinar matahari atau agak rindang pada dataran rendah hingga ketinggian 3000 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Saponin; Zat samak

Khasiat: Antiinflamasi; Diuretik

Nama simplesia: Hydrocotyle sibthorpioidi Herba


Resep tradisional: 


 


Batuk


Herba semanggi gunung segar 25 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


Asma


Daun semanggi secukupnya; Air secukupnya, Dimasak, Dimakan sebagai sayuran

Seledri

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:57 am

 seledri.jpg

SELEDRI

Nama latin: Apium graveolens L

Nama daerah: Sledri; Seladri; Sadri; Sederi; Seleri; Seldri; Daun sop

Deskripsi tanaman: Daunnya berpangkal pada batang dekat tanah, berbentuk lekuk tangan, baunya agak sedap.

Habitat: Banyak ditanam di sawah dan di ladang yang tanahnya agak lembab di daerah pegunungan.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan ;Biji

Kandungan kimia: Asparagin; Manit; Zat pati; Lendir; Pentosan; Glutamina; Tirosin; Flavon glukosida; Vitamin; Kolin; Linase; Zat pahit; Minyak atsiri

Khasiat: Stomakik; Diuretik; Antispasmodik

Nama simplesia: Apii Herba


Resep tradisional: 
 


Asam urat


Biji seledri 2 g; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 1 ramuan.


 


Reumatik


Bonggol seledri (potong tipis-tipis)2 buah; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 100 ml.


 


Tekanan darah tinggi


Herba seledri segar 250 g; air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1 ramuan

Sangitan

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:56 am

 sangitan1.jpg

SANGITAN

(Sambucus javanica Reinw. ) Famili :  Caprifoliaceae

Daerah :  Abur (Aceh), babalat (bengkulu), Brobos kebo (jawa), kerak nasi (sunda)

Asing :   Shuo diao, pa-so ma (Cina)

 Sifat Kimiawi :   Mengandung minyak atsiri, cyanogenic glucoside, ursolic acid, KNO, B-sitosterol, A-amyrin palmitate, tanin. Buahnya mengandung saponin dan flavonoida.

Efek Farmakologis : Rasanya manis sedikit pahit dan sifatnya hangat. Herba ini masuk meridien hati dan berkhasiat sebagai peluruh kencing, menghilangkan bengkak dan nyeri serta melancarkan sirkulasi. Akarnya berkhasiat meredakan kolik dan menghilangkan pembengkakan. Buah berkhasiat peluruh kencing, pembersih darah, pencahar dan perangsang muntah.

Cara Budidaya : biasanya dengan setek atau bijinya.

Bagian tanaman yang digunakan :  Akar, herba serta bunga yang dijemur sampai kering bila akan disimpan.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

1. Badan bengkak pada penyakit ginjal dan beri-beri : cuci 30-60 g herba sangitan berikut akarnya, lalu potong seperlunya, rebus dalam 3 gls air sampai tersisa 1 gls, saring setelah dingin dan minum sekaligus dipagi hari.

2. Rhematik, sakit pinggang, bengkak akibat terpukul : rebus 15-30 gr tumbuhan sangitan kering dalam 3 gls air sampai tersisa 1 gls, setelah dingin disaring dan gunakan untuk 2 kali minum, pagi dan sore, air ini bagus juga untuk kompres bagian yang bengkak.

3. Rubela : seluruh tumbuhan secukupnya dibersihkan dan dipotong lalu direbus dengan 3-5 ltr air sampai mendidih lalu hangat-hangat digunakan untuk mandi.

4. Sakit Kuning : cuci akar kering 30-50 gr atau 90 gr akar basah lalu potong seperlunya, tambahkan daging sapi sama banyak lalu di Tim, setelah dingin air diminum dan dagingnya dimakan.

5. Bengkak akibat terpukul, patah tulang : cuci 20 gr akar kering, potong dan tambahkan 400 cc air putih dan 2 sloki arak putih, rebus sampai airnya tinggal setengahnya. Tambahkan  gula pasir 30 gr dan diaduk rata, setelah dingin saring dan airnya diminum untuk 2 x minum pagi dan sore

Sambiloto

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:54 am

 sambiloto.jpg

SAMBILOTO

Nama latin: Andrographis paniculata

Sinonim :
= Andrographis paniculata, Ness. = Justicia stricta, Lamk. = J.paniculata, Burm. = J.latebrosa, Russ.

Familia :
Acanthaceae

Nama daerah: Ki Oray, Ki Peurat, Takilo (Sunda). bidara, sadilata, sambilata,; takila (Jawa). pepaitan (Sumatra).; Chuan xin lian, yi jian xi, lan he lian (China), xuyen tam lien,; cong cong (Vietnam). kirata, mahatitka (India/Pakistan).; Creat, green chiretta, halviva, kariyat (Inggris).;

Deskripsi tanaman: Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lernbap, atau di pekarangan. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl. Terna semusim, tinggi 50 – 90 cm, batang disertai banyak cabang berbentuk segi empat (kwadrangularis) dengan nodus yang membesar. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 2 – 8 cm, lebar 1 – 3 cm. Perbungaan rasemosa yang bercabang membentuk malai, keluar dari. ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir berbentuk tabung;kecil- kecil, warnanya putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panj ang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal dan ujung tajam, bila masak akan pecah mernbujur menjadi 4 keping-Biji gepeng, kecil-kecil, warnanya cokelat muda. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.
 Syarat Tumbuh a. Iklim · Ketinggian tempat : 1 m – 700 m di atas permukaan laut · Curah hujan tahunan : 2.000 mm – 3.000 mm/tahun · Bulan basah (di atas 100 mm/bulan): 5 bulan – 7 bulan · Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan): 4 bulan – 7 bulan · Suhu udara : 250 C – 320 C · Kelembapan : sedang · Penyinaran : sedang b. Tanah · Tekstur : berpasir · Drainase : baik · Kedalaman air tanah : 200 cm – 300 cm dari permukaan tanah · Kedalaman perakaran : di atas 25 cm dari permukaan tanah · Kemasaman (pH) : 5,5 – 6,5 · Kesuburan : sedang – tinggi 2. Pedoman Bertanam a. Pegolahan Tanah · Buatkan lubang tanam berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm b. Persiapan bibit · Biji disemaikan dalam kantong plastik. c. Penanaman · Bibit ditanam pada lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Andrografin; Andrografoloid; Panikulin

Khasiat: Antiinflamasi; Antipiretik; Analgesik; Diuretik; Stomakik; Antibengkak

Nama simplesia: Andrographidis Herba


Resep tradisional: 
 


Gatal-gatal


Daun sambiloto 1 g; Jahe 1 g; Ngokilo 1 g; Akar wangi 1 g, Semua bahan ditumbuk halus seperti bubuk, Diminum 3x sehari.


 


Kudis


Daun sambiloto segar 1 genggam; Belerang sedikit, Campuran ditumbuk hingga halus sampai rata, Dilumurkan pada kulit yang sakit; dan lakukan setiap hari hingga sembuh.


 


Demam digigit serangga atau binatang berbisa


Daun sambiloto 1 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; ampas dioleskan pada tempat gigitan.


 


Kencing manis


Daun sambilata 25 helai; Daun kumis kucing 25 helai; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Radang usus bantu


Daun sambiloto; Air Secukupnya, Dipipis atau diseduh , Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; apabila ramuan dibuat seduhan maka diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Tifus


Daun sambiloto 17 helai; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.

Kaki bengkak, Daun sambiloto; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Diparamkan pada kaki setiap pagi dan sore.

Sambung Nyawa

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:53 am

 sambung_nyawa.jpg

SAMBUNG NYAWA

(Gynura Procumbens Back)

Herba, berdaging. Batang memanjat, rebah, atau merayap, bersegi, gundul, berdaging, hijau keunguan, menahun. Daun berbentuk helaian daun, bentuk bulat telur, bulat telur memanjang, bulat memanjang, ukuran panjang 3,5 – 12,5 cm, lebar 1- 5,5 cm, ujung tumpul, runcing, meruncing pendek, pangkal membulat atau rompang. Tepi daun rata, bergelombang atau agak bergigi. Tangkai daun 0,5 cm sampai 1,5 cm. Permukaan daun kedua sisi gundul atau berambut halus. Perbungaan dengan susunan bunga majemuk cawan, 2- 7 cawan tersusun dalam susunan malai (panicula) sampai malai rata (corymb), setiap cawan mendukung 20-35 bunga, ukuran panjang 1,5- 2 cm, lebar 5-6 mm. Tangkai karangan dan tangkai bunga gundul atau berambut pendek, tangkai karangan 0,5- 0,7 cm. Brachtea involucralis dalam berbentuk garis berujung runcing atau tumpul, panjang 0,3 – 1 cm. Lebar 0,6 – 1,7 cm, gundul, ujung berwama hijau atau coklat kemerahan. Mahkota merupakan tipe tabung, panjang 1 – 1,5 cm, jingga kuningan atau jingga. Benang sari berbentuk jarum, kuning, kepala sari berlekatan menjadi satu. Buah berbentuk garis, panjang 4 – 5 mm, coklat. Daun mempunyai susunan dan fragmen yang sesuai dengan sifat anatomi keluarga tumbuhan bunga matahari (Asteraccae = Compositae). Waktu berbunga Januari – Desember. Di Jawa perbungaan jarang ditemukan. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa pada ketinggian 1 – 1200 m dpl, terutama tumbuh dengan baik pada ketinggian 500 m dpl. Banyak ditemukan tumbuh di selokan, semak belukar, hutan terang, dan padang rumput . Secara kultur jaringan, eksplan yang terbaik untuk penumbuhan kalus G. procumbens adalah tangkai daun yang ditaburkan. Media yang terbaik untuk penumbuhan kalus adalah media RTK yaitu media RT dengan air kelapa 10%. Pemberian kombinasi pupuk N dan P memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil produksinya. Pemakaian BA 1 – 4 mg/l memberikan kondisi yang baik untuk multiplikasi tunas. Cara perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan stek batang. Pertumbuhan batang dan daun cepat sehingga dapat segera dimanfaatkan. Tanaman akan tumbuh baik pada tempat ternaungi karena helaian daun lebih tipis dan lebar, sehingga lebih enak untuk dimakan segar.

 Famili :  Compositae

Efek Farmakologis : Bersifat dingin, netral, anti neoplastik, menurunkan tekanan darah.

Cara Budidaya : Dengan stek dan sedikit terlindung tempatnya.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Maag : Daun mentah dilalap secara teratur.

Kena bisa ulat dan semut hitam : Daun mentah segar 1 lembar digosok kebagian yang kena ulat samapi keluar air/getahnya lakukan 2 jam sekali.

Kolesterol tinggi : Daun mentah 3 lembar dicuci dan dijadikan lalapan, bisa juga di juice, lakukan secara teratur.

Ambeien, Lever, Tumor : Seperti Kalecterol.

Diabetes melitus : Seperti kolesterol.

Radang pita tenggorok, sinusitis : Sama seperti Tekanan darah tinggi.

Tekanan darah tinggi : Seperti kolesterol tetapi daunnya 4 lembar.

Sambang Darah

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:52 am

 sambangdarah.jpg

SAMBANG DARAH

Nama daerah: Remek daging

Deskripsi tanaman: Perdu, batang berkayu, percabangan menggarpu, bergetah, warna hijau kecoklatan. Daun tunggal, bulat telur, sampai lanset, permukaan atas berwarna hijau, permukaan bawah berwarna ungu sampai coklat. Perbungaan tumbuh di ketiak daun dan di ujung batang. Buah kotak, bulat, berwarna merah.

Habitat: Tumbuh di pekarangan rumah sebagai tanaman hias pada ketinggian 1-900 m dpl.

Bagian tanaman: Daun

Kandungan kimia: Flavonoid; Saponin; Tanin

Khasiat: Emenagog

Nama simplesia: Ez coecariae folium  


Resep tradisional: 


 
Pendarahan
Daun sambang darah 9 helai; Garam sedikit; Air secukupnya, Dipipis atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir

Saga

In Tanaman Herbal Kategori S on December 16, 2007 at 5:51 am

 sagamanis.jpg

SAGA

Nama latin: Abrus precatorius Linn

Nama daerah: Saga manis; Sogo telik; Si manis; Sagacai; Saga areuy; Piling-piling

Deskripsi tanaman: Perdu, merambat dan membelit, batang berkayu bercabang, batang muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hijau kecokelatan. Daun majemuk, berselang-seling, menyirip ganjil, anak daun bulat telur, warna hijau. Perbungaan bentuk tandan. Buah polong. Biji bulat telur, warna merah bernoda hitam

Habitat: Tumbuh liar di semak belukar dan sebagai tanaman pekarangan pada ketinggian 250-900 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Akar; Daun; Biji

Kandungan kimia: Glisirhizin; Prekatorina; Abrin; Trigonelina; Kholina; Zat beracun toksalbumin glikosida; Hemoglutinin; Zat racun abrulin

Khasiat: Antiinflamasi; Diuretik; Antitusif; Parasitisida

Nama simplesia: Abri Folium


Resep tradisional: 
 


Batuk


Daun saga 1 genggam; Buah adas 5 butir; Kayu pulasari 1/2 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Sariawan


Daun Saga 2 g; Daun Pegagan 2 g; Rasuk angin 1 g; Kulit kayu turi 1/2 jari tangan; Akar manis 1 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Wasir


Daun saga 1 genggam; Herba Pegagan 1 genggam; Daun Patikan Cina (serbuk)1 sendok teh; Akar Kelembak (serbuk)1/2 sendok teh; Rimpang temu lawak 7 keping; Air 110 ml , Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Lidah Buaya

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:47 am

 lidahbuaya.jpg

LIDAH BUAYA

Nama latin: Aloe vera Linn.

Sinonim :
Aloe barbadensis, Mill. Aloe vulgaris, Lamk.

Familia :
Liliaceae

Nama daerah:  Ilat boyo; Letah buaya; Jadam Lidah buaya (Indonesia), Crocodiles tongues (Inggris); Jadam (Malaysia), Salvila (Spanyol), Lu hui (Cina);

Deskripsi tanaman: Tumbuhan liar di tempat yang berhawa panas atau ditanam orang di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya agak runcing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi/ berduri kecil, permukaan berbintik-bintik, panjang 15-36 cm, lebar 2-6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60-90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan (jingga), Banyak di Afrika bagian Utara, Hindia Barat. a. Batang Tanaman Aloe Vera berbatang pendek. Batangnya tidak kelihatan karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Melalui batang ini akan muncul tunas-tunas yang selanjutnya menjadikan anakan. Aloe Vera yang bertangkai panjang juga muncul dari batang melalui celah-celah atau ketiak daun. Batang Aloe Vera juga dapat disetek untuk perbanyakan tanaman. Peremajaan tanaman ini dilakukan dengan memangkas habis daun dan batangnya, kemudian dari sisa tunggul batang ini akan muncul tunas-tunas baru atau anakan. b. Daun Daun tanaman Aloe Vera berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifaat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) sebagai bahan baku obat. Tanaman lidah buaya tahan terhadap kekeringan karena di dalam daun banyak tersimpan cadangan air yang dapat dimanfaatkan pada waktu kekurangan air. Bentuk daunnya menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas dipinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 – 75 cm, dengan berat 0,5 kg – 1 kg, daun melingkar rapat di sekeliling batang bersaf-saf. c. Bunga Bunga Aloe Vera berwarna kuning atau kemerahan berupa pipa yang mengumpul, keluar dari ketiak daun. Bunga berukuran kecil, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, dan panjangnya bisa mencapai 1 meter. Bunga biasanya muncul bila ditanam di pegunungan. d. Akar Akar tanaman Aloe Vera berupa akar serabut yang pendek dan berada di permukaan tanah. Panjang akar berkisar antara 50 – 100 cm. Untuk pertumbuhannya tanaman menghendaki tanah yang subur dan gembur di bagian atasnya.

Habitat: Tumbuh liar di tempat yang berhawa panas.

Bagian tanaman yang digunakan: Daging daun

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rasa pahit, dingin. Anti radang, pencahar (Laxative), parasitiside. Herba ini masuk ke meridian jantung, hati dan pancreas. KANDUNGAN KIMIA: Aloin, barbaloin, isobarbaloin, aloe-emodin, aloenin, aloesin, Betabarboloin; Damar.

Khasiat: Anti inflamasi; Laksatif; Stomakik; Ekspektoran.

Nama simplesia: Succus Aloe inspissatus

Resep tradisional: 
BAGIAN YANG DIPAKAI: Daun, bunga, akar, pemakaian segar,

KEGUNAAN:
1. Sakit kepala, pusing.
2. Sembelit (Constipation).
3. Kejang pada anak, kurang gizi (Malnutrition).
4. Batuk rejan (Pertussis), muntah darah.
5. Kencing manis (DM), wasir.
6. Peluruh. haid.
7. Penyubur rambut.

PEMAKAIAN:
Daun.. 10 – 15 gram, bila berbentuk pil: 1,5 – 3 gram.
Atau berupa bubuk (tepung) untuk pemakaian topikal.

PEMAKAIAN LUAR:
Daun dipakai untuk koreng, eczema, bisul, terbakar, tersiram air panas, sakit kepala (sebagai pilis), caries dentis (gigi berlubang), penyubur rambut.
a. Penyubur rambut:
Daun lidah buaya segar secukupnya dibelah, diambil bagian dalam
yang rupanya seperti agar-agar, digosokkan ke kulit kepala sesudah
mandi sore, kemudian dibungkus dengan kain, keesokan harinya
rambut dicuci. Dipakai setiap hari selama 3 bulan untuk mencapai
hasil yang memuaskan.

b. Luka terbakar dan tersiram air panas (yang ringan):
Daun dicuci bersih, ambil bagian dalamnya, tempelkan pada bagian
tubuh yang terkena api/air panas.

c. Bisul:
Daun dilumatkan ditambah sedikit garam, tempelkan pada bisulnya.

Leunca

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:45 am

 leuncak.jpg

LEUNCA

Nama latin: Solanum nigrum L

Nama daerah: Rampi; Ranti; Piit; Boose; Bobase

Deskripsi tanaman: Tumbuhan semusim, tinggi 30-175 cm, bercabang bayak. Daunnya letaknya berseling, berkelompok, bentuk bulat telur, ujung dan pangkal meruncing, tepi berombak sampai rata. Bunga majemuk malai, jumlahnya 2-10 kuntum, warna putih atau lembayung. Bunga majemuk malai, jumlahnya 2-10 kuntum, warna putih atau lembayung. Buahnya buni, bulat, diameter 0,8-1 cm, terdapat dalam tandan, warna hijau, bila masak menjadi ungu kehitaman atau hitam, berkilap, berisi banyak biji. Rasanya renyah, sedikit, dan agak langu.

Habitat: Tumbuh liar di berbagai tempat pada dataran rendah sampai 3000 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Glikoalkaloid solanin; Solasonin; Solamargin; Solasodin; Solanidin; Diosgenin; Tigogenin; Atropin; Saponin; Zat samak; Minyak lemak; Kalsium; Fosfor; Zat besi; Vitamin A dan C

Khasiat: Analgesik; Antiradang; Antibakteri

Nama simplesia: Solani Folium


Resep tradisional: 


 


Demam


Daun leunca 70 g; Air 5 gelas, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum 3-4 kali sehari

Leng Lengan

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:44 am

 langlengan.jpg

LENG LENGAN

Nama latin: Leucas lavandulifolia.Smith

Nama daerah: Paci-paci (Sunda), sarap nornor (Madura). daun setan, ; Lenglengan, lingko-lingkoan, nienglengan, plengan (Jawa); Gofu hairan (Ternate), laranga (Tidore).

Deskripsi tanaman: Tumbuh liar di tanah kering sepanjang tepi jalan, tanah terlantar dan kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian kurang dari 1.500 m dpi. Terna semusim, tegak, tinggi 20-60 cm. Batang berkayu, berbuku-buku, bentuknya segi empat, bercabang, berambut halus, warnanya hijau. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai. Helaian daun bentuknya lanset, ujung dan pangkainya runcing, tepi bergerigi, panjang 1,5-10 cm, lebar 2-10 mm, warnanya hijau muda. Bunga kecil-kecil, warnanya putih berbentuk lidah, tumbuh tersusun dalam karangan semu yang padat. Buahnya buah batu, warnanya coklat. Biji bulat, kecil, warnanya hitam. Herba ini mempunyai khasiat yang sama dengan Leucas zeylanica (L.) R.Br. Perbanyakan dengan biji.

Habitat: Tumbuh di tegalan, di pinggir jalan yang kering pada ketinggian 1500 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Pahit, pedas, hangat. Penenang, antiseptik. KANDUNGAN KIMIA: Daun dan akar: Saponin, flavonoida dan tanin. Daun juga mengandung minyak atsiri.

Khasiat: Sedatif

Nama simplesia: Leucas lavanduli foliae Herba


Resep tradisional: 


 


Batuk


Daun leng-lengan 3 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Kejang


Daun leng-lengan (serbuk)1 sendok teh; Air mendidih 1 gelas, Diseduh, Diminum seperti minum teh; untuk anak-anak 3 kali sehari tiap kali minum 1 sendok teh.


 


Penenang


Daun leng-lengan 1 genggam; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Lempuyang Gajah

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:43 am

 lempuyanggajah.jpg

LEMPUYANG GAJAH

Nama latin: Zingiber zerumbet Val

Nama daerah: Lempuyang kebo; Lempuyang kapur; Lampojang paek

Deskripsi tanaman: Tumbuhan semak semusim, tinggi lebih kurang 1 meter. Batang tegak, semu, membentuk rimpang. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan licin, panjang 24-40 cm, lebar 10-15 cm, warna hijau muda. Bunga majemuk, bentuk bongkol, tumbuh dari pangkal rimpang, warna merah. Buah bulat panjang, diameter lebih kurang 4 mm, warna hitam.

Habitat: Banyak dijumpai di daerah teduh atau ternaungi pada ketinggian 1-1200 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Jinjerol; Resin; Zat pahit; Gula

Khasiat: Analgesik; Stimulan

Nama simplesia: Zingiberis zerumbeti Rhizoma


Resep tradisional: 


 


Sakit perut


Rimpang lempuyang gajah 1 jari tangan; Air matang 2 sendok makan, Lempuyang gajah diparut; ditambah air lalu diperas; beningannya disimpan semalam; kemudian endapan yang terjadoi dipisahkan dengan menuangkan beningannya, Diminum 1 kali sehari 1 ramuan.

Lempuyang Emprit

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:42 am

 lempuyangemprit.jpg

LEMPUYANG EMPRIT

Nama latin: Zingiber americans Bt

Nama daerah: Lempuyang pahit

Deskripsi tanaman: Tanaman herba berbatang semu, daun berbentuk lonjong. Bunga keluar dari batang dibawah tanah berbentuk bonggol, waktu muda kuncup berwarna hijau, setelah tua berwarna merah, mahkota bunga berwarna putih merah muda. Rimpang agak kecil, lebih berserat rasa pedas dengan bau yang khas

Habitat: Tumbuh liar pada daerah ternaungi oleh pohon-pohon besar pada ketinggian 1-1200 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Minyak atsiri (Zerumbon, Limonen)

Khasiat: Stomakik

Nama simplesia: Zingiberis americansis Rhizoma


Resep tradisional: 


 


Mencret


Rimpang lempuyang emprit 1 jari tangan; Rimpang kunyit 2 jari tangan; Buah ketumbat 12 butir; Buah kayu ules 1 butir; Rimpang temu kunci 1 rimpang; Daun trawas 1 helai; Rasuk angin (serbuk)1 sendok teh; Air 125 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml


 


Badan penat


Lempuyang emprit 3 rimpang; Buah sirih/cabai jawa 5 butir; Ragi sedikit; Air sedikit; Arak secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta; kemudian tambahkan arak secukupnya, Dioleskan pada bagian yang terasa penat

Legundi

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:41 am

 legundi.jpg

LEGUNDI

Nama latin: Vitex trifolia L

Nama daerah: `Gendagari; Lagundi; Lagondi

Deskripsi tanaman: Tanaman berupa pohon, tinggi 5-8 meter. Batang berkayu, bulat, ranting berambut, warna putih kotor. Daun majemuk, terdiri atas tiga anak daun, bulat telur, ujung dan pangkal utmpul, tepi rata, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, diujung cabang, bentuk malai, mahkota bentuk tabung, warna ungu. Buah batu, bentuk bola, diameter 2-5 mm, warna cokelat

Habitat: Tumbuhan liar hidup pada dataran tinggi sampai 1000 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Minyak atsiri; L-pinen; Kamfen; Terpenil asetat; Diterpena alkohol; Mavonoid; Aukubin; Agnusit; Kastisin orientin; Iso orientin; Luteolin 7-glukosida

Khasiat: Analgesik; Diuretik; Diaforetik; Antiperik; Karminatif; Insektisit; Antelmintik

Nama simplesia: Vitecis Folium


Resep tradisional: 
 


Batuk


Daun legundi 5 g; Rimpang kencur 6 g; Rimpang kunyit 6 g; Air 115 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml


 


Rahim membesar


Daun legundi 1 genggam; Rimpang temu hitam 6 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 1 ramuan


 


Nyeri limpa


Daun legundi segar 1 genggam; Cuka sedikit, Dipipis, Ditempelkan pada bagian perut sebelah kiri


 


Cacing


Buah legundi 7 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Lengkuas Merah

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:40 am

LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata K. Schum )

Famili :  Zingiberaceae

Daerah : 

Asing :  

Sifat Kimiawi :   Rimpang mengandung saponin, tanin, flavonoida, minyak atsiri, sedangkan batang mengandung saponin, tanin dan flavonoida.

Efek Farmakologis : Bersifat anti jamur dan anti kembung

Bagian tanaman yang digunakan :  Dari Rimpang.

Budi Daya : Perbanyak dengan anakan atau rimpang, pemeliharaan mudah, air cukup dan jaga kelembaban  serta cukup pemupukan dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Gangguan perut, kembung sebah

Panu, Kurap, Eksema

Bercak2 kulit dan tahi lalat (sproeten)

Demam diikuti pembesar an limpa, Masuk angin

Radang telinga

Bronchitis, Diare

Sakit gigi krn masuk angin

Obat kuat (aphrodisiak)

Langkuas

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:38 am

 lengkuas.jpg

LANGKUAS

Nama latin: Alpinia galanga L. Eilld

Nama daerah: Laos; Lengkuas; Lawa; Langkueh; Laja; Lawas

Deskripsi tanaman: Tanaman herba, yang banyak tumbuh liar di hutan berbatang basah, tingginya dapat mencapai 2,5 m. mempunyai 2 macam daun, daun sempit dan daun lebar. Bentuk daun bulat panjang dengan pelepah menyelubungi seluruh berwarna ungu. Rimpangnya berserat kasar, berbau khas dan rasanya pedas.

Habitat: Tumbuh pada dataran rendah sampai 1200 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Minyak atsiri (Engenol, Sineol, Metil sinamat, Kalium, Leasorin, Galangin, Kaemferid, Galang cl, Sesquiterpen); Damar; Kristal kuning

Khasiat: Stomakik; Diaforetik; Karminatif; Aromatik; Stimulan; Ekspektoran; Antifungi

Nama simplesia: Languatis Rhizoma


Resep tradisional: 


 


Demam


Langkuas merah 1 rimpang; Air hangat sedikit; Madu 1 sendok makan, Diparut; disaring kemudian ditambah madu, Diminum 1 kali sehari 1 ramuan.


 


Kolera


Langkuas merah 1 rimpang; Bawang putih 1 umbi; Garam sedikit; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Membersihkan darah


Langkuas merah, Dibuat sayur dan lalap, Dimakan sebagai sayur dan lalap.


 


Mengobati kurap


Langkuas 4 rimpang; Bawang putih 1 umbi; Cuka sedikit; Air 110 ml, Direbus, Dioleskan pada bagian yang terserang kurap

Lampes

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:36 am

 lampes.jpg

LAMPES

Nama latin: Ocimum sanetum L

Nama daerah: Lampas; Klampas; Kemangi hutan; Kemangen; Ruruku; Ruku-ruku; Koroko; Balakama

Deskripsi tanaman: tanaman semak semusim, tinggi 30-150 cm. Batang berkayu, segi empat, beralur, bercabang, berbulu, warna hijau. Daun tunggal

Habitat: Tumbuh di tempat yang cukup mendapat sinar matahari, sampai ketinggian 600 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Biji

Kandungan kimia: Minyak atsiri(eugenol); Metilkavikol; Musilago

Khasiat: Antipiretik; Ekspektoran; Diuretik; Diaforetik; Laksan

Nama simplesia: Ocimi sancti Folium


Kurang darah


Daun lampes 1/2 genggam; Daun plustru 2 lbr; Daun pepaya 1/2 lembar; Daun meniran 1/3 genggam; Lempuyang 1 jari; Air 5 gelas, Semua bahan direbus dengan air 5 gelas tadi hingga tinggal 2 gelas; sesudah dingin disaring, Diminum 2 kali sehari 1 gelas.

Lada

In Tanaman Herbal Kategori L on December 16, 2007 at 5:29 am

 lada.jpg

LADA

Famili :  Piperaccae

NAMA SIMPLISIA Piperis nigri Fructus; Buah Lada hitam. Piperis albae Fructus; Buah Lada putih.

Daerah :  Sahang, Merica,

Asing :  

Sifat Kimiawi :   Mengandung minyak lada (berbau phellandren), alkaloida (piperine), minyak lemak, chavisin dan pati.

Efek Farmakologis : Dalam pengobatan China memiliki rasa pedas, hangat, sedikit pahit dan anti piretik. Penyegar dan penghangat badan, merangsang semangat, merangsang keluarnya keringat dan obat sesak napas.

 Zat Aktif – Kamfeina : merangsang timbulnya kejang; Boron : merangsang keluarnya hormon, androgen dan estrogen, mencegah keroposnya tulang; Calamene : Merangsang semangat; Carvacrol : menghambat prostagladin, penyegar, relaksasi otot, menghilangkan kelelahan; Chavicine : merangsang semangat.

Wilayah :
Tanaman ini biasa ditanam di halaman dan di kebun yang bertanah gambur dan subur. Biasanya sering dijumpai di daerah Bangka, Lampung, Kalimantan dan Aceh. Tanaman ini merupakan tanaman untuk bumbu ataupun obat-obatan.

Uraian tanaman :
Tanaman herba tahunan, memanjat. Batang bulat, beruas, bercabang, mempunyai akar pelekat, warna hijau kotor. Daun tunggal, bulat telur, pangkal bentuk jantung, ujung runcing, tepi rata, panjang 5-8 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, menggantung, panjang 3,5-22 cm, warna hijau. Buah buni, bulat, buah muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna merah.

Kandungan kimia :
Buah pada tanaman ini mengandung zat-zat : Piperin, piperidin, pati, protein, lemak, asam-piperat, chavisin dan minyak terbang (felanden, kariofilen, terpen-terpen)

Bagian tanaman yang digunakan :  Akar dan Biji.

Cara Budidaya : Menggunakan biji dan setek, cukup sinar matahari dan agak terlindung.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
SIFAT KHAS Pedas, menghangatkan, dan melancarkan peredaran darah. KHASIAT Karminatif, diaforetik, diuretik, dan analgesik. PENELITIAN Nurendah P. Subanu, Bambang Wahjoedi, Oswald T. Tampubolon, dkk. Pusat Penelitian Farmasi, Badan LITBANGKES DEPKES. Telah melakukan penelitian pengaruh buah Lada dan buah Cabai Jawa, terhadap kehamilan mencit. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata buah Lada dan buah Cabai Jawa pada takaran yang cukup besar, dapat menyebabkan resorpsi janin mencit. Errasmus S., Sasmitadimedja, Adjad S., dkk. Bagian Farmakologi, FK UNPAD. Telah melakukan penelitian infus buah Lada terhadap efek menghilangkan rasa nyeri pada mencit. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata pemberian per oral infus dengan takaran 500 mg/kg bb, menyebabkan perpanjangan waktu reaksi (PWR), sama dengan PWR untuk parasetamol den gan takaran 250 mg/kg bb, dan lebih pendek dari PWR untuk metamizol dengan takaran 250 mg/kg bb. Sunaryo Sarwono,1988. Fakultas Farmasi, UGM. Pembimbing: Drh. Daryono, M.Sc. Ph.D., dan Dr. C.J. Soegihardjo, Apt. Telah melakukan penelitian pengaruh pemberian seduhan serbuk buah Lada hitam terhadap hepatotoksisitas parasetamol pada mencit jantan. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata seduhan serbuk Lada hitam pada dosis 305,76 mg/kg bb yang diberikan secara bersama-sama dengan pemberian parasetamol dosis 250 mg/kg bb dapat menghambat proses hepatotoksis pada mencit.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Asam urat : Digunakan bersama sambiloto, temulawak, komprey

Sakit kepala : Digunakan bersama Jahe dan bahan lain.

Sebagai karminatif : Dosis 300 – 600 mg, disedu dan diminum

Campuran Obat

Mengusir serangga dari ruang tertutup : Daun lada kering ditaruh dilemari

Aphrodisiak : digunakan bersama ramuan lain

Pegagan

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:24 pm

 pegagan.jpg

PEGAGAN
[Centella Asiatica]

Famili :  Umbelliferae atau Apiaceae

Daerah :  Rumput kaki kuda, Antanan gede, Panegowang atau kisu-kisu

Centella terdiri dari sekitar 40 spesies dengan ragam yang berbeda-beda di Indonesia, dimana penyebarannya terbatas, kecuali C.asiatica yang penyebarannya sampai Asia Tenggara dan meluas ke berbagai negara sub-tropis.  Tanaman ini telah digunakan untuk proses penyembuhan agar lebih baik, perbaikan ingatan, kanker, kekebalan, jamu, penyakit pernafasan, perawatan penyakit pada kulit (seperti psoriasis dan eczema), memperbaiki bekas luka, nyeri haid, menguatkan urat, pembersih darah, tekanan darah tinggi, obat penenang, obat anti-stress, anti-cemas, dan perangsang, peningkat kekebalan, dan penyesuaian tubuh, dan lain-lain.

Sifat Kimiawi :  Asiaticoside, thankunside, isothankunside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inosetol, centellose, carotenoids, garam K, Na, Ca, Fe, vellarine, tatin, mucilago, resin, pektin, gula, vitamin B

 Efek Farmakologis :  Sifatnya manis dan sejuk, anti infeksi, anti racun, penurun panas, asiaticoside dan vellarine. Daun : sebagai atringensia dan tonikum ; Pegagan dikenal untuk revitalisasi tubuh dan otak yang lelah dan untuk kesuburan wanita. Memperbaiki sirkulasi dengan revitalisasi pembuluh darah

Bagian tanaman yang digunakan : Seluruh tanaman
Cara budidaya :   Menggunakan stolon dan akar tunggang (bonggol). Stolon berakar/bertunas dipotong-potong sepanjang 2.5 cm dan tanam langsung. Dalam 14 hari sudah tumbuh.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

1 Infeksi batu saluran kencing/kencing keruh : rebus 30 gr daun segar dgn air beras bilasan.
2 Susah kencing : Lumatkan 30 gr pegagan segar, tempel dipusar.
3 Pembengkakan hati : rebus 240-600 gr pegagan segar dan minum secara rutin 
4 Campak : Rebus 60 -120 gr pegagan segar, minum secara rutin. 
5 Bisul : pegagan segar 30-60 gr, direbus, diminum, pegagan segar dilumatkan dan ditempel ke bisul
6 Mata merah, bengkak : pegagan, cuci bersih, lumatkan dan saring, airnya diteteskan ke mata 3-4 x sehari
7 Batuk darah, muntah darah, mimisan : Rebus 60-90 gr daun segar dan diminum 
8 Batuk kering : segenggaman segar dilumatkan, peras dan ditambah air serta gula batu secukupnya lalu minum
9 Darah Tinggi : Daun 20 lb, direbus dengan 3 gls air menjadi 2.25 gls, minum 3 x 1/4 gelas
10 Wasir : rebus 3-4 pohon pegagan dengan 2 gelas air selama 5 menit lalu diminum.
11 Keracunan gelsemium, elegans, arsenic : rebus 15-30 gr segar lalu minum

Pulutan

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:22 pm

 pulutan.jpg

PULUTAN

Nama latin: Urena lobata L

Nama daerah: Pungpulutan; Pungpurutan; Legetan; Polot; Kaporata

Deskripsi tanaman: Perdu, tinggi 1-2 meter, batang berkayu, berbulu lebat, berwarna ungu. Daun tunggal, bulat telur, berbulu warna hijau sampai ungu. Bunga tunggal, di ketiak daun, warna merah. Buah kotak, tertutup rambut seperti sikat warna cokelat, biji, segitiga putih

Habitat: Tumbuh pada tanah sedikit cahaya matahari, tidak lembab pada dataran rendah hingga 1750 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Akar ; Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Alkaloid; Garam kalium

Khasiat: Antiinflamasi; Antirematik; Hemostatik; Antipiretik

Nama simplesia: Urenae lobatae Radix, Urenae lobatae Herba


Resep tradisional: 


 
Disentri, Sakit perut, Demam
Akar pulutan 2 jari tangan; Tepung garut 1 sendok makan; Air 2 gelas, Direbus sampai mendidih, Diminum sebagai pengganti minum air teh

Pule Pandak

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:21 pm

 pulepandak.jpg

PULE PANDAK

Nama latin: Rauwolfia serpentina Benth

Nama daerah: Akar tikus

Sifat Kimiawi : Mengandung alkaloid, terdiri dari 3 group yaitu alkaline kuat : quarterary ammonium compound serpentine, sarpagine dan samantine, penyerapan jelek jika digunakan per-oral ; tertiary amine derivate yohimbine, ajmaline, ajmalicine, tetraphylline dan tetraphyllicine ; alkaline lemah secondary amines reserpine, rescinnamine, deserpidine, raunesine dan canescine. 

Efek Farmakologis : Akar – rasa pahit, dingin, sedikit beracun. Penenang dan penurun tekanan darah, melancarkan sirkulasi, menghilangkan sakit, penurun panas dalam dan panas liver, anti radang.  Batang dan Daun – Pahit, manis, sejuk. Menolak angin, menurunkan tekanan darah, melancarkan darah beku.

Deskripsi tanaman: Perdu rendah, tingginya 30-50 cm. Daun tunggal berbentuk anak tombak berujung lancip. Pada masa vegetatif, satu ruas terdiri dari 3 daun. Mahkota bunga bagian luar putih, bagian dalam beralur kemerahan, membentuk tabung kecil dengan bagian tengah berbentuk pundi-pundi. Membentuk karangan dipuncak batang, tapi pada masa vegetatif selanjutnya karangan bunga terdesak ke samping oleh kuncup hingga yang mula-mula terminalis akan berubah axialis. Buah batu berbiji dua yang menonjol, tampak dari luar, mula-mula hijau lalu merah dan akhirnya hitam mengkilat.

Habitat: Tumbuh pada daerah berdrainase baik pada ketinggian 50-300 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Akar

Kandungan kimia: Alkaloid ajmalina; Serpentina; Alstonina; Reserpina; Sarpagina; Yohimbina; Alkaloid

Khasiat: Antiinflamasi; Hipotensif; Sedatif; Analgesik; Antipiretik

Nama simplesia: Rau wolfiae Radix, Mustelae Radix


Resep tradisional: 


 


Tekanan darah tinggi
Akar pule pandak 0,7 g; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Pulosari

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:19 pm

 pulasari.jpg

PULOSARI

Nama latin: Alyxia stellata Rest. Sch

Nama daerah: Palasari; Pulosari; Pulawaras

Deskripsi tanaman: semak, merambat, batang berkayu bulat, bercabang, warna hijau. Daun tunggal, lonjong, warna putih kehijauan. Perbungaan bentuk malai, di ketiak daun, mahkota bentuk corong, warna putih. Buah kecil, bulat telur, warna hijau.

Habitat: Tumbuh merambat di hutan-hutan di daerah pegunungan.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Andrografin; Andrografoloid; Panikulin

Khasiat: Stomakik; Karminatif; Antispasmodik; Antitusif; Emenagog

Nama simplesia: Alyxiae Cortex


Resep tradisional: 


 


Sariawan ;Mulas

Kulit kayu pulosari (serbuk)1 sendok teh; Buah adas (serbuk)10 butir; Pisang batu masak 2 buah; Pisang batu mengkal 2 buah; Air sedikit, Serbuk pulasari dan Adas diseduh dengan air panas; pada seduhan ditambahkan pisang batu; kemudian diremas dan diperas.

Prasman

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:18 pm

 

 prasman.jpg
PRASMAN

Nama latin: Eupatorium triplinerve Vahl

Nama daerah: Ayapana; Godong prasman; Raja panah; Jukut prasman

Deskripsi tanaman: Semak, batang berkayu, beruas-ruas, warna merah muda. Daun tunggal berhadapan, helaian daun bentuk lanset, warna hijau keunguan. Perbungaan tumbuh di ujung batang, warna hijau kemerahan

Habitat: Tumbuh liar pada daerah dataran rendah sampai 1600 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Kumarin; Ayapin; Ayapinim

Khasiat: Antitusif; Diaforetik; Stimulan

Nama simplesia: Eupatorii Folium


Resep tradisional: 


 


Busung air


Daun prasman 9 helai; Air 110 ml, Direbus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Demam


Daun prasman 9 helai; Daun gambir hutan 1 genggam; Herba meniran 5 tanaman; Rimpang temu lawak 7 keping; Air 115 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Sariawan usus

Daun prasman 5 helai; Daun jintan 3 helai; Herba meniran 5 tanaman; Buah anyang-anyang 5 butir; Rimpang temu lawak 5 keping; Akar kelembak 3 g; Air 120 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Papaya

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:17 pm

 pepaya.jpg

PAPAYA

Nama latin: Carica papaya L

Nama daerah: Kates; Telo gantung; Gedang

Deskripsi tanaman: Semak berbentuk pohon, pohon dengan batang yang lurus bulat silindris, kadang-kadang bercabang, sebelah dalam berongga serupa spons, tinggi antara 2,5-10 m. Daun bertangkai panjang menyerupai pipa dan helai daunnya berbentuk jari, daun berjejal pada ujung batang dan ujung cabang. Bunganya hampir selalu berkelamin satu dan berumah dua. Bunga jantan pada tandan dan bertangkai panjang, kelopak sangat kecil, mahkota bunga berbentuk terompet. Bunga betina kebanyakan berdiri daun mahkota lepas atau hampir lepas, berwarna putih kekuning-kuningan. Buahnya bulat telur memanjang. Buah pepaya mentah berwarna hijau dan menjadi kuning kemerahan bila sudah masak. Berbiji banyak yang dibungkus selaput berisi cairan, didalamnya berdiri tempel.

Habitat: Bisa ditanam mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 100 m dpl. banyak ditanam di halaman rumah, dikebun dan banyak diusahakan di perkebunan.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Biji ; Getah buah ; Akar ; Bunga

Kandungan kimia: Alkaloid papaina; Karpaina; Pseudokarpaina; Glikosida karposid; Saponin; Karisina; Papaina; Papayatimina; Fitoklimasa; Karatinoid; Pektin; Galaktosa; Asam galakturonat

Khasiat: Stomakik; Emenagog; Antelmintik; Anti inflamasi; Antelmintik; Diuretik

Nama simplesia: Caricae Folium


Resep tradisional: 


 
Obat cacing
Akar pepaya 1 jari tangan; Bawang putih 1 umbi; Air 100 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 100 ml.
 
Demam dan mulas
Daun pepaya muda segar 1 helai; Daging buah asam secukupnya; Air 100 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 100 ml.
 
Haid yang disebabkan karena kecapaian
Daun pepaya muda segar 1-2 helai; Garam sedkit; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.
 
Malaria
Daun pepaya muda segar 1 helai; Meniran 5 tanaman; Air 100 ml, Direbus atau dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml (infus); 1/4 cangkir (pipisan).
 
Nyeri sendi
Akar pepaya(potongan)1/2 botol sirup; Garam dapur 2 sendok makan; Kayu putih 2 sendok makan; Arak secukupnya, Semua ramuan dimasukkan kedalam botol; ditambah arak sampai penuh ; kemudian jemur di panas matahari selama 10 hari, Digosokkan pada sendi-sendi yang sakit; sesaat sebelum tidur.

Patikan Kebo

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:16 pm

 patikankebo.jpg

PATIKAN KEBO

Nama latin: Euphorbia hirta L

Nama daerah: Patikan kebo; Patikan jawa; Mangkokan

Deskripsi tanaman: Tanaman herba yang tegak atau memanjat atau menjalar banyak tumbuh secara liar di kebun, di ladang, di tepi sungai. Daunnya berbentuk taji dan berbulu berwarna hijau, merah kecoklatan. Batang berwarna merah coklat dan berbulu juga.

Habitat: Dapat tumbuh sampai 1400 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Flavonoid; Glikosida; Sterol; Eufosterol; Jambulol; Asam melisat; Asam forbat; Alkolid; Gula; Tanin.

Khasiat: Antiinflamasi; Hemostatik; Ekspektoran; Spasmolitik; Diuretik; Antipuritik.

Nama simplesia: Hirtae Herba


Resep tradisional: 
 


Batuk
Patikan kebo 1,2 g; Jahe 48 g; Manis jangan 4,8 g; Kapulogo 1,2 g; Cengkeh 4,8 g; Sirih 14,4 g; Saga 2,4 g; Poko 1,3 g; Gula 78 g; Air 120 ml, Patikan kebo; Jahe; Sirih; Saga; dan Poko dipotong=potong dan direbus sampai mendidih; kemudian disaring; manis jangan dipotong-potong; kapulogo di tumbuk; cengkeh direbus lagi dengan air hasil saringan tadi sampai mendidih; disaring digunakan untuk merebus gula sampai diperoleh 120 ml sirup, Diminum; Dewasa 3 kali sehari; 1-2 sendok makan; anak-anak 3 kali sehari; 1-2 sendok teh.
 
Bronkhitis
Herba patikan kebo segar yang belum berbunga 10 g; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.
 
Sakit tenggorokan
Patikan kebo yang belum berbunga 10 tanaman; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Untuk berkumur 1 kali sehari 100 ml; bila perlu dapat diencerkan dengan air hangat; sebagian dapat ditelan

Patikan Cina

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:15 pm

 patikancina.jpg

PATIKAN CINA

Nama latin: Eupherbia prostata Ait

Nama daerah: Patikan gelang pasir; Kameniran; Kimules

Deskripsi tanaman: Terna, tegak atau merayap. Batang dan daun berwarna hijau dan kemerahan, bila dipatahkan mengeluarkan getah. Daun bersirip genap berhadapan, bentuk bulat telur, bau wangi. Bunga berwarna merah muda

Habitat: Tumbuh liar pada dataran rendah sampai pada ketinggian 1000 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Glikosida; Samponin; Apigenin; Tarakserol; Tirukalol; Tanin; Euforbin; Kuersetin

Khasiat: Antiinflamasi; Diuretik; Antipiretik Thymifoliae Herba


Resep tradisional: 


 
Disentri basiler
Herba patikan cina segar 1 genggam; Herba meniran 2 tanaman; Rimpang temu laeak 7 keping; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
 
Dubur keluar
Herba patikan cina 6 g; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Pandan Wangi

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:14 pm

 pandanwangi.jpg

PANDAN WANGI

Nama latin: Pandanus amaryllifolius Linn

Nama daerah: Pandan harum; Pandan rampe; Pandan room; Pandan rum

Deskripsi tanaman: Tumbuhan semak. Daun berbentuk pita, panjangnya sampai 8 cm, berbau wangi. Berakar gantung, dengan akar tinggal dan akar gantungnya, tumbuh menjalar, hingga dalam waktu singkat akan merupakan rumpun yang lebat.

Habitat: Tumbuh liar ditepi sungai, rawa, dan tempat tempat lain yang tanahnya lembab sampai setinggi 500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkaloida; Saponin; Flavonoida; Tanin; Polifenol; Zat warna

Khasiat: Sedatif; Stomakik; Tonik

Nama simplesia: Pandanuseae Folium


Resep tradisional: 
 


Lemah syaraf
Daun pandan 5 lembar; Air 300 ml, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum pagi dan sore

Pacing

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:13 pm

 pacing.jpg

PACING

Nama latin: Costus speciosus J. Sm.

Nama daerah: Pacing tawar; Setawar; Sitawar; Poncang-pancing; Tawar-tawar; Tabar-tabar

Deskripsi tanaman: Herba tegak, 0,5-1,5 m. Daun pacing nyaris tak bertangkai, kalaupun ada hanya 1,5 cm panjangnya, berlidah pendek. Helaian daun berbentuk mata tombak, ukuran 9-37 kali 3-10 cm. Bunga duduk berbentuk terminal rapat, berwarna merah muda atau putih. Daun pelindung memanjang runcing berdiri tempel. Kelopak tidak rontok, serupa tulang segitiga, mahkota membentuk tabung 1×0,5 cm. Tajuk bulat telur, ujung runcing pendek. Buahnya bersegi tiga merupakan buah kotak berwarna merah dengan biji.

Habitat: Tumbuh liar di hutan, di ladang dan di tempat-tempat yang tanahnya agak lembab. Ada juga ditanam di halaman sebagai tanaman hias.

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Diosgenin; Dioscin; Gracilin; Sitosserol; Methyl tritri acontanoate; 8 hydroxy triacontan-25-one,5 alfa-stigmast-9(11)-en-3-beta-01,24-hydroxyaontan-26-one; 24 hydroxyacontan-27-one

Khasiat: Diuretik; Antipiretik; Antipruritik

Nama simplesia: Costi Rhizoma


Resep tradisional: 
 


Kontrasepsi (KB)
Rimpang pacing 10 g; Buah pace 1 buah; Air 3 gelas, Semua bahan direbus sampai mendidih lalu sisakan airnya 1 gelas kemudian disaring setelah dingin diminum, Minumlah setiap hari setelah menstruasi selama 10 hari dengan cara berturut-turut.
 
Busung air
Rimpang pacing 12 g; Herba kumis kucing 7 g; Air 130 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml
.
Eksem
Rimpang pacing segar secukupnya; Rimpang kunyit 1 buah; Air sedikit, Dipipis hingga berbentuk pasta, Borehkan pada bagian kulit yang sakit

Pacar Air

In Tanaman Herbal Kategori P on December 15, 2007 at 1:13 pm

 pacarair.jpg

PACAR AIR
Nama latin: Impatiens balsamina L.

Nama daerah: Gembong; Pacar banyu; Pacar toyo; Paru inai; Bunga tabo; Laka kecil; Bunga jawelu

Deskripsi tanaman: Herba tegak, batangnya berair, tinggi 0,3-0,8 m. Daun berbentuk mata tombak, sampai pangkal bergerigi tajam, ukuran 6-15 kali 2-3 cm. Bunga bertangkai terdiri atas 1-3 buah, kelopak samping 2 mm berbentuk corong miring menyerupai taji sepanjang 20 mm. Bermahkota 5 lembar, 4 berbentuk jantung terbalik berkuku dan yang kelima lepas. Buah berbentuk elips, pecah menurut ruang secara tiba-tiba

Habitat: Tumbuh di pekarangan rumah pada ketinggian 1-900 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Biji ; Bunga ; Daun.

Kandungan kimia: Minyak lemak; Ikatan naftokinon; Lawsoue.

Khasiat: Antirematik; Emenagog.

Nama simplesia: Impatiens balsaminae Semen, Impatiens balsaminae Flos


Resep tradisional: 


 


Haid tidak teratur


Bunga pacar air segar 6 g; Rimpang temu putih 6 g; Daun jung rahab 4 g; Air 115 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
 
Kanker
Biji pacar air 4 g; Daun tapak dara 4 g; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Teratai

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 1:01 pm

 teratai.jpg

TERATAI
(Nelumbium nelumbo Druce)

Sinonim :
= Nelumbiurn nuciferum, Gaertn. = N. speciosum, Wilid. = Nelumbo nucifera, Gaertn. = Nyrnphaea nelumbo, Linn

Familia : Nymphaeaceae

Nama Lokal :
Padma, seroia, terate, tarate, taratai besar.;

Tanaman air menahun yang indah, asli dari daratan Asia. Teratai dibudidayakan di perairan dan kolam, kadang ditemukan tumbuh liar di rawa-rawa. Tanaman air yang tumbuh tegak. Rimpang tebal bersisik, tumbuh menjalar. Daun dan bunga keluar langsung dari rimpangnya yang terikat pada lumpur di dasar kolam. Helaian daun lebar dan bulat, disangga oleh tangkai yang panjang dan bulat berdiameter 0,5-1 cm, panjangnya 75-150 cm. Daun menyembul ke atas permukaan air, menjulang tegak seperti perisai. Permukaan daun berlilin; warnanya hijau keputihan, tepi rata, bagian tengah agak mencekung, tulang daun tersebar dari pusat daun ke arah tepi, diameter 30-50 cm. Bunganya harum, tumbuh menjulang di atas permukaan air dengan tangkai bulat panjang dan kokoh, panjang tangkai bunga 75-200 cm. Diameter bunga 15-25 cm, benang sari banyak kepala sari kuning, mahkota bunga lebar, ada yang engkel dan ada yang dobel dengan warna merah jambu, putih dan kuning. Bunga mekar sehari penuh dari pagi sampai sore hari. Setelah layu, mahkota bunga berguguran sampai akhirnya tersisa dasar bunga yang akan menjadi bakal buah, bentuknya seperti kerucut terbalik dengan permukaan datar semacam spons dan berlubang-lubang berisi 15-30 biji, warnanya hijau kekuningan, kemudian hijau dan akhirnya coklat hitam, garis tengah 6-11 cm. Biji bentuknya bulat seperti kacang tanah, terdapat dalam lubang-lubang buah yang berbentuk seperti sarang tawon. Biji yang sudah tua warnanya hijau kehitaman, umurnya kira-kira 1 bulan sejak bunganya mekar. Daunnya biasa dipakai sebagai bahan pembungkus, rimpang muda dan biji bisa dimakan. Pemeluk agama Budha menganggap bunga ini sebagai lambang kesucian, tercermin dalam berbagai lukisan dan patung yang menggambarkan Sang Budha sedang duduk bersemedi di atas bunga teratai.Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Biji: Memelihara kondisi jantung, bermanfaat bagi ginjal dan menguatkan limpa. Tunas biji teratai: Menghilangkan panas dalam di jantung, menurunkan panas, menghentikan perdarahan, menahan ejakulasi dini. Kulit biji teratai: Menghentikan perdarahan, Menghilangkan panas dalam di lambung, mengeluarkan panas dan lembab dari usus. Benangsari (kumis bunga teratai): Menghilangkan panas dari jantung, menguatkan fungsi ginjal, menahan ejakulasi dini dan menghentikan perdarahan. Penyangga bunga: Membuyarkan darah beku, menghentikan perdarahan, menolak lembab. Batang teratai (tangkai daun, tangkai bunga): Menurunkan panas dan memperlancar kencing. Daun: Membersihkan panas dan menghilangkan lembab, menaikkan yang jernih, menghentikan perdarahan. Dasar daun: Menurunkan panas dan menghilangkan lembab, menormalkan menstruasi, menguatkan kehamilan. Rimpang: Dimakan mentah berkhasiat menurunkan panas, mendinginkan darah yang panas dan membuyarkan darah beku. Bila dimasak, berkhasiat menguatkan limpa, menambah selera makan, penambah darah, membantu pertumbuhan otot dan menyembuhkan diare. Akar: Menghentikan perdarahan, membuyarkan darah beku, penenang. Tepung rimpang: Menghentikan perdarahan, menambah darah, mengatur fungsi ginjal dan limpa. KANDUNGAN KIMIA: Bunga: Quercetin, luteolin, isoquercitrin, kaempferol. Benangsari: Quercetin, luteolin, isoquercitrin, galuteolin, juga terdapat alkaloid. Penyangga bunga (reseptacle): Protein, lemak, karbohidrat, caroten, asam nikotinat, vitamin B1, B2, C dan sedikit mengandung nelumbine. Biji: Kaya akan pati, juga mengandung raffinose, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, phosphor dan besi. Kulit biji teratai mengandung nuciferine, oxoushinsunine, N- norarmepavine. Tunas biji teratai: Liensinine, isoliensinine, neferine, nuciferine, pronuciferine, lotusine, methylcorypalline, demethylcoclaurine, galuteolin, hyperin, rutin. Rimpang: Pati, protein, asparagine, vitamin C. Selain itu juga mengandung catechol, d-gallocatechol, neochlorogenic acid, leucocyanidin, leucodelphinidin, peroxidase, dll. Akar: Zat tannic dan asparagine. Daun: Roemerine, nuciferine, nornuciferine, armepavine, pronuciferine, N-nornuciferine, D-N-methylcoclaurine, anonaine, liriodenine, quercetin, isoquercitrin, nelumboside, citric acid, tartaric acid, malic acid, gluconic acid, oxalic acid, succinic acid, zat tannic, dll. Dasar daun teratai: Roemerine, nuciferine dan nornuciferine. Tangkai daun: Roemerine, nornuciferine, resin dan zat tannic. Oxoushinsunine yang terdapat pada kulit biji teratai berkhasiat menekan perkembangan kanker hidung dan tenggorokan, sedangkan biji dan tangkai teratai berkhasiat anti hipertensi.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Diare, disentri, keputihan, kanker nasopharynx, demam, insomnia; Hipertensi, muntah darah, mimisan, batuk darah, sakit jantung; Beri-beri, sakit kepala, berak dan kencing darah, anemia, ejakulasi;

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Seluruh tanaman. Rimpang, daun dan tangkai, bunga dan benang sari, biji dan penyangga bunga yang seperti sarang tawon/spons (reseptacle), serta tunas biji. Pemakaian segar atau yang telah dikeringkan.

KEGUNAAN:
Biji:
- Gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion).
- Diare karena badan lernah, radang usus kronis (enteritis kronis).
Disentri.
- Muntah-muntah.
- Keputihan, perdarahan pada wanita.
- Mimpi basah (spermatorrhea).
- Susah tidur, banyak mimpi.
- Kencing terasa sakit dan keruh.
- lesu tidak bersemangat (neurasthenia).
- Kanker nasopharynx.

Tunas biji teratai:
- Demam, rasa haus.
- Jantung berdebar, gelisah.
- Muntah darah.
- Ejakulasi dini.
- Mata merah dan bengkak.
- Susah tidur (insomnia).
- Darah tinggi (hipertensi).

Banang sari:
- keluar sperma malam hari (sperrnatorrhea).
- Keputihan (leucorrhea).
- Perdarahan seperti muntah darah, disentri.
- sering kencing.
- Tidak dapat menahan kencing (enuresis).

Remptacle:
- Perdarahan kandungan yang berlebihan.
- Darah haid berlebihan.
- Perdarahan sewaktu hamil.
- Keluar cairan (lochia) yang berlebihan setelah melahirkan.
- Sakit perut bawah akibat sumbatan darah.
- Berak darah, kencing darah.
- Wasir, koreng basah.

Rimpang:
- Demam, rasa haus.
- Batuk darah, muntah darah, mimisan.
- Berak darah, kencing darah. Tekanan darah tinggi.
- Sakit jantung.
- Gangguan lambung.
- Kurang darah (anemia).
- Gangguan pada mati haid (menopause).
- Neurosis.

Akar:
- Muntah darah, mimisan.
- Kencing panas dan merah.
- Batuk darah, berak darah.

Daun:
- Pingsan karena hawa panas (heat stroke).
- Diare karena panas atau lembab.
- Pusing, sakit kepala.
- Beri-beri.
- Perdarahan seperti mimisan, muntah darah, berak darah.
- Perdarahan pada wanita.

Dasar daun:
- Disentri berdarah, diare.
- Bayi dalam kandungan tidak tenang.

Batang:
- Heat stroke, pingsan.
- Dada terasa tertekan karena panas atau lembab.
- Diare, muntah.
- Keputihan.

Bunga:
- Terpukul (trauma).
- Perdarahan.
- Radang kulit bernanah (impetigo).

Tepung rimpang:
- Menambah selera makan,
- Badan lemah dan kurang darah.
- Diare.

PEMAKAIAN:
Untuk minum:
Rimpang: 240 g. Direbus atau di juice.
Daun: 5-12 g, rebus.
Tangkai: 3-5 g, rebus.
Bunga. 3-5 g, rebus.
Benang sari: 3-10 g, rebus.
Receptacle: 10-15 g, rebus.
Biji: 5-12 g, rebus.
Tunas biji teratai: 1,5-3 g, rebus.

CARA PEMAKAIAN:
1. Batuk darah, muntah darah:
Rimpang teratai dicuci bersih lalu dijuice, sampai terkumpul 1 gelas
ukuran 200 cc. Minum, lakukan selama 3-5 hari berturut-turut.

2. Muntah, diare :
50 g rimpang teratai dan 15 g jahe dicuci lalu dijuice atau diparut,
ambil airnya. Minum, sehari 3 kali.

3. Disentri:
50 g rimpang teratai dan 10 g jahe, diparut atau dijuice. Air
perasannya ditambahkan 10O cc air, lalu dipanaskan sampai
mendidih. Setelah dingin tambahkan 1 sendok makan madu, diaduk
lalu diminum.

4. Darah tinggi:
a. 10 g biji teratai dan 15 g tunas biji teratai. (lien sim), direbus
dengan 350 cc air sampai tersisa 200 cc. Minum setiap hari
seperti teh.

b. Tunas biji teratai (lien sim) sebanyak 10-15 g direbus dengan air
secukupnya sampai mendidih, minum sebagai teh. Dapat juga
tunas biji teratai digiling halus, seduh dengan air panas, minum.

5. Panas dalam, gondokan, juga bermanfaat untuk penderita jantung
dan lever:
100 g rimpang teratai dan 50 g rimpang segar alang-alang, dicuci
lalu dipotong-potong secukupnya. Rebus dengan 500 cc air bersih
sampai tersisa 250 cc. Setelah dingin disaring, minum seperti teh.

6. Keluar darah dari hidung (mimisan):
Ruas akar teratai dicuci bersih lalu dijuice. Airnya diteteskan ke
hidung.

Tunjung

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:59 pm

 tunjung.jpg

TUNJUNG
(Nymphaea lotus L.)

Nama Lokal :
Tarate kecil, tarate utan, tunjung putih (Indonesia); Tunjung bodas, tunjung tutur (Sunda).;

  Tanaman air atau rawa, tumbuh liar pada genangan air yang dangkal atau dipelihara di kolam-kolam sebagai penghias kolam di taman. Asalnya dari Afrika. Daun dan bunga keluar dari akar rimpang di dalam tanah yang tumbuh ke atas pada permukaan air. Daun mengapung pada permukaan air, sedang bunga pada air yang dangkal akan muncul di atas permukaan air. Helaian daun bangun perisai, bundar lonjong kadang melipat, tepi bergerigi, bagian pangkainya bercangap sempit dan dalam, warnanya hijau, bagian bawah warnanya lebih muda dan berambut pendek yang rapat. Ukuran daun, panjang 15-50 cm, lebar 12-45 cm. Bunga agak berbau busuk, mekar pada malam hari dan menutup pada siang hari. Daun mahkota 13-28, warnanya putih, kuning atau merah keunguan. Buah masak dibawah air, serupa spons, membuka tidak beraturan. Bunga warna putih (white water lily) lebih disukai untuk digunakan dalam pengobatan.Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kejang, pingsan, mabuk alkohol, bisul, radang, tumor, borok; Diabetes. TBC paru, menekan fungsi seksual;

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Bunga, akar. Pemakaian segar atau yang telah dikeringkan.

KEGUNAAN:
Bunga:
- Kejang pada anak.
- Pingsan karena udara panas (heat stroke).
- Mabuk alkohol.
- Menekan fungsi seksual (anaphrodisiac).
- Penyakit kulit seperti bisul, radang, tumor dan borok.
- Kencing manis (diabetes).

Akar:
- TBC paru.

PEMAKAIAN:
Untuk minum: Bunga 3-5 kuntum, akar 6-9 g, direbus.

Temulawak

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:58 pm

 temulawak.jpg

TEMULAWAK

( Curcuma xanthorrhiza. Roxb.) Famili :  Zingiberaceae

Daerah :  Koneng gede, temulabak, temu putih

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roburgh) berasal dari Jawa, Bali dan Maluku dimana di sana tanaman ini masih tumbuh secara sangat subur, seperti di hutan kayu jati. Biasanya dikembangkan di Jawa dan Malaysia, dan tempat-tempat lain (seperti India dan Thailand).  Rhizoma digunakan untuk berbagai masalah perut dan hati (penyakit kuning, batu empedu).  Rebusan rhizoma digunakan sebagai penyembuhan demam dan sembelit, dan digunakan para wanita untuk mengurangi peradangan rahim setelah melahirkan. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar pemukiman, terutaama pada tanah gembur, sehingga buaah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang. Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendaah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1500 meter di atas permukaan laut.

Sifat Kimiawi : Mengandung minyak atsiri seperti limonina yang mengharumkan, sedangkan kandungan flavonoida-nya berkhasiat menyembuhkan radang. Minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfen) dan minyak lemak.

Efek Farmakologis : Sifatnya rasa sedikit pahit, anti sembelit, acnevulgaris, anti-inflamasi dan anti hepatotoksik, laktagoga, kolagoga, tonikum, diuretik, fungstatik dan bakteriostatik. Kandungan adas hitam juga membantu mengeluarkan angin, dan mendorong pengeluaran air seni.

Bagian tanaman yang digunakan :  rimpang segar atau dikeringkan

Cara Budidaya : Anakan yang tumbuh dari rimpang, air yang cukup. Tumbuhan liar berumpun dan bergetah ini, biasanya tumbuh di hutan-hutan maupun ditanam di kebun dengan tinggi sekitar 0,5 sampai 3 m. Daunnya halus berbentuk jarum. Buahnya yang harum panjangnya sekitar 0,5 cm digunakan sebagai obat yang dipadukan dengan kulit kayu pulasari (alyxia reinwardtii Bl.). Bunganya majemuk berbentuk payung berwarna kuning. Orang lnggris menyebut adas fennel dan orang Belanda venkel. Adas ini sering pula disebut adas pedas, berbeda dengan adas untuk bumbu masakan. Adas untuk bumbu masakan biasa disebut “jintan manis” atau “adas manis”, walaupun orang Minang menyebut adas pedas sebagai adeh manih. Adas manis atau jintan manis (Pimpinella anisum L. dari suku Apiaceae juga) oleh orang Inggris disebut anise dan oleh orang Belanda anijs. Jintan manis kadang dipakai sebagai obat. Masih ada adas lain, yaitu adas sowa atau adas obat atau ender (Anethum graveolens L. dari suku Apiaceae juga). Dalam bahasa lnggris adas sowa disebut dill dan dalam bahasa Belanda dilIe.

Temu Putih

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:57 pm

 temu_putih.jpg

TEMU PUTIH
(Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe.)

 NAMA DAERAH: — NAMA ASING: — NAMA SIMPLISIA: Zedoariae Rhizoma; rimpang temu putihUraian :
Herba setahun, dapat lebih dari 2 m. Batang sesungguhnya berupa rimpang yang bercabang di bawah tanah, berwama coklat muda coklat tua, di dalamnya putih atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatilc. Daun tunggal, pelepah daun membentuk batang semu, berwarna hijau coklat tua, helaian 2-9 buah, bentuk memanjang lanset 2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing-meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43-80 cm atau lebih. Bunga majemuk susunan bulir,diketiak rimpang primer, tangkai berambut. Daun pelindung berjumlah banyak, spatha dan brachtea; rata-rata 3-8 x l,5-3,5cm. Kelopak 3 daun, putih atau kekuningan, bagian tengah merah atau coklat kemerahan, 3 -4 cm. Mahkota: 3 daun, putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Bibir bibiran membulat atau bulat telur terbalik, ujung 2 lobe, kuning atau putih, tengah kuning atau kuning jeruk, 14-18 x 14-20 mm. Benang sari 1 buah, tidak sempuma, bulat telur terbalik, kuning terang, 12-16 x 10-115 mm, tangkai 3 5 x 2-4 mm, kepala sari putih, 6 mm. Buah: berambut, rata-rata 2 cm. Waktu berbunga Agustus – Mei. Tumbuh di daerah tropis, 750 m dpI di Jawa dibudidayakan sebagai tanaman obat, di bawah naungan. Produksi terpenoid pada kultur organ Curcuma zeodaria relatif lebih banyak bila dibandingkan kultur kalus. Diferensiasi sel dapat menginduksi biosintesis terpenoid.

Komposisi :
Rimpang mengandung zat wama kuning kurkumin (diarilheptanoid). Kornponen minyak atsiri dari rimpang Cucrcuma zedoaria terdiri dari: turunan Guaian (Kurkumol, Kurkumenol, Isokurkumenol, Prokurkumenol, Kurkurnadiol), turunan Germakran (Kurdion, Dehidrokurdion); Seskuiterpen furanoid dengan kerangka eudesman (Kurkolon). Kerangka Germakran (Furanodienon, Isofuranodienon, Zederon, Furanodien, Furanogermenon); kerangka Eleman (Kurserenon identik dengan edoaron, Epikurserenon, Isofurano germakren); Asam-4-metoksi sinamat (bersifat fungiStatik). Dari hasil penelitian lain ditemukan kurkumanolid A, kurleumanolid B, dan kurkumenon.’0)

Penyakit Yang Dapat Diobati :
EFEK BIOLOGI DAN FARMAKOLOGI Minyak atsiri Curcuma zedoaria dapat menghambat pembentukan radang pada tikus putih galur Wistar, pada dosis 800 mg/kg BB. Infusa temu putih berefek hepatoprotektif pada tikus terisolasi. Infusa temu putih sejumlah 0,0 1 mg/ml, 05 1 mg/ml dan 1 mg/ml dapat menekan rembesan enzim GPT ke media suspensi hepatosit tikus terisolasi yang disebabkan oleh hidrazin 1 MM. Seduhan serbuk rimpang dengan kisaran dosis 15,75- 126 mg/kg BB dapat meningkatkan regenerasi sel hati tikus yang terangsang galaktosamina. Perasan rimpang pada dosis 7,87, 1,97; 0,49 mg/kgBB berefek hepatoprotektif dan mempercepat regenerasi sel hepar tikus terangsang karbontetraklorida WC14). Potensi hepatoregeneratif perasan rimpang pada tikus terangsang CCl4 terbesar pada dosis 1,97 mg/kgBB . TOKSISITAS Potensi ketoksikan akut salah satu sediaan serbuk runpang yang beredar di pasaran (LD50 semu) lebih besar dari 2375 mg/kgBB.

KEGUNAAN DI MASYARAKAT
Sebagai obat kudis, radang kulit, pencuci darah, perut kembung, dan gangguan lain pada saluran pencernaan serta sebagai obat pembersih dan penguat (tonik) sesudah nifas

Temu Kunci

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:54 pm

 temu_kunci.jpg

TEMU KUNCI
(Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter.)

Perawakan:herba rendah, merayap di dalam tanah, satu tahun 0,3-0,9 cm. Batang: batang asli di dalam tanah sebagai rimpang, berwarna kuning coklat, aromatik, menebal, 5-30 x 0,5-2 cm, batang di atas tanah berupa batang semu (pelepah daun). Daun: umumnya berdaun sebanyak 2-7 helai, daun bawah berupa pelepah daun berwarna merah tanpa helaian daun: tangkai daun beralur, tidak berambut, panjang 7-16 cm, lidah-lidah berbentuk . segitiga melebar, menyerupai selaput, panjang 1-1,5 cm, pelepah daun sering sama panjang dengan tangkai daun; helai daun tegak, bentuk lanset lebar atau agak jorong, ujung daun runcing, permukaan halus tetapi bagian bawah agak berambut terutama sepanjang pertulangan, warna helai daun hijau muda, lebar 5-11 cm. Bunga: susunan bulir tidak berbatas, di ketiak daun, dilindungi oleh 2 spatha, panjang tangkai 411 cm, umumnya tangkai tersembunyi dalam 2 helai daun terujung. Kelopak: 3 buah lepas, runcing. Mahkota: 3 buah daun mahkota, merah muda atau kuning-putih, tabung 50-52 mm., bagian atas tajuk berbelah-belah, berbentuk lanset dengan lebar 4 mm dan panjang 18 mm. Benang sari: 1 fertil besar, kepala sari bentuk garis membuka secara memanjang. Lainnya berupa bibir-bibiran (staminodia) bulat telur terbalik tumpul, merah muda atau kuning lemon, gundul, 6 pertulangan, 25×7 cm. Putik: bakal buah 3 ruang, banyak biji dalam setiap ruang. Asal-usul: Tropis dataran rendah, Waktu berbunga : Januari- Februari, April-Juni. Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya Tumbuh liar pada dataran rendah, di hutan-hutan jati. Tumbuh baik pada iklim panas dan lembab pada tanah yang relatif subur dengan pertukaran udara dan tata air yang baik. Pada tanah yang kurang baik tata airnya (sering tergenang air, atau “becek” pertumbuhan akan terganggu dan rimpang cepat busuk). Dibudidayakan di tanah berkapur bergerombol. Perbanyakan: dengan pemotongan rimpang menjadi beberapa bagian (tiap bagian terdapat paling sedikit 2 mata tunas); penanaman dilakukan pada jarak tanam 3000 cm. Pemanenan dilakukan setelah berumur 1 tahun. Setelah dilakukan pemanenan:, dilakukan sortasi dan dicuci, kemudian dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil /tipis dan dikeringkan di tempat teduh dengan aliran udara yang baik. Untuk jumlah kecil disimpan dalam wadah tertutup rapat dan kedap cahaya (sebagai penyerap lembab udara dapat dengan “charcoal”= karbon aktif)”.

Komposisi :
Rimpang 1,2% minyak atsiri (rimpang segar 0,06% – 0,32% minyak atsiri); komponen utama minyak atsiri terdiri dari monoterpen, seskuiterpen, turunan fenilpropana antara lain: geranial, neral, kamfora, zingiberen, d-pinen, kamfen, 1,8-sineol (eukaliptol), d-borneol, geraniol, osimen, dimetoksi-4(2-propenil), miristin, linalil propanoat, asam sinamat, kamfen hidrat, propenil guaikol, dihidrokarveol, linalool; etil-sinamat, etil pmetoksi sinamat, panduratin A. – Asam kavisinat -flavonoid: pinosembrin (2,3-dihidrokrisin), 2′,6′dihidroksi-4′-metoksi kalkon, pinostrobin (5hidroksi-7-metoksi flavanon), alpinetin, kardamomin, 2′,4′-dihidroksi-6′-metoksi kalkon, boesenbergin A, 5,7-dimetoksiflavon. Pada jenis tumbuhan dengan: rimpang berwarna merah: pinostrobin, boesenbergin A, panduratin rimpang berwarna putih : 0,36% krotepoksid rimpang berwarna hitam: pinostrobin, 5,dimetoksi-flavon, 5-hidroksi-7-metoksi-flavon dan 5-hidroksi-7,4′-dimetoksiflavon, 5,7,3′,4′tetrametoksiflavon; kaemferol-3,7,4′-trimetil eter; kuersetin-3,7,3′,4-tetrametil eter.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Minyak atsiri rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata) berefek pada pertumbuhan Entamoeba coli, Staphyllococus aureus dan Candida albicans ; selain itu dapat berefek pada pelarutan batu ginjal kalsium secara in vitro. Perasan dan Infusa rimpang temu kunci memiliki daya analgetik dan antipiretik. Di samping itu dapat mempunyai efek menggugurkan, resorpsi dan berpengaruh pada berat j anin tikus. Ekstrak rimpang-yang larut dalam etanol dan aseton berefek sebagai antioksidan pada percobaan dengan minyak ikan sehingga mampu menghambat proses ketengikan. Dari penelitian lain diperoleh informasi bahwa ekstrak temu kunci dapat menghambat bakteri isolat penyakit Orf (Ektima kontagiosa). Toksisitas Praktis tidak toksik

KEGUNAAN DI MASYARAKAT
Rimpang: sebagai peluruh dahak/untuk menanggulangi batuk, peluruh kentut, penambah nafsu makan, menyembuhkan sariawan, bumbu masak, pemacu keluarnya air susu ibu (AS1),

CARA PEMAKAIAN DI MASYARAKAT

Sebagai peluruh kentut:
dibuat sediaan “juice” yang terdiri dari 3 jari rimpang; diminum untuk dosis tunggal
dibuat “tapal” dari sejumlah rimpang dan ditempelkan pada perut
dibuat infusa yang terdiri dari 25 gram serbuk rimpang kering dengan 100 ml air mendidih, didiamkan sampai keadaan hangat; setelah disaring, diminum sebagai dosis tunggal.

Sebagai penambah nafsu makan:
Dibuat infusa yang terdiri dari 3 buah rimpang dan 110 ml air; atau diseduh, diminum 1 kali sehari 100 ml, diulang selama 14 hari.

Sebagai pemacu keluarnya air susu ibu (ASI):
20 gram rimpang temu kunci, dipotong kecil-kecil, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit; kemudian ditambah 1/4 sendok teh garam dapur, setelah dingin disaring dan diminum sekaligus.

Temu Hitam

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:53 pm

 temuhitam.jpg

TEMU HITAM

Latin : Curcuma Aeruginosa Rosb.
NAMA DAERAH Sumatera: temu erang, t. itam (Melayu). Jawa: koneng hideung (Sunda), temu ireng (Jawa). Nusa Tenggara: temo ereng (Madura), temu ireng (Bali). Sulawesi: tamu leteng (Makasar), temu lotong (Bugis). NAMA asing Ezhu (C).
NAMA SIMPLISIA Curcumae aeruginosae Rhizoma (rimpang temu hitam).

English :

Temu hitam terdapat di Burma, Kamboja, Indocina, dan menyebar sampai ke Pulau Jawa. Selain ditanam di pekarangan atau di perkebunan, temu hitam juga banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati, padang rumput, atau di ladang pada ketinggian 400–750 m dpl. Terna tahunan ini mempunyai tinggi 1–2 m, berbatang -semu yang tersusun atas kumpulan pelepah daun, berwarna hijau atau cokelat gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang, 2–9 helai. Helaian daun bentuknya bundar memanjang sampai lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua dengan sisi kiri – kanan ibu tulang daun terdapat semacam pita memanjang berwarna merah gelap atau lembayung, panjang 31–84 cm, lebar 10–18 cm. Bunganya bunga majemuk berbentuk bulir yang tandannya keluar langsung dari rimpang, panjang tandan 20–25 cm, bunga mekar secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar, pangkal daun pelindung berwarna putih, ujung daun pelindung berwarna ungu kemerahan. Mahkota bunga berwarna kuning. Rimpangnya cukup besar dan merupakan umbi batang. Rimpang juga bercabang-cabang. Jika rimpang tua dibelah, tampak lingkaran berwarna biru kehitaman di bagian luarnya. Rimpang temu hitam mempunyai aroma yang khas. Perbanyakan dengan rimpang yang sudah cukup tua atau pemisahan rumpun.

Wilayah :
Tanaman liar ini tumbuh di daerah hutan jati, di ladang dan tempat lainnya pada ketinggian 1750 m di atas permukaan laut.

Uraian Tanaman :
Tinggi tanaman ini mencapai 2 m. Daunnya berbentu lonjong. Bunganya berwarna putih atau putih agak kemerahan. Apabila rimpangnya dipotong maka akan terlihat lingkaran berwarna biru.

Komposisi :
Rimpang temu hitam mengandung minyak asiri, tanin, kurkumol, kurkumenol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumalakton, germakron, a, ß, g-elemene, linderazulene, kurkumin, demethyoxykurkumin, bisdemethyoxykurkumin.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Rimpang rasanya pahit, tajam, dan sifatnya dingin. Berkhasiat peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak, meningkatkan nafsu makan (stomakik), anthelmintik, dan pembersih darah setelah melahirkan atau setelah haid. EFEK FARMAKOLOGIS DAN HASIL PENELITIAN Hasil penelitian pengaruh perasan rimpang temu hitam terhadap cacing askaris babi in vitro dan kontraksi usus halus (jejunum) marmut terpisah in vitro seperti berikut. Perasan rimpang dapat membunuh askaris babi seperti piperasin sitrat. Beningan rimpang dapat menekan amplitudo kontraksi spontan usus kelinci (FX.S.Dirdjosudjono, Taroeno, Sudjiman, dkk., Bagian Farmakologi, FKH dan Bagian Farmakologi Farmasi, FF UGM). Berdasarkan penelitian daya membunuh cacing (anthelmintik) rimpang temu hitam pada cacing askaris babi secara in vitro, ternyata daya anthelmintik minyak asirinya paling kuat dibandingkan dengan perasan ataupun infus temu hitam (Taroeno, Kun Sumardiyah S., dan Sugiyanto, Bagian Biologi Farmasi, FF UGM). Telah dilakukan penelitian daya antelmintik rebusan rimpang temu hitam terhadap Ascaridia galli in vitro. Ternyata, rebusan irisan temu hitam dapat mematikan cacing dalam waktu 7–17 jam, sediaan rebusan parutan dalam waktu 11–20 jam, dan sediaan serbuk dalam waktu 11–25 jam. Kandungan minyak asiri terbesar pada sediaan irisan (Endah Eny Riayati, Fakultas Farmasi UGM, 1989. Pembimbing: Drs. Sudarto, Apt. dan Dra. Sri Sumarni, SU). Kadar minyak asiri maksimum terdapat pada waktu rimpang belum bertunas dan mengeluarkan batang/ daun. Kadar minyak asiri yang tumbuh di Hortus Medicus Tawangmangu selama tumbuh berkisar 0,25%-0,50% (A. Indrawati, Supardi, Laboratorium Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, 1979).


Kegunaan :
l. Encok (rimpangnya)
2. Kegemukan badan
3. Cacing gelang / kremi
4. Kudis
5.Koreng
6. Kurang segar sehabis nifas / haid

Temugiring

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:52 pm

 temugiring.jpg

TEMUGIRING

Nama latin: Curcuma heyneana Val.V.Zyp

Nama daerah: Temu reng

Deskripsi tanaman: Semak semusim, batang semu terdiri atas pelepah daun, permukaan licin warna hijau. Daun tunggal, permukaan licin, berpelepah warna hijau. Perbungaan majemuk, mahkota kuning muda

Habitat: Tumbuh liar di pekarangan dan ladang pada tanah lembab dan sedikit cahaya pada dataran rendah sampai 900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Rimpang

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Zat pati

Khasiat: Antelmintik

Nama simplesia: Curcumae heyneanae Rhizoma


Resep tradisional: 


 


Cacingan


Rimpang temu giring segar 4 g; Air secukupnya, Temu giring diparut kemudian diseduh dengan air mendidih hingga diperoleh 1/4 cangkir, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.


 


Bau badan


Rimpang temu giring segar 1/2 jari tangan; Air mendidih 100 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.


 


Kegemukan


Rimpang temu giring segar 1/2 jari tangan; Daun kemuning segar 1 genggam; Daun pacar kuku segar 1 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.

Tempuyung

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:51 pm

 tempuyung.jpg

TEMPUYUNG

(Sonchus arvensis L.)

Tempuyung (Sanchus arvensis L.) adalah tanaman yang tumbuh secara pesat pada daerah berketinggian 50-1.650 meter di atas permukaan laut.  Akarnya besar dan lurus, tangkainya berbentuk silinder dan mengeluarkan getah, daunnya oval dan rasanya pahit, bunganya kuning, dan buahnya keras, tipis berwarna coklat kekuningan. Penelitian membuktikan bahwa tempuyung mengandung alfa-laktoserol, mannitol, inositol, silica, kalium, flavonoid, dan taraxasterol.

Famili : Asteraceae (Compositae). Ada 4 spesies yang diketemukan di Asia Tenggara, yaitu S.asper(L)Hill ; S.malaianus Miquuel ; S.oleraccus L dan S.arvensis L.

Indonesia : Jombang (Jawa), lalakina, lempung, rayana (Sunda)

Lainnya : Niu she tou (Cina), Lampaka (Filipina), nh(ux)c(us)c (Vietnam)

Ekologi : Penyebaran luas dari S.asper dan S.oleraceus merupakan bukti kehebatan mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan.  Taman dan tanah subur yang lembab  merupakan habitat normalnya. S.asper lebih dapat hidup di tempat yang lebih dingin dan lebih lembab dari S.oleraceus.  Tanaman ini tidak memiliki persyaratan tumbuh lainnya.

S.malainus telah diketahui hidup di hutan dan sepanjang jalan di ketinggian 1000 meter di Sumatra dan Jawa. S.arvensis tumbuh di tempat lembab seperti di tanah berlapis dan kanal irigasi sampai dengan ketinggian 3200 meter. )

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Tempuyung rasanya pahit dan dingin. KANDUNGAN KIMIA : Tempuyung mengandung oc-laktuserol, P-laktuserol, manitol, inositol, silika, kalium, flavonoid, dan taraksasterol. EFEK FARMAKOLOGIS DAN HASIL PENELITIAN : 1. Penelitian pengaruh ekstrak air dan ekstrak alkohol daun tempuyung terhadap volume urine tikus in vivo dan pelarutan batu ginjal in vitro, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: a. daun tempuyung tidak secara jelas mempunyai efek diuretik, namun mempunyai daya melarutkan batu ginjal. b. daya melarutkan batu ginjal oleh ekstrak air lebih baik daripada ekstrak alkohol (Giri Hardiyatmo, Fak. Farmasi UGM, 1988). 2. Praperlakuan flavonoid fraksi etil asetat daun tempuyung mampu menghambat hepatotoksisitas karbon tetrakiorida (CCL 4) yang diberikan pada mencit jantan (Atiek Liestyaningsih, Fak. Farmasi UGM, 1991).
 

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun dan seluruh tumbuhan

Budi daya : Dengan biji, memerlukan tempat terbuka yang sedikit terlindung sinar matahari.Tanaman ini hidup liar di sawah, di ladang-ladang bertanah lembab dan cukup mendapatkan sinar matahari.

Uraian Tanaman :
Tumbuhan semak ini tingginya sekitar 2 m. Daunnya berbentuk tombak. Biasanya daun mudanya di makan sebagai sayuran (lalab / celur). Bunganya berbentuk bongkol berwarna putih kekuningan dan mudah diterbangkan angin. Buahnya berwarna merah tua.
BAGIAN YANG DIGUNAKAN : Daun atau seluruh tumbuhan.

INDIKASI :
Tempuyung dapat mengatasi:
- batu saluran kencing dan batu empedu,
- radang usus buntu (apendisitis), radang payudara (mastitis),
- disentri,
- wasir,
- beser mani (spermatorea),
- darah tinggi (hipertensi),
- pendengaran berkurang (tuli),
- rematik gout, memar, dan
- bisul, luka bakar.

CARA PEMAKAIAN :
Daun atau seluruh tumbuhan sebanyak 15 – 60 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, herba segar digiling halus lalu ditempelkan ke tempat yang sakit atau diperas dan airnya untuk kompres bisul, luka bakar, dan wasir.

CONTOH PEMAKAIAN :
1. Radang payudara
Tumbuhan tempuyung segar sebanyak 15 g direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, laludiminum sekaligus. Lakukan 2 – 3 kali sehari.

2. Bisul
Batang dan daun tempuyung segar secukupnya dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Air perasannya digunakan untuk mengompres bisul.

3. Darah tinggi, kandung kencing dan kandung empedu berbatu
Daun tempuyung segar sebanyak 5 lembar dicuci lalu diasapkan sebentar. Makan sebagai lalap bersama makan nasi. Lakukan 3 kali sehari.

4. Kencing batu
a. Daun tempuyung kering sebanyak 250 mg direbus dengan 250 cc air bersih sampai tersisa 150 cc. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum. Habiskan dalam sehari. Lakukan setiap hari sampai sembuh.

b. Daun tempuyung, daun avokad (Persea americana), daun sawi tanah (Nasturtium montanum), seluruhnya bahan segar sebanyak 5 lembar, dan 2 jari gula enau dicuci bersih lalu direbus dalam 3 gelas air bersih sampai tersisa 3/4-nya. Setelah dingin disaring. Air yang terkumpul diminum 3 kali sehari, masing-masing 3/4 gelas.

c. Daun tempuyung dan daun keji beling (Strobilanthes crispus) segar masing-masing 5 lembar, jagung muda 6 buah, dan 3 jari gula enau dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 3/4-nya. Setelah dingin disaring, lalu diminum 3 kali sehari, masing-masing 3/4 gelas.

5. Pendengaran berkurang (tuli)
Herba tempuyung segar dicuci bersih lalu dibilas dengan air masak. Giling sampai halus, lalu diperas dengan kain bersih. Airnya diteteskan pada telinga yang tuli. Lakukan 3-4 kali sehari.

Tembelekan

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:50 pm

 tembelekan.jpg

TEMBELEKAN

Nama latin: Lantana camara Linn

Nama daerah: Kembang Satek; Oblo; Puyengan; Waung; Teterepan; Saliyara; Bunga Singapura

Deskripsi tanaman: Perdu, batang berkayu, berduri, bercabang-cabang, batang muda berwarna hijau, setelah tua berwarna putih kotor. Daun tunggal, bentuk bulat telur, tepi bergerigi, berbulu, warna hijau tua. Perbungaan bentuk bulir. Buah buni, bulat tangkai berbulu, buah muda berwarna hijau, buah tua berwarna hitam.

Habitat: Tumbuh liar pada tanah yang lembab dengan sinar matahari yang cukup atau agak ternaung pada dataran rendah sampai ketinggian 1700 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Lantanina; Minyak atsiri; Minyak lemak; Asam lantanilat; Asam lantabetulat

Khasiat: Ekspektorat; Diaforetik; Antispasmodik; Antipiretik; Analgesik; Hemostatik

Nama simplesia: Camarae Herba

Tapak Liman

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:49 pm

 tapakliman.jpg

TAPAK LIMAN
(Elephantopus scanber)

Famili :   Compositae

Tapak liman (Indonesia), Tutup bumi (Sumatera); Balagaduk, jukut cancang, tapak liman (Sunda),; Tampak liman, tapak tangan, talpak tana (Madura),; Ku di dan (China).;

Asing :   Prickly-leaved Elephants Foot

Wilayah : Tapak liman berasal dari Amerika tropis, kini ditemukan di banyak negara Asia, (contohnya Cina), dan di Polynesia. Di Indonesia tumbuhan ini tumbuh di atas dataran rumput, di pinggir jalan, tanggul dan di pinggir hutan pada ketinggian 1200 m dari permukaan laut. Terna tahunan, tegak, berambut, dengan akar yang besar, tinggi 10 cm – 80 cm, batang kaku berambut panjang dan rapat, bercabang dan beralur. Daun tunggal berkumpul di bawah membentuk roset, berbulu, bentuk daun jorong, bundar telur memanjang, tepi melekuk dan bergerigi tumpul. Panjang daun 10 cm – 18 cm, lebar 3 cm – 5 cm. Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm – 9 cm, lebar 1 cm – 3 cm. Bunga bentuk bonggol, banyak, warna ungu. Buah berupa buah longkah. Masih satu marga tetapi dari jenis lain, yaitu Elephantopus tomentosa L., mempunyai bunga wama putih, bentuk daun bulat telur agak licin, mempunyai efek therapy yang sama, tapi khasiat penurun panas dan anti radang kurang poten. Lebih sering digunakan pada rheumatic dan anti kanker.

Uraian Tanaman :
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm. Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi
lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat.

SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS, Rasa pahit, pedas, sejuk. Penurun panas, Antibiotik, anti radang, peluruh air seni, menghilangkan pembengkakan, menetralkan racun. KANDUNGAN KIMIA: Daun: Epifriedelinol, lupeol, stiqmasterol, triacontan-1-ol, dotria-contan-1-ol, lupeol acetate, deoxyelephantopin, isodeoxyelephantopin, Bunga: Luteolin-7-glucoside.

Kegunaan :
Daunnya digunakan sebagai obat demam, batuk, sariawan, mencret menahun, panas, penyakit cacing dan sebagai perangsang nafsu kelamin. Akarnya bila ditumbuk halus, bisa dijadikan sebagai obat malaria pada anak-anak. Seluruh tumbuhan digunakan untuk mengobati epistaxis (hidung berdarah), sakit kuning, infeksi saluran kencing, cacar air, busung, absces, borok, gigitan ular dan gigitan serangga.

Tapak Dara

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:49 pm

 tapakdara.jpg

TAPAK DARA

  Latin : Catharanthus roseus, (L) G. Don. / Lochnera rosea, (L) Rohb./ Vinca rosea, Linn.  

Famili :    Apocynaceae

Daerah :   Tapakdara / Kembang Sari Cina

Asing :    Perwinkle , Malaysia : Kemiting Cina / Rumput Jalang

Daerah asal tumbuhan : Amerika Tengah

 Pengenalan spesifikasi tumbuhan :
Biasanya tanaman semak ini sering tumbuh liar dan dipelihara sebagai tanaman hias. Tumbuhan semak tegak ini tingginya sekitar 100 cm, dan tumbuh subur di padang atau pedesaan beriklim tropis. Ada pun yang banyak dipakai sebagai obat adalah tapak dara yang tajuknya putih. Tapakdara memiliki rumah biji berbentuk silindris yang menggantung pada batang. Penyebaran tanaman ini dengan biji. Batangnya berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas, bercabang dan berambut. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Bunga tapak dara mirip terompet dengan permukaan berbulu halus, ada yang tajuknya berwarna putih dan ada yang berwarna merah keunguan.

Kandungan kimia & Manfaat:
Pada akar, batang, daun hingga bunga Tapakdara mengandung unsur-unsur zat kimiawi yang bermanfaat untuk pengobatan. Antara lain Zat alkaloida (vinkristin, vinblastin, vinleurosin dan vinrosidin)
. Zat vindolin yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah, menurunkan tekanan darah dan dipakai sebagai obat penenang. Kandungan zat vinblastin dan vincristine yang terdapat pada tanaman tapak dara bermanfaat sebagai anti kanker.

Khasiat dan Manfaat untuk pengobatan :
1. Diabetes mellitus (sakit gula / kencing manis)
2. Hipertensi
3. Leukemia
4. Asma dan bronkhitis
5. Demam
6. Batu Ginjal
7. Anemia
8. Bisul, borok
9. Luka bakar

Tanduk Rusa

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:48 pm

TANDUK RUSA
(Paltycerium coronarium, (Kuning), Desv.)

Sinonim :
=Paltycerium bifurcatum. =P. andidum.

Familia :
Polypodiaceae

Nama Lokal :
Daun Tanduk Rusa, Simbar Agung (Indonesia); Simbar Menjangan (Jawa, Bali), Paku Uncal (Sunda);


Tanduk Rusa (PALTYCERIUM CORONARIUM) termasuk jenis paku-pakuan. Tumbuhan ini banyak ditemukan dan dipelihara sebagai tanaman hias karena pesona juntaian daunnya yang indah. Tanduk rusa merupakan tanaman yang hidupnya menempel kuat pada benda atau pohon lain tetapi tidak merugikan tumbuhan yang menjadi inangnya. Atau mempunyai sifat epifit. Tanduk rusa atau juga di sebagian daerah disebut simbar menjangan selain permukaan daunnya mirip kulit rusa yaitu kasar, daun tanduk rusa menjuntai ke bawah bercabang-cabang menyerupai tanduk binatang rusa yang terbalik. Pada dasarnya tanduk rusa merupakan tumbuhan tegak yang menempel pada inang dengan pokok penumpu berupa akar dan rimpang batang membentuk bungkah kool berwarna coklat dan jutaian helaian daun berwarna hijau. Tanduk rusa menyukai tempat yang tidak langsung memperoleh sinar matahari. Pengembangbiakannya dilakukan dengan spora atau dengan memindahkan akar rimpangnya.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Kandungan Kimia yang terdapat pada Tanduk rusa (PALTYCERIUM CORONARIUM) belum diperoleh hasil penelitian yang jelas.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, Radang rahim luar, Haid tidak teratur, Bisul, Abses;

1. Demam
Bahan: 1 lembar daun tanduk rusa dan sedikit garam.
Cara Membuat: daun tanduk rusa ditumbuk halus, ditambah garam
secukupnya, kemudian diseduh dengan 1 gelas air panas.
Cara menggunakan: disaring dan diminum 2 kali sehari 1 cangkir,
pagi dan sore.

2. Radang Rahim luar
Bahan: 2-5 lembar daun tanduk rusa dan minyak kayu putih
secukupnya
Cara Membuat: daun tanduk rusa ditumbuk halus, ditambah minyak
kayu putih secukupnya, dan diaduk.
Cara menggunakan: ditempelkan pada perut /rahim dan dibalut
dengan kain stagen.

3. Haid tidak teratur
Bahan: 2 lembar daun tanduk rusa.
Cara Membuat: diseduh dengan air panas secukupnya.
Cara menggunakan: diminum 4 atau 3 hari sebelum datang bulan
(haid).

4. Bisul
Bahan: 1 lembar daun tanduk rusa dan sedikit kapur sirih.
Cara Membuat: kedua bahan tersebut ditumbuk halus.
Cara menggunakan: dipakai untuk mengompress bagian bisul.

5. Abses
Bahan: 1 lembar daun tanduk rusa, 1 siung bawang merah dan adas
pulawaras secukupnya.
Cara Membuat: kedua bahan tersebut ditumbuk halus.
Cara menggunakan: dipakai untuk mengompress bagian bisul.

Tahi Kotok

In Tanaman Herbal Kategori T on December 15, 2007 at 12:47 pm

 tahikoto.jpg

TAHI KOTOK
(Tagetes erecta L.)

Familia : Compositae (Asteraceac)

Nama Lokal :
Ades, Afrikaantjes; Wan shou ju (China).;

Uraian :
Herba tahunan, tegak, tinggi 60 – 70 cm. Ditanam pada halaman rumah dan taman-taman sebagai tanaman hias, Lebih menyukai tempat tempat yang terkena sinar matahari, dan lembab. Bunga berbentuk bonggol (flower head), yang dikelilingi daun pelindung. Warna bunga kuning atau orange.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rasa pahit, bau khas, sejuk. Anti radang, mengencerkan dahak, obat batuk. KANDUNGAN KIMIA: Bunga mengandung Tagetiin 0,1 %, terthienyl, helenian 0,74 %, flavoxanthin.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Infeksi saluran nafas bagian atas, radang mata (Conjunctivitis).; Batuk, Bronkhitis, Sariawan, radang tenggorok, sakit gigi,; Kejang pada anak-anak;

BAGIAN YANG DIPAKAI: Bunga, kering.

KEGUNAAN:
1. Infeksi saluran nafas bagian atas, radang mata (Conjunctivitis).
2. Batuk seratus hari (Pertussis), radang saluran nafas (Bronchitis).
3. Sariawan, radang tenggorok, sakit gigi, kejang panas pada
anak-anak.

PEMAKAIAN: 5 – 15 gr bunga kering, direbus.

PEMAKAIAN LUAR: Bunga direbus untuk cuci, atau:

1. Gondongan (Parotitis), pembengkakan payudara (mastitis):
Lumatkan bunga, campur . dengan cuka, sebagai tapal pada tempat
yang sakit.

2. Radang kulit bernanah (Pyodermi):
Lumatkan akar dan daun segar, sebagai tapal di tempat kelainan.

CARA PEMAKAIAN:
1. Batuk seratus hari (Pertusis):
15 bunga Tagetes erecta + gula enau, direbus.

2. Sakit gigi, sakit mata: 15 gr bunga tagetes erecta, rebus.

Duwet

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:44 pm

 duwet.jpg

DUWET

Famili :    Euphorbiaceae

Daerah : Sunda : Jamblang.  Dalas, dhuwak. Bali : juwet.

Asing :  

Sifat Kimiawikaya kandung an kimia, yang sudah di keta-hui antara lain è Buah : zat penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus dan glicosida. Biji : tanin, asam galat, glukosida phytomelin, alfa‑phytostcrol yang bersifat anticholesteremik. Kulit : Zat samak

Efek Farmakologis :  Tanaman ini memiliki sifat Rasa manis, Netral,   astringent antimalline,   anticholesteremik, anti ‑ diabeticum.

Bagian tanaman yang digunakan : Bunga, biji dan kulit. 


Cara budidaya :  
Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan cara penyiraman yang cukup, menjaga kelembaban dan pe-mupukan terutama pupuk dasar.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
1.  NGOMPOL : 7 butir biji juwet di giling sampai halus, lalu di rebus dengan 2 cangkir air bersama gula jawa.
Sampai airnva tinggal separonya.  Minum  setiap  hari   1 cangkir  sekitar  jam  5 sore sampai sembuh.
2.  MENCRET karena masuk angin, Udara dingin dll : Kulit dahan sekitar 1 jari kering, direbus dengan 2 gelas air mendidih jadi 1 gelas. Saring,  minum.
3.  DIABETES (KENCING MANIS) : Biji 15 butir ditumbuk halus, bus dengan 2 gelas air sampai jadi satu gelas. Bagi menjadi 3 bagian dan minum untuk satu hari. Ulangi setiap hari sampai badan tcrasa segar dan tidak lesu lagi. Atau è Kulit pohon duwet 250 gr (basah), di potong ‑ potong, rebus dengan 3 gelas air samapai jadi 2 gelas.disaring, minum sedikit‑sedikit sampai habis dalam satu hari.

Delima Putih

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:43 pm

 delimap.jpg

DELIMA PUTIH

Nama latin: Punica granatum L.

Nama daerah: Dalima; Glima; Dalimo; Gangsalan; Talima; Dilimene

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi 2-5 meter. Batang berkayu, bulat, bercabang, berduri, batang muda berwarna cokelat setelah tua berwarna hijau kotor. Daun tunggal, bentuk lanset, panjang 1-8 cm, lebar 5-15 mm, bertulang menyirip, warna hijau. Bunga tunggal di ujung cabang, mahkota membulat berwarna merah atau kuning. Buah buni, bulat, diameter 5-12 cm, warna hijau kekuningan.

Habitat: Tanaman ini banyak tumbuh liar dihutan-hutan atau di tanam dikebun sebagai tanaman hias/buah-buahan.

Bagian tanaman yang digunakan: Kulit kayu ; Kulit buah ; Akar

Kandungan kimia: Alkaloid tropan; Tanin; Gula; Triterpenoid; Glukosida; Estron; Lendir

Khasiat: Antelmintik; Astringen

Nama simplesia: Granati Cortex, Granati fructus Cortex, Granati Radix

Resep tradisional: 
 
Disentri:
Daun delima putih segar 5 g; Rimpang temu giring 2 g; Daun jambu biji segar 6 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 7 hari.
Keputihan:
Kulit buah delima segar 5 g; Daun beluntas segar 6 g; Herba tapak liman 5 g; Majakan 1 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 7 hari
.
Obat cacing:
Akar delima putih 1 jari; Rimpang temu giring segar 1 jari; Air 110 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 4 hari.

Daun Wungu

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:42 pm

 daunungu.jpg

DAUN WUNGU

Nama latin: Graptophyllum pictum (L.)Griff.

Nama daerah: Daun putri; Demung; Tulak; Puding; Daun ungu

Deskripsi tanaman: Tumbuhan perdu, tinggi lebih kurang 8 meter. Daun berbentuk lonjong, berhadapan, berlendir. Bunga berbentuk bintang, keluar dari pucuk daun, kelopak bunga besar dan berbentuk daun, warna putih.

Habitat: Tumbuh di dataran rendah sampai 1250 m dpl, sebagai tanaman hias atau tanaman pagar.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Lendir; Alkaloid; Steroida; Tanin

Khasiat: Diuretik; Laksatif

Nama simplesia: Graptophylli Folium

Resep tradisional: 
 
Demam:
Daun wungu segar 7 helai; Rimpang temu lawak 5 keping; Air 110 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 7 hari.
Wasir:
Daun wungu segar 7 helai; Daun duduk 7 helai; Menyan madu 1/2 sendok teh; Norit 1/2 tablet; Air secukupnya, Dipipis, Diminum sehari 1 kali tiap kali 1/4 cangkir; diulang selama 14 hari.
 
Bisul:
Daun wungu beberapa helai; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bisul atau bagian kulit yang bengkak.

Daun Sirih

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:41 pm

 sirih.jpg

DAUN SIRIH

Nama latin: Piperbetie L.

Nama daerah: Sirih; Suruh

Deskripsi tanaman: Perdu, merambat, batang berkayu, berbuku-buku, bersalur, berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal, bulat panjang, berwarna kuning kehijauan sampai hijau tua, yang sudah bisa dipetik biasanya sudah selebar 10 cm, panjang 15 cm. Buah buni, bulat, berwarna hijau keabu-abuan.

Habitat: Tanaman ini dapat tumbuh di daerah yang lembab.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Eugenol; Metil eugenol; Karvakral; Kavikal; Alil katekal; Kalribetol; Sineol; Estragol; Karoten; Tiamin; Riboflavin; Asam nikotinat; Vitamin C; Tanin; Gula; Pati; Asam amino

Khasiat: Astringen; Ekspektoran; Sialagoga; Hemostatik; Antiseptik

Nama simplesia: Piperis Folium


Resep tradisional: 
 
Kaki bengkak:
Daun sirih 2 helai; Cabai jawa 3 buah; Lempuyang emprit 1 rimpang; Beras sedikit; Air sedikit; Arak secukupnya, Ramuan dihaluskan dengan bantuan sedikit air; kemudian ditambah arak secukupnya, Digosokkan pada kaki yang bengkak sebelum tidur.
 
Keputihan:
Daun sirih 2 helai; Daun Jambu biji 5 helai; Air 210 ml, Dibuat infus, Dicebokkan 2 kali sehari.
 
Malaria:
Daun sirih segar 20 helai; Daun sembung 20 helai; Daun asam 1 genggam; Daun beluntas 20 helai; Kulit kayu pulai 3 jari tangan; Air 2 panci, Dididihkan, Uapnya digunakan untuk mandi ukub(mandi uap).
 
Napas/mulut bau:
Daun sirih 3 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Untuk berkumur 2 kali sehari; tiap kali pakai 50 ml.
 
Nyeri sendi:
Buah sirih 5 butir; Lempuyang emprit 1 rimpang; Ragi secukupnya, Dihaluskan ditambahan arak, Digosokkan pada tempat yang nyeri.
 
Pendarahan hidung(mimisan):
Daun sirih, Diremas dan digulung, Dimasukkan ke dalam hidung.
 
Radang mulut:
Daun sirih 2 helai; Air 110 ml, Dibuat infus, Untuk berkumur 2 kali sehari; tiap kali pakai 100 ml.
 
Suara parau dan Batuk:
Daun sirih 2 g; Buah kapulaga 1 g; air 110 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Daun Seribu

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:39 pm

 daunseribu.jpg

DAUN SERIBU

Nama latin: Achillea millefolium

Nama daerah: Godong sewu; Daun hidung berdarah; Gandana; Momadra

Deskripsi tanaman: Herba (Rumput – rumputan)tinggi 15-50 cm. Daun bercangap menyirip, pada masa vegetatif, daun tumbuh membentuk roset, karena batang belum muncul di atas tanah, lebar anak daun hanya 2 mm. Bunga pada tandannya membentuk payung berwarna kemerahan atau putih, tabungnya berwarna kuning, pada saat berbunga tangkainya tumbuh cepat sehingga tampak ruasnya memanjang. Buahnya kecil-kecil dan kulit tidak pecah.

Habitat: Tumbuh baik pada ketinggian tempat 900-1500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Akhileina; Stakhidrina; Kholina; Polina; Apigenin; Inulin; Flavon; Glikosida benzaldehidsianhidrin; Zat samak; Asparagin; Minyak lemak.

Khasiat: Diaforetik; Antipiretik; Diuretik; Hipotensif; Antiseptik.

Nama simplesia: Achilleae millefolli Herba


Resep tradisional: 
 
Gangguan syaraf:
Daun seribu kering 30 g; Air 2 gelas, Daun direbus hingga cairannya tinggal 1 gelas, Diminum setiap jam
 
Gangguan pencernaan:
Daun seribu ditumbuk halus 1 sendok makan; Madu 1 sendok makan, Keduanya diaduk menjadi satu, Sehari minum 3 kali; tiap kali minum 1 cangkir; setiap hari hendaknya makan buah pepaya.

Daun Sendok

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:39 pm

 daunsendok.jpg

DAUN SENDOK

Nama latin: Plantago major L.

Nama daerah: Daun urat; Ekor angin; Ekor menjangan; Ki urat; Ceuli uncal; Meloh kiloh; Otot-ototan; Sembung otot; Suri pandak; Sang koba; Terongoat

Deskripsi tanaman: Tumbuhan terna tahunan, berkembang secara luar biasa dengan rimpang tegak, tinggi tanaman 60-80 cm.

Habitat: Tumbuh di tanah yang disinari matahari atau agak teduh, dipinggir-pinggir jalan berumput dan di lapangan rumput, di hutan atau tempat terbuka.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Lendir; Asam D-galakturonat; Pluntagon; ankobin(glikosid); Nivertin; Emulsin(enzim); Vitamin C; Alkaloida; Tanin; Minyak lemak

Khasiat: Anti inflamasi; Diuretik; Antipiretik; Ekspektoran

Nama simplesia: Plantaginis majoris herba


Resep tradisional:
 
Bisul:
Seluruh tanaman daun sendok 3 tanaman; air 2 gelas, Campuran direbus sampai diperoleh 1 gelas; disaring, Diminum sehari 1 kali 1 gelas.
 
Kudis:
Daun sendok segar 7 lembar; Daun sambiloto segar 7 lembar; air 2 gelas, Campuran direbus hingga diperoleh 1 gelas; disaring, Diminum sehari 2 kali; 1 gelas.
 
Batu ginjal:
Herba daun sendok segar 7 g; Akar alang-alang 7 g; Daun keji beling segar 2 g; Herba kumis kucing segar 6 g; Herba meniran segar 2 g; Air 130 ml, Dibuat infus atau dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml; apabila dibuat pipisan; diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 14 hari.
 
Hepatitis dan Radang usus:
Herba daun sendok segar 1 genggam; Rimpang temu lawak segar 7 keping; Air secukupnya, Rimpang temu lawak segar disangrai; kemudian dipipis bersama herba daun sendok, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 7 hari sampai 14 hari.
 
Rematik:
Herba daun sendok segar secukupnya; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian yang sakit; diperbaharui setiap 3 jam sekali.
 
Wasir:
Herba daun sendok segar 1 genggam; Daun wungu segar 7 helai; Air 100 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 14 hari.

Daun Salam

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:38 pm

DAUN SALAM

(Syzygium polyathum (weight.) Walp. )

Famili :   Myrtaceae

Daerah :  meselangan, ubar serai, gowok, manting atau kastolam.

Asing :  

Sifat Kimiawi :  Minyak Atsiri (0.05%) yang mengandung sitral, eugenol, Tanin dan flavonida.

Efek Farmakologis :  Daun – rasa kelat dan wangi, Astringent, memperbaiki sirkulasi.

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun, kulit batang, buah dan akar.

Uraian tanaman :
Pohon salam tumbuh liar di hutan, di daerah pegunungan maupun ditanam di halaman rumah sebagai tanaman bumbu. Tumbuhan berbatang besar dan tinggi ini, tingginya bisa mencapai 25 m. Daunnya yang rimbun, berbentuk lonjong / bulat telur, berujung runcing bila diremas mengeluarkan bau harum. Bunganya putih dan harum. Buahnya keciI-kecil sebesar buni dan rasanya sedikit sepat. Ketika masih muda buahnya berwarna hijau, kemudian kalau sudah tua berwarna merah kehitaman.


Cara budidaya : Dengan biji atau stump.  

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.
1.  Diare : Daun 15 gr dicuci, direbus dengan 1 gls air selama 15 mnt, tambah sedikit garam, saring lalu diminum sekaligus. Bisa juga kulit batang dipotong lalu diminum seperti teh.
2.  Kencing Manis : Daun 7 lbr dicuci bersih, direbus dengan 3 gls sampai menjadi 1 gls, disaring dan diminum untuk 2x.
3.  Maag : Daun 15-20 lbr, cuci dan rebus dengan 0.5 ltr air sampai mendidih, tambahkan gula merah secukupnya dan minum sebagai teh.
4.  Mabuk alkohol : Satu genggam buah salam masak dicuci bersih, ditumbuk sampai halus, peras dan saring lalu minum.
5.  Kudis, gatal : Daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai manjadi adonan  seperti bubur, balurkan ketempat yang sakit.  

Daun Kaki Kuda

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:37 pm

DAUN KAKI KUDA / Pegagan

Nama latin: Centella asiatica Urb

Nama daerah: Pegagan; Gagain; Pegaga; Penggaga; Ganggagan; Bagigan; Kerok; Calingan.

Deskripsi tanaman: Tanaman penutup tanah, termasuk tumbuhan herba dengan batang horizontal, setiap ruas keluar akar dan menjalar ditanah. Daun berbentuk ginjal, bergerigi, dan pada pangkal berbentuk pelepah. Bentuk bunga panjang berkelopak 2-3, berhadapan dengan daun. Perbanyakan dengan tunas akar.

Habitat: Tumbuh liar ditanah yang agak lembab di daerah dengan ketinggian 1-2500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan:  Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Glikosida asitikosida; Velarin; Alkolisulfat; Damar; Tanin.

Khasiat: Antipiretik; Diaforetik; Diuretik; Infeksi

Nama simplesia: Centellae Herba


Resep tradisional: 
 
Sakit maag dan Perut kembung:
Pegagan 5 g; Pupus pepaya 1 g; Adas 7 g; Jinten 3 g; Kencur (diparut)5 g; Sembung legi 5 g; Daun pooh 6 g; Pulosari 5 g; Ketumbar 2 g; Falerian 10 g; Air 500 ml, Semua bahan direbus, Diminum untuk 1 hari.
 
Demam dan Menambah nafsu makan:
Herba pegagan 5 g; Air secukupnya, Diseduh, Diminum sebagai pengganti air teh.
 
Asma dan Batuk:
Herba pegagan segar 2 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; selama 14 hari.
 
Sariawan usus dan Disentri:
Herba pegagan segar 2 genggam; Rimpang kunyit segar 1 jari; Rasuk angin (serbuk)1 sendok teh; Ketumbar 9 butir; Air 110 ml, Ditumbuk; Tambahkan air; Disaring; Dididihkan, Diminum 1 kali sehari 100 ml; selama 7 hari.
 
Wasir:
Herba pegagan segar 2 genggam; Daun wungu 7 helai; air 110 ml, Ditumbuk; tambahkan air; disaring dan dididihkan, Diminum 1 kali sehari 100 ml; selama 30 hari.

Daun Jinten

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:36 pm

 daunjinten.jpg

DAUN JINTEN

Nama latin: Coleus amboinicus Lour.

Nama daerah: Sukan; Ajeran; Daun kucing; Daun kambing

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, menjalar. Batang berkayu, lunak, beruas-ruas. Ruas yang menempel di tanah akan tumbuh akar, batang muda berwarna hijau pucat. Daun tunggal, mudah patah, bentuk bulat telur, tebal, tepi beringgit, berambut, panjang 6-7 cm, lebar 5-6 cm, bertulang menyirip, warna hijau muda. Bunga majemuk, berbentuk tandan, mahkota bentuk mangkok warna ungu.

Habitat: Tumbuh baik pada dataran rendah sampai 1100 m dpl, dibudidayakan sebagai tanaman hias.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Fenol; Kalium

Khasiat: Ekspektoran; Antiseptik; Karminatif

Nama simplesia: Plectranthi amboinici Herba


Resep tradisional: 
 
Batuk:
Daun jinten segar 7 helai; Air 100 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 2 kali sehari; pagi dan sore; tiap kali minum 100 ml; diulang selama 14 hari
Sariawan perut:
Daun jintan segar 1 g; Daun saga segar 3 g; Herba pegagan segar 3 g; Daun Sirih segar 3 helai; Kulit kayu turi 4 g; Air 110 ml, Dibuat infus atau dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml (infus); apabila dibuat pipisan diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 7 hari.
Sakit kepala:
Daun jinten segar 2 helai; Daun legundi segar 2 helai; Rimpang jahe merah 1 rimpang; Rimpang bangle secukupnya; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan ke pelipis dan di belakang telinga; bila ada; dapat ditambahkan minyak kelonyo.

Daun Encok

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:32 pm

 daunencok.jpg

DAUN ENCOK

Nama latin: Plumbago zeylanica L.

Nama daerah: Ki encok; Poksor; Bawa; Kareka

Deskripsi tanaman: Tumbuhan semak berbatang lunak, dan tumbuh berumpun. Bentuk daun bulat telur, bunga berwarna putih dalam tandan. Buah memanjang kecil dengan bulu kasar yang berperekat, berwarna hijau waktu muda.

Habitat: Tumbuh liar di tepi-tepi sungai dan di pagar-pagar rumah di pegunungan.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Akar

Kandungan kimia: Plumbagin; Zat samak

Khasiat: Analgesik; Antibengkak; Antimikroba

Nama simplesia: Plumbaginis Folium


Resep tradisional: 
 
Sakit pegal linu:
Daun Encok 5 lembar; Daun seligi 1 genggam; Tikel balung 3 ruas; Daun kecubung 3 lembar, Semua bahan ditumbuk halus lalu direndam dalam alkohol 70 persen minyak gondopuro dan minyak serai (dengan perbandingan 3:2:1)atau alkohol 150 cc; gondopuro 110 cc; minyak serai 50 cc, Direndam lalu dioleskan pada tempat yang sakit.

Daun Duduk

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:31 pm

 daunduduk.jpg

DAUN DUDUK

Nama latin: Desmodium triquitrum

Nama daerah: Genteng cangkeng; Ki congcorang; Cencer; Potong kujang; Gerji; Gulu walang

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi lebih kurang 3 meter. Batang berkayu, bulat beruas, permukaan kasar, diameter lebih kurang 2 cm berwarna cokelat. Daun tunggal, berseling, berbentuk lanset, panjang 10-20 cm, lebar 1-2 cm, bertulang menyirip, daun muda berwarna cokelat setelah tua berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk mulai tumbuh di ujung batang, mahkota putih keunguan berbentuk kupu-kupu. Buah polong, masing-masing 4-8 biji, buah muda berwarna hijau, setelah tua berwarna cokelat

Habitat: Tumbuh ditempat terbuka dengan cahaya matahari cukup, sedikit naungan serta tidak begitu kering pada dataran rendah sampai 1500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkoloid hepaforina; Trigonelina; Tanin

Khasiat: Anti inflamasi; Antipiretik; Diuretik; Stomakik; Paratisid

Nama simplesia: Desmodii triquetri Folium

Resep tradisional: 
 
Batu ginjal:
Daun duduk segar 6 g; Daun keji beling segar 3 g; Herba kumis kucing segar 6 g; Air 115 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Radang amandel:
Daun duduk segar 7 helai; Daun sirih segar 2 helai; Herba pegagan segar 1 genggam; Rimpang kunci pepet 5 rimpang; Air 1 gelas, Dipipis, Untuk berkumur 2 kali sehari; pagi dan sore; tiap kali 1/2 gelas.
 
Wasir:
Daun duduk segar 6 g; Air mendidih 100 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Daun Dewa

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:30 pm

 daundewa.jpg

DAUN DEWA

Nama latin: Gynura procumbens (Lour.)Merr.

Nama daerah: Beluntas cina

Deskripsi tanaman: Tanaman semak semusim, tinggi 10-25 cm, berbatang lunak, berambut halus, warna ungu kehijauan. Daun tunggal, bentuk bulat telur, berbulu lebat, permukaan atas hijau, bawah ungu. Bunga majemuk berbentuk tongkat, berbulu, kelopak hijau, mahkota berwarna kuning. Buah kecil berwarna coklat.

Bagian tanaman yang digunakan :   Seluruh tanaman dengan rincian – DAUN berguna untuk luka terpukul, melancarkan sirkulasi, menghentikan perdarahan (batuk darah, muntah darah, mimisan), pembengkakan payudara, infeksi kerongkongan, haid tidak teratur dan digigit binatang berbisa. UMBI – untuk menghilangkan pembekuan darah, pembengkakan tulang patah, pendarahan nifas.

Cara budidaya :   Perbanyak tanaman dengan menggunakan stek batang atau stump. Stek dari batang yang keras 5-10 cm. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan cara penyiraman cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan dasar.

Kandungan kimia: Saponin; Flavonoid

Efek Farmakologis : Tumbuhan ini bersifat anti coagulant (mencairkan bekuan darah), stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan panas, membersihkan racun. Dalam farmakologi cina disebutkan tumbuhan ini memiliki rasa khas dan sifat netral.

Khasiat: Antipiretik; Anti inflamasi

Nama simplesia: Gynurae Folium


Resep tradisional:
 
Kanker:
Daun dewa segar 4 g; Akar daruju 7 g; Herba benalu 3 g; air 120 ml, Ditumbuk; ditambah air mendidih; disaring, Diminum 1 hari sekali 100 ml; selama 30 hari.
 
Tekanan darah tinggi:
Daun dewa segar 3-7 helai; buah mengkudu muda 1 buah; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 1-2 kali sehari 100 ml; selama 1 bulan.
 
Kencing manis:
Daun dewa 5 helai; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
 
Pembersih luka:
Daun dewa secukupnya; Air secukupnya, Daun dewa ditumbuk halus lalu dimasukkan ke dalam air, Luka yang kotor dimasukkan ke dalam air yang dicampur daun dewa

Daruju

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:29 pm

 daruju.jpg

 DARUJU

Nama latin: Acanthus ilicifolium L.

Nama daerah: Druju; Jruju; Jaruju; Jeruju

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, semusim, tinggi lebih kurang 1 meter. Batang bulat lunak, bercabang, warna hijau keputihan. Daun tunggal, bertulang menyirip, bentuk bulat telur, tepi berduri, berwarna hijau. Bunga tunggal di ketiak daun dan di ujung batang, bermahkota enam membulat berwarna kuning. Buah kotak, bentuk tabung, beruang enam dan berwarna hijau.

Habitat: Tumbuh liar di daerah pantai, tepi sungai tanah berlumpur dan berair payau.

Bagian tanaman yang digunakan:  Daun

Kandungan kimia: Asam fenolat; Asam p-kumarat; Asam p-hidroksi benjoat

Khasiat: Ekspektoran; Antifogistik

Nama simplesia: Acanthi Radix

Resep tradisional: 

Kanker:

Akar daruju 7 g; Daun dewa segar 4 g; Herba benalu 3 g; air 120 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Hepatitis:

Akar daruju 7 g; Rimpang temu lawak segar 7 g; Herba meniran 7 g; Air 130 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

 

Dandang Gendis

In Tanaman Herbal Kategori D on December 15, 2007 at 12:27 pm

 dandanggenis.jpg

DANDANG GENDIS

Nama latin: Clinacanthus nutans

Nama daerah: Kitajan; Gendis

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu tahunan, tinggi lebih kurang 2,5 meter. Batang berkayu, tegak, beruas, dan berwarna hijau. Daun tunggal, berhadapan, bentuk lanset, panjang 8-12 mm, lebar 4-6 mm, bertulang menyirip, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, di ketiak daun dan di ujung batang, mahkota bunga berbentuk tabung, panjang 2-3 cm berwarna merah muda. Buah kotak, bulat memanjang berwarna cokelat.

Habitat: Tumbuh liar di pekarangan dan sebagai tanaman pagar pada ketinggian 1-900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkaloid; Saponin; Minyak atsiri

Khasiat: Antidiabetik; Diuretik

Nama simplesia: Clinacanthai nutans Folium

Resep tradisional: 

Kencing manis: 

Daun dandang gendis segar 7 g; Air 110 ml, Dibuat infus atau seduhan, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Mindi Kecil

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:47 am

 mindi.jpg

MINDI KECIL

( Melia azedarach L )

  Famili :  Meliaceae

Daerah :  Renceh, Gringging, Mindi, Cakra-cikri

Asing :  

Sifat Kimiawi :  Kaya kandungan kimia, kulit batang dan akar mengandung toosendanin C30H38O11 dan komponen yang larut C30H140O12, margoside, kaemferol, resin, tanin, n-triacontane, beta-sitosterol dan triterpen kulinone. Biji : resin yang sangat beracun.

Efek Farmakologis : Bersifat rasa pahit, dingin dan sedkit beracun, obat cacing, membersihkan panas dan lembab, laxative, peluruh air kemih (diuretik)

Bagian tanaman yang digunakan :  Kulit batang, Kulit akar dan daun, basah ataupun kering.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Cacingan : Kulit batang/akar segar 90 – 120 gr digodok dan diminum

Kudis : Kulit batang/akar digosok dan airnya buat cuci bagian yang sakit/gatal.

Mimba

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:46 am

 mimba.jpg

MIMBA

Azadirachta indica Juss

Famili :  Meliaceae

Daerah :  Imbo, Alembha, Intaran, Margo Sier

Asing :  

Sifat Kimiawi :   Efek Farmakologis : Rasa pahit (kecuali daging buah – manis), netral, anti-diabetes, abti-piretik, anti bilious, merangsang dan mengaktifkan kelenjar

Bagian tanaman yang digunakan :  Daun, Biji, Kulit Kayu dan Kayu

Cara budidaya : Menggunakan biji, cukup matahari dan sekitar 0 – 200 dpl

 


Resep tradisional: 

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

Kencing Manis : 7 lembar daun dimasak dengan 3 gelas menjadi 1 gelas, minum pagi dan sore

Disentri/Diare : Sama dengan diatas

Malaria/Masuk Angin : sama dengan pengobatan Kencing Manis.

Meniran

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:44 am

 meniran.jpg

MENIRAN

Nama latin: Phyllanthus niruri L.

Nama daerah: Memeniran; Gosau na dungi; Gosau madungi roriha; Daun gendong anak

Deskripsi tanaman: Semak, tanaman semusim, tinggi 20-60 cm. Batang masif, bulat licin, tidak berambut, diameter 3 mm, berwarna hijau. Daun majemuk, berseling, anak daun 15-24, berwarna hijau, bentuk bulat telur, panjang 1,5 cm,lebar 7 mm, tepi rata, ujung tumpul, pangkal membulat. Bunga berwarna putih, tunggal, dekat tangkai anak daun. Buah kotak, bulat, diameter 2 mm, berwarna hijau keunguan. Biji kecil, keras, berwarna coklat.

Habitat: Meniran tumbuh liar di tempat lembab dan berbatu, seperti di sepanjang saluran air, semak-semak. Tumbuhan ini bisa ditemukan di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh tanaman

Kandungan kimia: Filantina; Hipofilantina; Kalium; Damar; Tanin

Khasiat: Membersihkan hati; Anti radang; Anti demam; Peluruh dahak; Peluruh haid; Penambah nafsu makan

Nama simplesia: Phyllanthi Herba

Mengkudu

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:43 am

 mengkudu.jpg

MENGKUDU

Nama latin: Morinda citrifolia L.

Sinonim : Bancudus latifolia, Rumph

Familia : Rubiaceae

Nama daerah: Mengkudu; Kudu; Kemudu; Cangkudu; Bengkudu; Keumudu; Lengkudu; Bakudu; Kodhuk; Pace; Benthis; Makudu; Mekudu; Bingkudu; Wangkudu; Kungkudu; Manakudu; Bangkulu; Pamarae; Neteu; Labannan; Tibah; Ai-kombo.

Deskripsi tanaman: Mengkudu (MORINDA CITRIFOLIA) termasuk jenis kopi-kopian. Mengkudu dapat tumbuh di dataran rendah sampai pada ketinggian tanah 1500 meter diatas permukaan laut. Mengkudu merupakan tumbuhan asli dari Indonesi. Tumbuhan ini mempunyai batang tidak terlalu besar dengan tinggi pohon 3-8 m. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daun 20-40 cm dan lebar 7-15 cm. Bunganya berbentuk bungan bongkol yang kecil-kecil dan berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan berwujud buah buni berbentuk lonjong dengan variasi trotol-trotol. Bijinya banyak dan kecil-kecil terdapat dalam daging buah. Pada umumnya tumbuhan mengkudu berkembang biak secara liar di hutan-hutan atau dipelihara orang pinggiran-pinggiran kebun rumah.

Habitat: Tumbuh liar di tepi pantai dan ditanam di seluruh Nusantara. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 1-1500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Buah ; Akar ; Daun

Komposisi :
Buah buni tumbuhan mengkudu yang telah masak mempunyai aroma yang tidak sedap, namun mengandung sejumlah zat yang berkhasiat untuk pengobatan. Adapun kandungan zat tersebut antara lain morinda diol, morindone, morindin, damnacanthal, metil asetil, asam kapril, sorandiyiol, Alkalaoid; Antrakuinon; Alzarin;  

Khasiat: Hipotensif; Autelmintik; Emenagog.

Nama simplesia: Morindae citrifoliae Fructus

Resep tradisional: 
 
Amandel
Buah mengkudu (parut)1 buah; Air matang 100 ml, Diseduh lalu beningannya ditambah madu satu sendok teh, Untuk berkumur; ramuan tidak berbahaya bila tertelan.
Limpa membesar
Buah mengkudu (parut)2 buah; Cuka encer sedikit, Peras dan saring, Diminum 1 hari sekali 1 ramuan.
 
Sariawan
Buah mengkudu (parut)1 buah; Buah pisang batu 2 buah; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Tekanan darah tinggi, Buah mengkudu (parut)1 buah; Air matang 100 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Hipertensi
Bahan: 2 buah Mengkudu yang telah masak di pohon dan 1 sendok
makan madu.
Cara Membuat: buah mengkudu diperas untuk diambil airnya,
kemudian dicampur dengan madu sampai merata dan disaring.
Cara menggunakan: diminum dan diulangi 2 hari sekali.

Sakit Kuning
Bahan: 2 buah Mengkudu yang telah masak di pohon dan 1 potong
gula batu.
Cara Membuat: buah mengkudu diperas untuk diambil airnya,
kemudian dicampur dengan madu sampai merata dan disaring.
Cara menggunakan : diminum dan diulangi 2 hari sekali.

Demam (masuk angin dan infuenza)
Bahan: 1 buah Mengkudu dan 1 rimpang kencur;
Cara Membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air
sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring.
Cara menggunakan : diminum 2 kali 1 hari, pagi dan sore.

Batuk
Bahan: 1 buah Mengkudu dan ½ genggam daun poo (bujanggut);
Cara Membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air
sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring.
Cara menggunakan : diminum 2 kali 1 hari, pagi dan sore.

Sakit Perut
Bahan: 2-3 daun Mengkudu
Cara Membuat: ditumbuk halus, ditambah garam dan diseduh air
panas.
Cara menggunakan: setelah dingin disaring dan diminum.

Menghilangkan sisik pada kaki
Bahan: buah Mengkudu yang sudah masak di pohon.
Cara menggunakan: bagian kaki yang bersiisik digosok dengan buah
mengkudu tersebut sampai merata, dan dibiarkan selama 5-10 menit,
kemudian dibersihkan dengan kain bersih yang dibasahi dengan air
hangat.

Mahkota Dewa

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:41 am

 

MAHKOTADEWA

Sebagian ahli botani menamai mahkota dewa berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria papuana Warb. var. Wichannii (Val.) Back. Namun, sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran buahnya yang besar-besar (makro), yaitu Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Sebutan atau nama lain untuk mahkota dewa cukup banyak. Ada yang menyebutnya pusaka dewa, derajat, mahkota ratu, mahkota raja, trimahkota. Di Jawa Tengah, orang menyebutnya dengan nama makuto mewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat. Nama ini diberikan karena pohon ini mampu mengobati aneka penyakit. Sementara itu, orang Cina lebih suka menyebutnya pau yang berarti obat pusaka. Tidaklah mengejutkan jika beberapa orang pun menginggriskan namanya menjadi the crown of god.

Nama-nama lain yang sangat bagus itu umumnya dimunculkan berdasarkan khasiat yang dikandung pohon ini. Nama-nama lain itu juga mengandung daya tarik. Begitu hebatnya daya tarik itu sampai-sampai negara lain pun sudah meliriknya. Ini terbukti dengan adanya pesanan ekspor pohon mahkota dewa ke Singapura. Pesanan ini memang tidak dipenuhi karena sayang sekali kalau sampai negara lain yang mengembangkannya, bahkan lalu mematenkannya.

Meskipun banyak yang memberikan nama berkonotasi bagus kepada pohon ini, ada juga orang yang memberikan nama berkonotasi sebaliknya. Contohnya, di Depok, Jawa Barat, nama lain mahkota dewa adalah buah simalakama. Walaupun cukup mengagetkan, sebutan ini sebetulnya cukup beralasan. Soalnya, bagi penderita suatu penyakit, jika dimakan melebihi takaran, buah mahkota dewa akan menyebabkan efek negatif yang tidak diharapkan, dari sariawan hingga pusing dan mual-mual. Namun, jika tidak dimakan, penyakitnya malah mungkin tidak bisa disembuhkan. Memang, dalam mengonsumsi buah ini, dosis yang benar-benar tepat harus diperhatikan.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti sakit lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, tekanan darah tinggi, lemah syahwat dan ketagihan narkoba) dan penyakit ringan (seperti eksim, jerawat, dan luka gigitan serangga) bisa disembuhkan dengan pohon ini. Mahkota dewa bisa digunakan sebagai obat dalam, dengan cara dimakan atau diminum, dan sebagai obat luar, dengan cara dioleskan atau dilulurkan. Melihat begitu banyak penyakit yang bisa disembuhkannya, sebutan pusaka para dewa memang layak disematkan untuk pohon ini.

Kaya Kandungan Kimia

Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas itu diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung polifenol.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.

Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang berat sampai yang sepele. Kasus Tuti di atas hanyalah salah satu contoh. Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa orang dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

Pembudidayaan Mahkota Dewa

Bagian-bagian Pohon

Pohon mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun.

Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batangnya ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Batang ini secara empiris terbukti bisa mengobati penyakit kanker tulang.

Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong-langsing-memanjang berujung lancip. Sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih langsing. Teksturnya pun lebih liat. Warnanya hijau. Daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Permukaan bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian bawah. Pertumbuhannya lebat. Panjangnya bisa mencapai 7—10 cm, dengan lebar 3—5 cm. Daun mahkota dewa termasuk bagian pohon yang paling sering dipakai untuk pengobatan. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara merebusnya. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor.

Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2—4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun. Warnanya putih. Bentuknya seperti terompet kecil. Baunya harum. Ukurannya kira-kira sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan. Bunga mahkota dewa belum terbukti dapat digunakan untuk pengobatan.

Buah mahkota dewa merupakan ciri khas pohon mahkota dewa. Bentuknya bulat, seperti bola. Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah. Penampilannya tampak menawan, merah menyala. Pada malam hari, jika terkena sinar lampu, tampak seperti berkilau. Apalagi jika sudah tua. Penampilan buah mahkota dewa memang tampak merangsang selera untuk memakannya. Namun, hati-hati. Memakannya berarti harus bersiap-siap untuk setidaknya merasakan mabuk atau pusing. Buah ini mampu tumbuh dengan cukup lebat. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.

Saat masih muda, kulitnya berwarna hijau. Namun, saat sudah tua, warnanya berubah menjadi merah marun. Ketebalan kulit sekitar 0,5—1 mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Dalam pengobatan, kulit dan daging buah tidak dipisahkan. Jadi kulit tidak perlu dikupas dulu. Saat masih muda, rasa kulit dan daging ini sepet-sepet pahit. Namun, saat sudah tua, rasanya berubah menjadi sepet-sepet agak manis. Jika dimakan langsung akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Karenanya, tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Dianjurkan pemanfaatan kulit dan daging buah dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Kulit dan daging buah ini antara lain mampu mengobati flu, rematik, sampai kanker rahim stadium akhir. Kulit dan daging buah juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan.

Cangkang buah adalah batok pada biji. Jadi, cangkang ini bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih. Ketebalannya bisa mencapai 2 mm. Rasa cangkang buah juga sepet-sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging. Juga tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Soalnya, dapat menyebabkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Pemanfaatannya juga dianjurkan dengan cara merebusnya. Cangkang ini terbukti dapat digunakan untuk pengobatan, antara lain dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati. Seperti daun dan kulit serta daging buah, cangkang juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan. Cangkang ini lebih mujarab dibandingkan dengan kulit dan daging buah.

Seperti bentuk buahnya, biji buah juga bulat. Warnanya putih. Diameternya mencapai 2 cm. Biji ini sangat beracun. Jika tergigit akan menyebabkan lidah kaku, mati rasa, dan badan meriang. Karenanya, biji ini hanya digunakan untuk obat luar sebagai obat oles. Biji ini terbukti dapat digunakan untuk mengobati aneka penyakit kulit. Pemanfaatan biji dilakukan dengan cara mengeringkan dan menyangrainya sampai gosong.

Sangat tidak dianjurkan untuk memakan buah mahkota dewa mentah-mentah. Soalnya, akibat yang ditimbulkannya cukup serius. Di Depok pernah ada yang mencoba memakan buahnya begitu saja. Hasilnya, orang itu langsung mabuk. Di Yogyakarta juga pernah ada yang mencoba menelan bijinya mentah-mentah. Hasilnya lebih parah. Dia merasakan tubuhnya sangat panas, seperti terbakar api, dan buang-buang air terus-menerus. Namun, setelah tidur, keesokan harinya, tubuhnya terasa sangat segar. Memang, hanya orang-orang tertentu yang merasa tidak bermasalah dalam mengonsumsi mahkota dewa mentah-mentah.

Ibu-ibu yang hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Soalnya, kemampuan mahkota dewa yang bisa meningkatkan kontraksi otot rahim sangat berbahaya bagi kondisi kehamilan.

Efek yang biasanya muncul setelah mengonsumsi mahkota dewa adalah serangan rasa kantuk. Efek seperti ini normal-normal saja. Efek yang lain adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini, perbanyaklah minum air putih. Dosis mahkota dewa pun perlu dikurangi jika meminumnya lagi. Jika mabuk lagi, hentikan pemakaian sementara.

Untuk penyakit-penyakit dalam dan sangat serius seperti misalnya kanker rahim setelah mengkonsumsi Mahkota Dewa badan bisa panas dingin dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah yang berbau busuk. Hal ini merupakan proses membersihkan penyakit.

Awalnya, selain sebagai tumbuhan obat, mahkota dewa berfungsi sebagai pohon peneduh. Karena pohon ini juga tampak indah, terutama bunga dan buahnya, banyak orang yang memfungsikannya sebagai pohon hias. Meskipun indah, pohon ini sebenarnya mengandung racun. Racun ini terutama tersimpan di dalam bijinya. Karenanya, sikap berhati-hati perlu dikembangkan dalam menanam, mengonsumsi, dan mengolah hasil pohon ini. Bahkan setelah menjadi ramuan obat sekalipun, jika pemakaiannya melebihi dosis yang dianjurkan, efek-efek negatif yang tidak diharapkan bisa tetap muncul.

Uniknya, menurut seorang peneliti dari Gajah Mada, tanaman yang beracun biasanya justru sangat bagus untuk menanggulangi tumor dan kanker ganas. Analoginya, ular kobra terkenal dengan bisanya yang sangat mematikan, tetapi darahnya sangat manjur untuk pengobatan. Sebetulnya, bukan hanya mahkota dewa yang beracun. Beberapa pohon obat lain pun beracun. Dalam buku Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, dr. Setiawan Dalimarta menuliskan dua belas pohon beracun yang manjur untuk menyembuhkan kanker. Pohon-pohon itu adalah bidara laut, tapak dara, ceguk, daun encok, jarak, kamboja merah, kayu manis cina, ki tolod, leunca, pacar air, sikas, dan tali putri. Selain itu tanaman keladi tikus juga amat beracun.

Dari Dataran Rendah sampai Dataran Tinggi

Mahkota dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian 10—1.200 meter dpl (dari permukaan laut). Namun, pertumbuhannya paling baik jika ditanam di ketinggian 10—1.000 meter dpl.

Sampai saat ini belum ada orang yang secara serius mengupayakan perbanyakan mahkota dewa. Salah satu sebabnya mungkin karena pembudidayaannya yang memang susah-susah gampang. Yang sudah diketahui dengan pasti, mahkota dewa bisa ditanam di tanah pekarangan atau kebun, dan bisa juga ditanam di dalam pot. Pohon ini akan tumbuh dengan sangat baik jika ditanam di tanah yang gembur dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Pohon yang ditanam di dalam pot pertumbuhannya tidak setinggi yang ditanam di kebun atau pekarangan.

Perbanyakan pohon bisa dilakukan secara vegetatif dan secara generatif. Dari sekian cara perbanyakan vegetatif, hanya pencangkokan yang telah menunjukkan keberhasilan. Dengan setek batang belum ada hasilnya.

Sebetulnya, pencangkokan agak sulit dilakukan karena batang mahkota dewa sangat bergetah. Pencangkokan baru bisa dilakukan jika batang yang dikupas sudah mulai mengering. Pencangkokan juga sebaiknya dibantu dengan krim hormon perangsang pertumbuhan akar.

Hal yang perlu dilakukan dalam mencangkok adalah memberikan tambahan air bila tak ada hujan. Kurangi cabang yang terlalu panjang dan banyak. Kurangi juga daunnya bila terlalu lebat. Dalam waktu 2—3 minggu, akar batang yang dicangkok sudah mulai tumbuh. Cangkokan bisa dipindahkan ke media penanaman setelah usianya mencapai 6 – 8 minggu

Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji. Perbanyakan dengan cara ini paling banyak dilakukan karena memang paling mudah. Kelemahannya, pertumbuhan pohon lebih lama.

Dalam perbanyakan dengan biji, mula-mula petik buah yang benar-benar sudah tua atau matang di pohon, ambil bijinya yang tersembunyi di balik cangkangnya, kemudian semaikan biji itu di tempat persemaian dengan media sekam bakar dicampur dengan kompos. Setelah bertunas, pindahkan ke media penanaman permanen, baik di pekarangan maupun di dalam pot.

Biji yang dipilih untuk disemaikan adalah biji yang benar-benar bagus. Ciri biji yang bagus adalah berisi penuh saat dipegang, keras, tidak kempes, dan tidak cacat dimakan ulat.

Saat penyemaian, perawatan yang perlu dilakukan adalah memperhatikan kelembapan medianya. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan hand sprayer atau semprotan yang lembut. Pemupukan tidak boleh menggunakan pupuk kimia karena bisa mengurangi khasiat obatnya. Yang paling aman menggunakan pupuk kompos atau pupuk kandang yang sudah tak berbau.

Tanaman dipindahkan ke media penanaman setelah berumur dua bulan atau ketinggiannya sudah mencapai 10—15 cm. Cara memindahkannya dengan melubangi bagian bawah polybag lalu memasukkannya ke lubang tanam. Setelah dipindahkan ke media penanaman permanen, perawatan yang perlu dilakukan adalah menyiraminya setiap hari dan memberikan pupuk kandang atau pupuk kompos dua minggu sekali.

Media penanaman di pekarangan atau kebun sama dengan media untuk tanaman buah pada umumnya. Media penanaman di dalam pot adalah tanah, kompos atau pupuk kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pot yang digunakan sebaiknya berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm. Bahannya bisa dari tanah, plastik, kayu, atau kaleng.

Di samping memiliki kelemahan seperti disebut di atas, penanaman di dalam pot memiliki banyak keunggulan. Yang paling menonjol adalah penempatannya yang bisa dilakukan di mana pun. Bisa di dalam kamar, di atas kamar, di atas pagar, di atas got, atau bisa pula di atas genting. Penanamannya pun bisa dilakukan secara vertikultur. Penanaman secara vertikultur ini, di banyak negara seperti Jepang dan Cina, menyumbangkan hasil pertanian yang cukup dominan.

Dalam umur 10—14 hari sejak biji disemai, daun-daun mulai tumbuh. Bunga mulai kelihatan ketika pohon sudah berusia 8—12 bulan. Sementara itu, buah akan muncul saat pohon berusia 10—12 bulan. Buah ini akan sangat bagus pertumbuhannya jika penyiraman dilakukan dengan rutin dan teratur. Soalnya, buah mahkota dewa memerlukan banyak air.

Buah bisa dipetik saat sudah berusia dua bulan. Saat itu buah sudah matang. Cirinya, antara lain, kulit buah sudah berwarna merah marun dan berbau manis seperti aroma gula pasir. Jika sudah matang, sebaiknya buah langsung dipetik. Pemetikan jangan ditunda sebab buah bisa membusuk. Buah yang busuk kualitasnya sudah menurun. Begitu juga dengan khasiatnya. Menurut hasil penelitian, buah yang matang maupun mentah kandungannya sama. Hanya saja, jika akan dibuat menjadi minuman instan hendaknya gunakan buah yang benar-benar matang. Sebaliknya, untuk pengobatan sakit kanker, justru lebih baik memanfaatkan buah yang masih mentah dan hijau.

Pemupukan

Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkualitas, sebaiknya hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk-pupuk anorganik. Cukup gunakan pupuk organik saja. Pemakaian pupuk anorganik akan mempengaruhi kandungan kimiawi daun dan buah mahkota dewa.

Pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan cara-cara yang sederhana misalnya:

1. membusukkan sampah rumah tangga dengan membuatkan lobang di tanah, bila sudah penuh, uruk dengan tanah. Untuk mempercepat pembusukan bisa menggunakan sirup manis 3 sendok makan. Bisa juga menggunakan bakteri M-Bio.Berikan tanda ditempat tersebut, dua bulan kemudian sampah tersebut bisa dijadikan pupuk.

2. Bila tanaman sudah berumur sepuluh bulan perlu diberikan pupuk buah yang alami buatan sendiri, yakni dengan membakar sampah organic yang kering, sekam padi atau lebih bagus lagi sampah-sampah dari daun dan ranting Mahkota Dewa. Pembakarannya jangan semua jadi abu, bila sampah atau sekam sudah nampak membara segera siram dengan air, biarkan hingga dingin. Sebulan sekali tanah disekitar pohon di dangir atau digemburkan., taburkan sampah organic di sekitar pohon.

3. Bisa juga memanfaatkan kepala udang atau sampah ikan dan daging, tanam disekitar pohon. Untuk menghindari semut bisa memanfaatkan biji Mahkota Dewa, cengkeh dan tembakau yang dibuat tepung.

4. Keringkan tahi kambing, kotoran sapi, ayam dan kotoran hewan lainnya. Bila sudah tidak berbau, kotoran tersebut bagus untuk pupuk.

Bagian dari TOGA

Ada yang mendefinisikan pohon atau tanaman obat sebagai pohon yang salah satu, sebagian, atau seluruh bagiannya mengandung zat atau bahan yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Bagian yang dimaksud bisa daun, batang, akar, umbi, buah, atau bunga. Dari definisi di atas, yang termasuk pohon obat yang tumbuh di Indonesia ternyata setidaknya terdiri dari 940 jenis pohon. Mahkota dewa hanyalah satu satu jenisnya.

Dalam penanamannya, pohon-pohon obat itu bisa dibentuk menjadi suatu taman obat. Istilah yang populer untuk menyebut taman ini adalah TOGA, taman obat keluarga. TOGA ini bisa dirancang di kebun kecil, pekarangan, atau di dalam rumah. Salah satu patokan yang harus dipegang dalam merancang TOGA, terutama yang di pekarangan atau di dalam rumah, adalah faktor estetika atau keindahan taman dan rumah. Jangan sampai kehadirannya justru merusak pemandangan. Untuk itu, harus ada semacam ‘penyesuaian’ antarpohon serta antara pohon dan benda-benda lain, seperti kolam, lampu, jalan setapak, atau kandang-kandang. ‘Penyesuaian’ ini bersifat sangat relatif, tergantung pada selera pemilik.

TOGA sangat bermanfaat bagi keluarga. Selain sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan sendiri untuk menyembuhkan aneka penyakit, hasil TOGA juga bisa dijual. Sayangnya, minat masyarakat Indonesia dalam membuat TOGA masih kurang. Penyebabnya antara lain sebagai berikut.

1. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan hal-hal yang praktis. Harus diakui, meramu TOGA membutuhkan waktu dan sedikit pengetahuan, sedangkan obat-obatan modern bersifat sangat praktis. Kepraktisan ini juga digembar-gemborkan oleh aneka media massa melalui iklan.

2. Kurangnya lahan untuk merancang TOGA. Padahal, ini bukan alasan. Soalnya, TOGA bisa dirancang di atas kamar sekalipun.

3. Sulitnya mendapatkan bibit-bibit pohon obat. Memang ada beberapa pohon obat yang bibitnya sulit didapat. Namun, banyak juga yang bibitnya sangat gampang didapat.

4. Kurangnya pemahaman akan manfaat dan cara pengolahan TOGA. Kendala ini hanya bisa diatasi dengan kesadaran sendiri untuk mencari informasi tentang manfaat dan cara mengolah atau merancang TOGA.

Dilihat dari polanya, penanaman pohon obat di TOGA ada dua cara. Pertama, penanaman secara monokultur. Artinya, satu jenis tanaman obat ditanam secara berkelompok di satu areal tanam. Kedua, penanaman secara tumpang sari. Artinya, beberapa jenis obat ditanam secara berbarengan di satu areal tanam. Kedua pola di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satu kelemahan monokultur adalah adanya kesan monoton.

Mahkota dewa bisa ditanam secara monokultur ataupun secara tumpang sari. Untuk menghindari kesan monoton, sebaiknya mahkota dewa ditanam secara tumpang sari. Mahkota dewa bisa ditanam dengan daun dewa, sambiloto, atau kumis kucing. Dalam penanaman di dalam pot, mahkota dewa bisa disandingkan dengan handeuleum, cengkaruk, atau keji beling.

Dalam menanam mahkota dewa, kehati-hatian mutlak diperlukan. Jangan sampai pohon ini dapat ‘dipermainkan’ oleh anak kecil, terlebih balita. Soalnya, bisa saja buahnya dipetik lalu coba-coba dimakan olehnya. Ini tentu sangat berbahaya.

Bibit mahkota dewa bisa diperoleh di beberapa penjual khusus bibit pohon obat-obatan. Bibit ini bisa juga diperoleh di beberapa penjual ramuan tradisional. Harganya bervariasi, tergantung pada umur pohon dan buah yang muncul. Makin tua pohon, makin mahal harganya. Pohon yang sudah berbuah juga lebih mahal daripada pohon yang belum berbuah. Pada tahun 2001, harga pohon yang belum berbuah sekitar Rp40.000. Untuk yang sudah berbuah, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Pembasmian Musuh Alami

Mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Pemberantasan hama ini jangan menggunakan pestisida sebab racun atau residu pestisida dapat menempel dan tertinggal di bagian-bagian pohon. Dikhawatirkan residu ini terbawa atau tidak hilang ketika mahkota dewa diracik menjadi obat-obatan. Akibatnya, alih-alih menyembuhkan, malah penyakit tambahan yang didapat.

Pembasmian musuh alami ini sebaiknya menggunakan pestisida buatan sendiri yang terbuat dari campuran tembakau, mamba, lengkuas, serai, sabun colek, daun sambiloto, brotowali, bawang putih, dan biji srikaya yang dihancurkan. Jika tidak semuanya tersedia, beberapa bahan bisa diabaikan. Bahkan, jika susah mendapatkan semua bahan di atas, biji mahkota dewa itu sendiri bisa dipergunakan untuk membasminya.

Contoh formula untuk membuat pestisida:

- daun mimba 8 kg
- lengkuas 6 kg
- serai 6 kg
- sabun colek 20 gr
- air 20 lt

Cara membuatnya sebagai berikut. Tumbuk-haluslah daun mimba, lengkuas, dan serai. Campurkan. Masukkan campuran tersebut ke dalam ember besar. Tambahkan 20 liter air. Aduk sebentar, lalu diamkan selama 24 jam. Keesokan harinya, saringlah dengan kain halus. Masukkan sabun colek yang telah dilarutkan dengan sedikit air ke dalam campuran. Setelah itu, tambahkan lagi 60 liter air. Sebaiknya air yang digunakan adalah air panas atau air hangat. Penggunaan air panas atau hangat ini akan memperbesar kelarutan bahan aktif dalam air sehingga pestisida akan bekerja lebih cepat.

Cara mengaplikasikan pestisida buatan itu adalah dengan langsung menyemprotkannya pada hama pengganggu, baik yang sendiri maupun yang berkelompok. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif akibat teriknya matahari. Frekuensi penyemprotan umumnya dilaksanakan dua sampai tiga kali dengan selang waktu tiga hari.

Pemanenan

Dalam memanen mahkota dewa, perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen. Soalnya, cara memanen setiap bagian pohon mahkota dewa berbeda-beda. Contohnya, cara memanen daun tidak sama dengan cara memanen buah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan petunjuk umum berikut.

1. Daun yang dipanen adalah daun yang masih segar dan tidak terkena penyakit. Daun yang dipanen sebaiknya yang sudah cukup tua. Cirinya, bentuknya paling besar dibandingkan dengan daun lain. Warnanya pun lebih gelap.

2. Buah yang dipanen adalah buah yang sudah benar-benar matang dan sehat atau tidak terkena penyakit. Cirinya, tampak segar, tidak memiliki cacat sekecil apa pun, dan berwarna merah marun.

3. Biji yang diambil untuk obat adalah biji dari buah yang sudah benar-benar matang tadi.

4. Khusus untuk tujuan pengobatan kanker dan lever petiklah buah yang masih berwarna hijau namun cukup tua, tandanya warna buah hijau tua.

5. Batang. Batang yang diambil adalah batang yang sudah cukup umur. Cirinya, warna cokelatnya lebih banyak daripada warna hijaunya.

Mahkota Dewa

In Tanaman Herbal Kategori M on December 15, 2007 at 11:40 am

 mahkotadewa.jpg

MAHKOTADEWA

Sebagian ahli botani menamai mahkota dewa berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria papuana Warb. var. Wichannii (Val.) Back. Namun, sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran buahnya yang besar-besar (makro), yaitu Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Sebutan atau nama lain untuk mahkota dewa cukup banyak. Ada yang menyebutnya pusaka dewa, derajat, mahkota ratu, mahkota raja, trimahkota. Di Jawa Tengah, orang menyebutnya dengan nama makuto mewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat. Nama ini diberikan karena pohon ini mampu mengobati aneka penyakit. Sementara itu, orang Cina lebih suka menyebutnya pau yang berarti obat pusaka. Tidaklah mengejutkan jika beberapa orang pun menginggriskan namanya menjadi the crown of god.

Nama-nama lain yang sangat bagus itu umumnya dimunculkan berdasarkan khasiat yang dikandung pohon ini. Nama-nama lain itu juga mengandung daya tarik. Begitu hebatnya daya tarik itu sampai-sampai negara lain pun sudah meliriknya. Ini terbukti dengan adanya pesanan ekspor pohon mahkota dewa ke Singapura. Pesanan ini memang tidak dipenuhi karena sayang sekali kalau sampai negara lain yang mengembangkannya, bahkan lalu mematenkannya.

Meskipun banyak yang memberikan nama berkonotasi bagus kepada pohon ini, ada juga orang yang memberikan nama berkonotasi sebaliknya. Contohnya, di Depok, Jawa Barat, nama lain mahkota dewa adalah buah simalakama. Walaupun cukup mengagetkan, sebutan ini sebetulnya cukup beralasan. Soalnya, bagi penderita suatu penyakit, jika dimakan melebihi takaran, buah mahkota dewa akan menyebabkan efek negatif yang tidak diharapkan, dari sariawan hingga pusing dan mual-mual. Namun, jika tidak dimakan, penyakitnya malah mungkin tidak bisa disembuhkan. Memang, dalam mengonsumsi buah ini, dosis yang benar-benar tepat harus diperhatikan.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti sakit lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, tekanan darah tinggi, lemah syahwat dan ketagihan narkoba) dan penyakit ringan (seperti eksim, jerawat, dan luka gigitan serangga) bisa disembuhkan dengan pohon ini. Mahkota dewa bisa digunakan sebagai obat dalam, dengan cara dimakan atau diminum, dan sebagai obat luar, dengan cara dioleskan atau dilulurkan. Melihat begitu banyak penyakit yang bisa disembuhkannya, sebutan pusaka para dewa memang layak disematkan untuk pohon ini.

Kaya Kandungan Kimia

            Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas itu diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung polifenol.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.

            Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang berat sampai yang sepele. Kasus Tuti di atas hanyalah salah satu contoh. Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa orang dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

Pembudidayaan Mahkota Dewa

Bagian-bagian Pohon

            Pohon mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20  tahun.

            Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batangnya ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Batang ini secara empiris terbukti bisa mengobati penyakit kanker tulang.

            Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong-langsing-memanjang berujung lancip. Sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih langsing. Teksturnya pun lebih liat. Warnanya hijau. Daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Permukaan bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian bawah. Pertumbuhannya lebat. Panjangnya bisa mencapai 7—10 cm, dengan lebar 3—5 cm. Daun mahkota dewa termasuk bagian pohon yang paling sering dipakai untuk pengobatan. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara merebusnya. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor.

            Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2—4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun. Warnanya putih. Bentuknya seperti terompet kecil. Baunya harum. Ukurannya kira-kira sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan. Bunga mahkota dewa belum terbukti dapat digunakan untuk pengobatan. 

            Buah mahkota dewa merupakan ciri khas pohon mahkota dewa. Bentuknya bulat, seperti bola. Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah. Penampilannya tampak menawan, merah menyala. Pada malam hari, jika terkena sinar lampu, tampak seperti berkilau. Apalagi jika sudah tua. Penampilan buah mahkota dewa memang tampak merangsang selera untuk memakannya. Namun, hati-hati. Memakannya berarti harus bersiap-siap untuk setidaknya merasakan mabuk atau pusing. Buah ini mampu tumbuh dengan cukup lebat. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.

Saat masih muda, kulitnya berwarna hijau. Namun, saat sudah tua, warnanya berubah menjadi merah marun. Ketebalan kulit sekitar 0,5—1 mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Dalam pengobatan, kulit dan daging buah tidak dipisahkan. Jadi kulit tidak perlu dikupas dulu. Saat masih muda, rasa kulit dan daging ini sepet-sepet pahit. Namun, saat sudah tua, rasanya berubah menjadi sepet-sepet agak manis. Jika dimakan langsung akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Karenanya, tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Dianjurkan pemanfaatan kulit dan daging buah dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Kulit dan daging buah ini antara lain mampu mengobati flu, rematik, sampai kanker rahim stadium akhir. Kulit dan daging buah juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan.

Cangkang buah adalah batok pada biji. Jadi, cangkang ini bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih. Ketebalannya bisa mencapai 2 mm. Rasa cangkang buah juga sepet-sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging. Juga tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Soalnya, dapat menyebabkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Pemanfaatannya juga dianjurkan dengan cara merebusnya. Cangkang ini terbukti dapat digunakan untuk pengobatan, antara lain dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati. Seperti daun dan kulit serta daging buah, cangkang juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan. Cangkang ini lebih mujarab dibandingkan dengan kulit dan daging buah.

Seperti bentuk buahnya, biji buah juga bulat. Warnanya putih. Diameternya mencapai 2 cm. Biji ini sangat beracun. Jika tergigit akan menyebabkan lidah kaku, mati rasa, dan badan meriang. Karenanya, biji ini hanya digunakan untuk obat luar sebagai obat oles. Biji ini terbukti dapat digunakan untuk mengobati aneka penyakit kulit. Pemanfaatan biji dilakukan dengan cara mengeringkan dan menyangrainya sampai gosong.

Sangat tidak dianjurkan untuk memakan buah mahkota dewa mentah-mentah. Soalnya, akibat yang ditimbulkannya cukup serius. Di Depok pernah ada yang mencoba memakan buahnya begitu saja. Hasilnya, orang itu langsung mabuk. Di Yogyakarta juga pernah ada yang mencoba menelan bijinya mentah-mentah. Hasilnya lebih parah. Dia merasakan tubuhnya sangat panas, seperti terbakar api, dan buang-buang air terus-menerus. Namun, setelah tidur, keesokan harinya, tubuhnya terasa sangat segar. Memang, hanya orang-orang tertentu yang merasa tidak bermasalah dalam mengonsumsi mahkota dewa mentah-mentah.

Ibu-ibu yang hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Soalnya, kemampuan mahkota dewa yang bisa meningkatkan kontraksi otot rahim sangat berbahaya bagi kondisi kehamilan.

Efek yang biasanya muncul setelah mengonsumsi mahkota dewa adalah serangan rasa kantuk. Efek seperti ini normal-normal saja. Efek yang lain adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini, perbanyaklah minum air putih. Dosis mahkota dewa pun perlu dikurangi jika meminumnya lagi. Jika mabuk lagi, hentikan pemakaian sementara.

Untuk penyakit-penyakit dalam dan sangat serius seperti misalnya kanker rahim setelah mengkonsumsi Mahkota Dewa badan bisa panas dingin dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah yang berbau busuk. Hal ini merupakan proses membersihkan penyakit.  

Awalnya, selain sebagai tumbuhan obat, mahkota dewa berfungsi sebagai pohon peneduh. Karena pohon ini juga tampak indah, terutama bunga dan buahnya, banyak orang yang memfungsikannya sebagai pohon hias. Meskipun indah, pohon ini sebenarnya mengandung racun. Racun ini terutama tersimpan di dalam bijinya. Karenanya, sikap berhati-hati perlu dikembangkan dalam menanam, mengonsumsi, dan mengolah hasil pohon ini. Bahkan setelah menjadi ramuan obat sekalipun, jika pemakaiannya melebihi dosis yang dianjurkan, efek-efek negatif yang tidak diharapkan bisa tetap muncul.

Uniknya, menurut seorang peneliti dari Gajah Mada, tanaman yang beracun biasanya justru sangat bagus untuk menanggulangi tumor dan kanker ganas. Analoginya, ular kobra terkenal dengan bisanya yang sangat mematikan, tetapi darahnya sangat manjur untuk pengobatan. Sebetulnya, bukan hanya mahkota dewa yang beracun. Beberapa pohon obat lain pun beracun. Dalam buku Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, dr. Setiawan Dalimarta menuliskan dua belas pohon beracun yang manjur untuk menyembuhkan kanker. Pohon-pohon itu adalah bidara laut, tapak dara, ceguk, daun encok, jarak, kamboja merah, kayu manis cina, ki tolod, leunca, pacar air, sikas, dan tali putri. Selain itu tanaman keladi tikus juga amat beracun.

Dari Dataran Rendah sampai Dataran Tinggi

            Mahkota dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian 10—1.200 meter dpl (dari permukaan laut). Namun, pertumbuhannya paling baik jika ditanam di ketinggian 10—1.000 meter dpl.

            Sampai saat ini belum ada orang yang secara serius mengupayakan perbanyakan mahkota dewa. Salah satu sebabnya mungkin karena pembudidayaannya yang memang susah-susah gampang. Yang sudah diketahui dengan pasti, mahkota dewa bisa ditanam di tanah pekarangan atau kebun, dan bisa juga ditanam di dalam pot. Pohon ini akan tumbuh dengan sangat baik jika ditanam di tanah yang gembur dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Pohon yang ditanam di dalam pot pertumbuhannya tidak setinggi yang ditanam di kebun atau pekarangan.

Perbanyakan pohon bisa dilakukan secara vegetatif dan secara generatif. Dari sekian cara perbanyakan vegetatif, hanya pencangkokan yang telah menunjukkan keberhasilan. Dengan setek batang belum ada hasilnya.

Sebetulnya, pencangkokan agak sulit dilakukan karena batang mahkota dewa sangat bergetah. Pencangkokan baru bisa dilakukan jika batang yang dikupas sudah mulai mengering. Pencangkokan juga sebaiknya dibantu dengan krim hormon perangsang pertumbuhan akar.

Hal yang perlu dilakukan dalam mencangkok adalah memberikan tambahan air bila tak ada hujan. Kurangi cabang yang terlalu panjang dan banyak. Kurangi juga daunnya bila terlalu lebat. Dalam waktu 2—3 minggu, akar batang yang dicangkok sudah mulai tumbuh. Cangkokan bisa dipindahkan ke media penanaman setelah usianya mencapai 6 – 8 minggu

Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji. Perbanyakan dengan cara ini paling banyak dilakukan karena memang paling mudah. Kelemahannya, pertumbuhan pohon lebih lama.

Dalam perbanyakan dengan biji, mula-mula petik buah yang benar-benar sudah tua atau matang di pohon, ambil bijinya yang tersembunyi di balik cangkangnya, kemudian semaikan biji itu di tempat persemaian dengan media sekam bakar dicampur dengan kompos. Setelah bertunas, pindahkan ke media penanaman permanen, baik di pekarangan maupun di dalam pot.

Biji yang dipilih untuk disemaikan adalah biji yang benar-benar bagus. Ciri biji yang bagus adalah berisi penuh saat dipegang, keras, tidak kempes, dan tidak cacat dimakan ulat.

Saat penyemaian, perawatan yang perlu dilakukan adalah memperhatikan kelembapan medianya. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan hand sprayer atau semprotan yang lembut. Pemupukan tidak boleh menggunakan pupuk kimia karena bisa mengurangi khasiat obatnya. Yang paling aman menggunakan pupuk kompos atau pupuk kandang yang sudah tak berbau.

Tanaman dipindahkan ke media penanaman setelah berumur dua bulan atau ketinggiannya sudah mencapai 10—15 cm. Cara memindahkannya dengan melubangi bagian bawah polybag lalu memasukkannya ke lubang tanam. Setelah dipindahkan ke media penanaman permanen, perawatan yang perlu dilakukan adalah menyiraminya setiap hari dan memberikan pupuk kandang atau pupuk kompos dua minggu sekali.

Media penanaman di pekarangan atau kebun sama dengan media untuk tanaman buah pada umumnya. Media penanaman di dalam pot adalah  tanah, kompos atau pupuk kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pot yang digunakan sebaiknya berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm. Bahannya bisa dari tanah, plastik, kayu, atau kaleng.

Di samping memiliki kelemahan seperti disebut di atas, penanaman di dalam pot memiliki banyak keunggulan. Yang paling menonjol adalah penempatannya yang bisa dilakukan di mana pun. Bisa di dalam kamar, di atas kamar, di atas pagar, di atas got, atau bisa pula di atas genting. Penanamannya pun bisa dilakukan secara vertikultur. Penanaman secara vertikultur ini, di banyak negara seperti Jepang dan Cina, menyumbangkan hasil pertanian yang cukup dominan.

Dalam umur 10—14 hari sejak biji disemai, daun-daun mulai tumbuh. Bunga mulai kelihatan ketika pohon sudah berusia 8—12 bulan. Sementara itu, buah akan muncul saat pohon berusia 10—12 bulan. Buah ini akan sangat bagus pertumbuhannya jika penyiraman dilakukan dengan rutin dan teratur. Soalnya, buah mahkota dewa memerlukan banyak air.

Buah bisa dipetik saat sudah berusia dua bulan. Saat itu buah sudah matang. Cirinya, antara lain, kulit buah sudah berwarna merah marun dan berbau manis seperti aroma gula pasir. Jika sudah matang, sebaiknya buah langsung dipetik. Pemetikan jangan ditunda sebab buah bisa membusuk. Buah yang busuk kualitasnya sudah menurun. Begitu juga dengan khasiatnya. Menurut hasil penelitian, buah yang matang maupun mentah kandungannya sama. Hanya saja, jika akan dibuat menjadi minuman instan hendaknya gunakan buah yang benar-benar matang. Sebaliknya, untuk pengobatan sakit kanker, justru lebih baik memanfaatkan buah yang masih mentah dan hijau.

Pemupukan

Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkualitas, sebaiknya hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk-pupuk anorganik. Cukup gunakan pupuk organik saja. Pemakaian pupuk anorganik akan mempengaruhi kandungan kimiawi daun dan buah mahkota dewa.

Pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan cara-cara yang sederhana misalnya:

1. membusukkan sampah rumah tangga dengan membuatkan lobang di tanah, bila sudah penuh, uruk dengan tanah. Untuk mempercepat pembusukan bisa menggunakan sirup manis 3 sendok makan. Bisa juga menggunakan bakteri M-Bio.Berikan tanda ditempat tersebut, dua bulan kemudian  sampah tersebut bisa dijadikan pupuk.

2. Bila tanaman sudah berumur sepuluh bulan perlu diberikan pupuk buah yang alami buatan sendiri, yakni dengan membakar sampah organic yang kering, sekam padi atau lebih bagus lagi sampah-sampah dari daun dan ranting Mahkota Dewa. Pembakarannya jangan semua jadi abu, bila sampah atau sekam sudah nampak membara segera siram dengan air, biarkan hingga dingin.  Sebulan sekali tanah disekitar pohon di dangir atau digemburkan., taburkan sampah organic di sekitar pohon.

3. Bisa juga memanfaatkan kepala udang atau sampah ikan dan daging, tanam disekitar pohon. Untuk menghindari semut bisa memanfaatkan biji Mahkota Dewa, cengkeh dan  tembakau  yang dibuat tepung. 

           4. Keringkan tahi kambing, kotoran sapi, ayam dan kotoran hewan lainnya. Bila sudah tidak berbau, kotoran tersebut bagus untuk pupuk.

Bagian dari TOGA

            Ada yang mendefinisikan pohon atau tanaman obat sebagai pohon yang salah satu, sebagian, atau seluruh bagiannya mengandung zat atau bahan yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Bagian yang dimaksud bisa daun, batang, akar, umbi, buah, atau bunga. Dari definisi di atas, yang termasuk pohon obat yang tumbuh di Indonesia ternyata setidaknya terdiri dari 940 jenis pohon. Mahkota dewa hanyalah satu satu jenisnya.

            Dalam penanamannya, pohon-pohon obat itu bisa dibentuk menjadi suatu taman obat. Istilah yang populer untuk menyebut taman ini adalah TOGA, taman obat keluarga. TOGA ini bisa dirancang di kebun kecil, pekarangan, atau di dalam rumah. Salah satu patokan yang harus dipegang dalam merancang TOGA, terutama yang di pekarangan atau di dalam rumah, adalah faktor estetika atau keindahan taman dan rumah. Jangan sampai kehadirannya justru merusak pemandangan. Untuk itu, harus ada semacam ‘penyesuaian’ antarpohon serta antara pohon dan benda-benda lain, seperti kolam, lampu, jalan setapak, atau kandang-kandang. ‘Penyesuaian’ ini bersifat sangat relatif, tergantung pada selera pemilik.

TOGA sangat bermanfaat bagi keluarga. Selain sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan sendiri untuk menyembuhkan aneka penyakit, hasil TOGA juga bisa dijual. Sayangnya, minat masyarakat Indonesia dalam membuat TOGA masih kurang. Penyebabnya antara lain sebagai berikut.

1.      Masyarakat Indonesia terbiasa dengan hal-hal yang praktis. Harus diakui, meramu TOGA membutuhkan waktu dan sedikit pengetahuan, sedangkan obat-obatan modern bersifat sangat praktis. Kepraktisan ini juga digembar-gemborkan oleh aneka media massa melalui iklan.

2.      Kurangnya lahan untuk merancang TOGA. Padahal, ini bukan alasan. Soalnya, TOGA bisa dirancang di atas kamar sekalipun.

3.      Sulitnya mendapatkan bibit-bibit pohon obat. Memang ada beberapa pohon obat yang bibitnya sulit didapat. Namun, banyak juga yang bibitnya sangat gampang didapat.

4.      Kurangnya pemahaman akan manfaat dan cara pengolahan TOGA. Kendala ini hanya bisa diatasi dengan kesadaran sendiri untuk mencari informasi tentang manfaat dan cara mengolah atau merancang TOGA.

Dilihat dari polanya, penanaman pohon obat di TOGA ada dua cara. Pertama, penanaman secara monokultur. Artinya, satu jenis tanaman obat ditanam secara berkelompok di satu areal tanam. Kedua, penanaman secara tumpang sari. Artinya, beberapa jenis obat ditanam secara berbarengan di satu areal tanam. Kedua pola di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satu kelemahan monokultur adalah adanya kesan monoton.

Mahkota dewa bisa ditanam secara monokultur ataupun secara tumpang sari. Untuk menghindari kesan monoton, sebaiknya mahkota dewa ditanam secara tumpang sari. Mahkota dewa bisa ditanam dengan daun dewa, sambiloto, atau kumis kucing. Dalam penanaman di dalam pot, mahkota dewa bisa disandingkan dengan handeuleum, cengkaruk, atau keji beling.

Dalam menanam mahkota dewa, kehati-hatian mutlak diperlukan. Jangan sampai pohon ini dapat ‘dipermainkan’ oleh anak kecil, terlebih balita. Soalnya, bisa saja buahnya dipetik lalu coba-coba dimakan olehnya. Ini tentu sangat berbahaya.

Bibit mahkota dewa bisa diperoleh di beberapa penjual khusus bibit pohon obat-obatan. Bibit ini bisa juga diperoleh di beberapa penjual ramuan tradisional. Harganya bervariasi, tergantung pada umur pohon dan buah yang muncul. Makin tua pohon, makin mahal harganya. Pohon yang sudah berbuah juga lebih mahal daripada pohon yang belum berbuah. Pada tahun 2001, harga pohon yang belum berbuah sekitar Rp40.000. Untuk yang sudah berbuah, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. 

Pembasmian Musuh Alami

            Mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Pemberantasan hama ini jangan menggunakan pestisida sebab racun atau residu pestisida dapat menempel dan tertinggal di bagian-bagian pohon. Dikhawatirkan residu ini terbawa atau tidak hilang ketika mahkota dewa diracik menjadi obat-obatan. Akibatnya, alih-alih menyembuhkan, malah penyakit tambahan yang didapat.

Pembasmian musuh alami ini sebaiknya menggunakan pestisida buatan sendiri yang terbuat dari campuran tembakau, mamba, lengkuas, serai, sabun colek, daun sambiloto, brotowali, bawang putih, dan biji srikaya yang dihancurkan. Jika tidak semuanya tersedia, beberapa bahan bisa diabaikan. Bahkan, jika susah mendapatkan semua bahan di atas, biji mahkota dewa itu sendiri bisa dipergunakan untuk membasminya.

Contoh formula untuk membuat pestisida:

- daun mimba   8 kg
- lengkuas        6 kg
- serai              6 kg
- sabun colek   20 gr
- air                 20 lt

Cara membuatnya sebagai berikut. Tumbuk-haluslah daun mimba, lengkuas, dan serai. Campurkan. Masukkan campuran tersebut ke dalam ember besar. Tambahkan 20 liter air. Aduk sebentar, lalu diamkan selama 24 jam. Keesokan harinya, saringlah dengan kain halus. Masukkan sabun colek yang telah dilarutkan dengan sedikit air ke dalam campuran. Setelah itu, tambahkan lagi 60 liter air. Sebaiknya air yang digunakan adalah air panas atau air hangat. Penggunaan air panas atau hangat ini akan memperbesar kelarutan bahan aktif dalam air sehingga pestisida akan bekerja lebih cepat.

            Cara mengaplikasikan pestisida buatan itu adalah dengan langsung menyemprotkannya pada hama pengganggu, baik yang sendiri maupun yang berkelompok. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif akibat teriknya matahari. Frekuensi penyemprotan umumnya dilaksanakan dua sampai tiga kali dengan selang waktu tiga hari.

Pemanenan

            Dalam memanen mahkota dewa, perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen. Soalnya, cara memanen setiap bagian pohon mahkota dewa berbeda-beda. Contohnya, cara memanen daun tidak sama dengan cara memanen buah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan petunjuk umum berikut.

1.      Daun yang dipanen adalah daun yang masih segar dan tidak terkena penyakit. Daun yang dipanen sebaiknya yang sudah cukup tua. Cirinya, bentuknya paling besar dibandingkan dengan daun lain. Warnanya pun lebih gelap.

2.      Buah yang dipanen adalah buah yang sudah benar-benar matang dan sehat atau tidak terkena penyakit. Cirinya, tampak segar, tidak memiliki cacat sekecil apa pun, dan berwarna merah marun.  

3.      Biji yang diambil untuk obat adalah biji dari buah yang sudah benar-benar matang tadi.

4.      Khusus untuk tujuan pengobatan kanker dan lever petiklah buah yang masih berwarna hijau namun cukup tua, tandanya warna buah hijau tua.

5.      Batang. Batang yang diambil adalah  batang yang sudah cukup umur. Cirinya, warna cokelatnya lebih banyak daripada warna hijaunya.

Jombang

In Tanaman Herbal Kategori J on December 15, 2007 at 11:35 am

 jombang.jpg

JOMBANG

Nama latin: Taraxacum officinale

Nama daerah: Taraksakum; Tarsakum

Deskripsi tanaman: Terna menahun, tinggi 10-25 cm, seluruh bagian tumbuhan mengandung cairan, seperti susu. Daun berkumpul membentuk roset akar, bagian pangkal rebah menutup tanah. Daun tunggal, berbentuk lanset, sungsang, ujung runcing, pangkal menyempit menyerupai tangkai daun, tepi bergerigi tidak teratur, kadang berbagi sangat dalam, panjang 6-15 cm, lebar 2-3,5 cm, berwarna hijau dilapisi rambut halus berwarna putih. Bunga tunggal bertangkai panjang yang dilapisi rambut halus berwarna putih, berkelamin dua. Mahkota bunga berwarna kuning, diameteer 2,5-3,5 cm. Buahnya berbentuk tabung, berwarna putih. Akarnya panjang, tunggal dan bercabang.

Habitat: Tumbuh liar di lereng gunung, tanggul, dan sisi jalan daerah berhawa sejuk pada dataran sampai 900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Herba

Kandungan kimia: Taraxasterol; Taraxacerin; Taraxarol; Kholine; Inulin; Peklin; Asparagin; Lutein Violaxanthin; Tanin; Kalsium; Silikon; Sulfur; Vitamin; Karotenoid

Khasiat: Diuretik; Stomakik; Hipoglikemik; Antitoksik

Nama simplesia: Taraxaci Herba


Resep tradisional: 
 
Kanker:
Herba jombang 50 g; Air 300 ml, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum pagi dan sore
 
Kaki bengkak:
Herba jombang 100 g; Minyak kelapa 50 ml, Ditumbuk sampai halus , Dibalur pada bagian yang bengkak 3-4 kali sehari

Jeruk Nipis

In Tanaman Herbal Kategori J on December 15, 2007 at 11:34 am

 jeruknipis.jpg

JERUK NIPIS

Nama latin: Citrus aurantifolia (christm)suringle

Nama daerah: Kalangsa; Jeruk nipis; Jeruk pecel; Jeruk alit; Kuputangan; Limo

Deskripsi tanaman: Tumbuhan perdu yang bercabang banyak, tingginya 6 m, daunnya berbentuk bulat-telur, bunganya berbentuk bintang, warnanya putih. Buahnya bulat rata dan berkulit tipis, warnanya hijau kekuning-kuningan kalau sudah tua.

Habitat: Banyak ditanam di pekarangan dan di kebun.

Bagian tanaman yang digunakan: Buah

Kandungan kimia: Asam sitral; Minyak atsiri; Linna; Lisasetat; d-limonen; L-linaliol; Dihidrokumarinalkohol; Terpenool; Pinen; Kamfen

Khasiat: Ekspektoran

Nama simplesia: Citri aurantifoliae Fructus

Resep tradisional: 
 
Batuk:
Jeruk nipis(peras)1 buah; Kecap/madu sama banyak dengan perasan jeruk nipis, Dicampur hingga rata, Diminum sehari 2 kali; pagi dan sore; tiap kali minum 1 ramuan.
 
Demam:
Daun jeruk nipis segar 5 helai; daun sembung segar 3 helai; Daun prasman segar 5 helai; Air 115 ml, Diseduh atau dipipis, Diminum 1 hari sekali 100 ml; apabila dipipis diminum 1 hari sekali 1/4 cangkir; diulang selama 4 hari.
 
Nyeri tenggorokan:
Jeruk nipis 1 iris; Kapur sirih sedikit, Jeruk nipis diolesi kapur sirih kemudian dipanaskan di atas api kecil lalu peras, Diminum 2 kali sehari 1 ramuan; diulangi selama 3 hari.
 
Nyeri haid:
Jeruk nipis 1 buah; Kapur sirih 2 jari; minyak kayu putih secukupnya, Peras buah jeruk nipis; kemudian tambahkan kapur sirih dan minyak kayu putih kemudian diaduk sampai tercampur, Dioleskan pada perut.

Jeruk Kikit

In Tanaman Herbal Kategori J on December 15, 2007 at 11:32 am

 jerukkingkit.jpg

JERUK KIKIT

Nama latin: Triphasia trifolia p.Wills

Nama daerah: Jeruk kingkit; Liman kiah; Liman kunci; Kalijage; Jheruk rante

Deskripsi tanaman: Perdu tegak, lemah, tinggi 1,5-2,5 m ranting pada ujung membengkok kesana-kemari, duri dua dua terkumpul dalam ketiak daun. Daun menjari berbilangan 3, anak daun oval dengan ujung melekuk ke dalam, ukuran 1,5-4,5 kali 1-3 meter. Bunga terkumpul 1-4 dalam ketiak daun bermahkota 3 lembar berwarna putih, panjang 12-16 mm, berwarna merah, daging buah berupa cairan yang lekat.

Habitat: Tumbuh di pekarangan rumah dan di ladang pada ketinggian 1-500 m dpl.

Bagian tanaman: Daun ; Buah

Kandungan kimia: Coumarins; Isomeranzin; Umbelliferone; Tripasiol atau 7 – (3-methyl-2,3 dihyroxybutyloxy)-8-(3-methyl-2-oxobuthyl); Coumarin

Khasiat: Antidiare; Ekspektoran

Nama simplesia: Citri Folia

Resep tradisional: 
 
Diare:
Daun jeruk kikit 7 lembar; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih selama 15 menit, Diminum 3-4 kali sehari.
 
Obat Batuk:
Buah jeruk kikit matang 10 buah, bijinya dibuang; Gula jawa 200 g; Air 300 ml, Ramuan direbus sampai mendidih, Diminum 3 kali sehari.

Jati Belanda

In Tanaman Herbal Kategori J on December 15, 2007 at 11:30 am

 jatibelanda.jpg

JATI BELANDA

Nama latin: Guazuma ulmifolia Namk          Famili :   Sterculiaceae

Nama daerah: Jati londo; Jati sabrang

Deskripsi tanaman: Tanaman pohon, tinggi lebih kurang 10 meter. Batang keras, bulat, permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hitam.

Habitat: Tumbuh liar di hutan pada ketinggian 700-1200 dpl.

Bagian tanaman yang digunakan:  Daun ; Kulit kayu ; Buah

Kandungan kimia: Tanin; Lendir; Zat pahit; Damar

Khasiat: Diaforetik; Tonik; Astringen

Nama simplesia: Guazumae Folium

Resep tradisional: 
 
Kegemukan:
Daun jati belanda 7 helai; Daun tempuyung 7 helai; Serbuk majakan sedikit; Air 115 ml, Direbus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 30 hari.
 
Perut kembung:
Buah jati belanda (serbuk)2 sendok teh; Air mendidih 100 ml; Minyak adas (bila perlu)1 tetes, Diseduh, Diminum 2 kali sehari; pagi; sore; tiap kali diminum 100 ml; diulang selama 7 hari

Jarong

In Tanaman Herbal Kategori J on December 15, 2007 at 11:29 am

 jarong.jpg

JARONG

Nama latin: Stachytarpheta mutabilis L.

Nama daerah: Jarongan; Pecut Kuda; Ngadi rengo; Jarong lalaki; Daun Sangketan; Nyarang

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, tegak, tinggi 20-90 cm. Batang berkayu, bulat, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat telur, ujung runcing, tepi beringgit, pangkal meruncing, panjang 4-9 cm, lebar 2,5-5 cm, pertulangan menyirip, berbulu, warna hijau. Bunga majemuk bentuk bulir, tangkai pendek, mahkota bentuk tabung, bagian dalam berambut putih, warna ungu. Buah bentuk bulir, buah muda berwarna hijau setelah tua berwarna hitam.

Habitat: Tumbuh liar di ladang pada daerah yang teduh di dataran rendah sampai 900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Glikosida; Skakitarfen; Alkaloid

Khasiat: Pembersih darah; Antiradang; Diuretik

Nama simplesia: Stachytarphetae Folium


Resep tradisional: